HUT ke-18 ASSPI: Dari Dinamika ke Dedikasi Nyata untuk Negeri

Oleh: Buralimar (Wakil Ketua I ASPPI Kepri)
Memasuki usia ke-18, Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia berada pada fase “remaja akhir” dalam perspektif Organizational Life Cycle Greiner—sebuah tahap yang ditandai dengan semangat growth through collaboration.
ASSPI bukan organisasi instan yang lahir besar dengan janji manis.
Ia tumbuh secara organik bercabang, bertunas, berbunga, hingga berbuah. Proses itu menyatu dalam satu napas, satu frekuensi, dan satu visi.
Dalam ilmu manajemen, inilah yang disebut sebagai organizational alignment.
Dinamika internal yang penuh perbedaan, diskusi hangat, hingga tarik-ulur gagasan justru menjadi ruang pembelajaran. Seperti diungkapkan Peter Drucker, “budaya memakan strategi untuk sarapan.”
Dari dinamika itulah, budaya organisasi ASSPI terbentuk kuat, adaptif, dan tahan uji.
Ujian sebagai Jalan Menuju Kematangan
Kematangan organisasi tidak datang tanpa ujian. Teori Organizational Resilience dari Karl E. Weick dan Kathleen M. Sutcliffe menegaskan bahwa organisasi baru diakui matang setelah melewati berbagai peristiwa disruptif.
ASSPI hidup di tengah lanskap pariwisata yang penuh ketidakpastian—volatile, uncertain, complex, ambiguous (VUCA).
Dalam situasi seperti ini, setiap detik menjadi berharga. Tidak ada ruang untuk berdiam diri.
Di sinilah jati diri ASSPI sebagai tourism soldier diuji. Semangat esprit de corps—loyalitas terhadap misi yang lebih besar daripada kepentingan individu menjadi fondasi utama.
ASSPI memilih menjadi pelaku, bukan sekadar penonton dalam industri pariwisata.
Energi Muda, Tanggung Jawab Besar
Usia 18 adalah masa transisi dari idealisme menuju akuntabilitas. ASSPI kini berada pada fase itu: energi besar berpadu dengan tuntutan tanggung jawab yang semakin nyata.
Dalam perspektif manajemen strategis, ASSPI berlayar dengan tiga kompas utama:
Komitmen Kuat: Tujuan yang jelas dan menantang mendorong kinerja maksimal (goal commitment).
Konsistensi Strategis: Menjaga kesinambungan antara visi, kebijakan nasional, dan aksi nyata, sebagaimana ditegaskan Henry Mintzberg.
Kolaborasi Kental: Menghidupkan model pentahelix—sinergi antara akademisi, bisnis, komunitas, pemerintah, dan media.
Menghadapi tantangan ibarat mengarungi lautan yang kadang “mencekam”.
Namun dengan kepemimpinan yang adaptif dan navigasi yang tepat, ASSPI tetap menjaga arah menuju tujuan besar: kemajuan pariwisata Indonesia.
“Bisa, Harus Bisa, Pasti Bisa” Bukan Sekadar Slogan
Tagline ASSPI bukan sekadar kata-kata. Ia adalah collective self-efficacy keyakinan bersama bahwa organisasi mampu menghadapi setiap tantangan.
Bisa: Kemampuan beradaptasi terhadap disrupsi digital dan perubahan perilaku wisatawan.
Harus Bisa: Dorongan urgensi untuk bertindak nyata, seperti konsep John Kotter.
Pasti Bisa: Tekad strategis yang terarah, sebagaimana konsep strategic intent dari Gary Hamel dan C. K. Prahalad.
Pariwisata adalah Kerja Kolektif
Seperti pesan Joop Ave, pariwisata adalah people business.
Ia tumbuh dari kolaborasi, bukan kerja sendiri.
Semangat itu sejalan dengan pemikiran Mohammad Hatta: Indonesia tidak akan besar hanya dari pusat, tetapi dari kontribusi daerah.
ASSPI hadir sebagai simpul yang menghubungkan semuanya—dari pelaku kecil di desa hingga jaringan industri global.
Mengabdi Bukan Romantika, Tapi Realita
Mengabdi bagi negeri bukan sekadar narasi indah.
Ia adalah kerja nyata—keringat dalam negosiasi, disiplin dalam peningkatan SDM, inovasi dalam paket wisata, hingga advokasi kebijakan.
Di usia ke-18, ASSPI bukan lagi organisasi yang mencari jati diri. Ia telah tumbuh menjadi entitas yang memikul tanggung jawab besar.
Selamat HUT ke-18 ASSPI.
Teruslah tumbuh, tetap membumi, dan pastikan setiap langkah adalah bakti.
Karena pariwisata maju bukan hasil kerja satu pihak, melainkan buah dari ekosistem yang percaya:
Bersama ASSPI, Indonesia Bisa, Harus Bisa, Pasti Bisa. ***
(Batam, 11 April 2026)


