KKSS Kepri dan Rindu yang Tak Pernah Putus dari Kampung Halaman

TANJUNGPINANG – Di tepian Pantai Sejiwa, Dompak, Minggu itu terasa berbeda.
Angin laut berembus pelan, namun suasana terasa hangat oleh kehadiran ratusan perantau Sulawesi Selatan yang berkumpul dalam satu ikatan persaudaraan.
Bagi mereka, rantau bukan sekadar tempat mencari penghidupan.
Ia adalah ruang baru yang menuntut keteguhan untuk tetap menjadi diri sendiri menjaga budaya, merawat nilai, dan mempertahankan identitas di tengah keberagaman Kepulauan Riau.
Melalui kegiatan silaturahmi yang digagas Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS), kerinduan terhadap kampung halaman seolah menemukan jalannya. Tidak ada sekat.
Semua larut dalam suasana akrab—dari yang tua hingga generasi muda, dari tokoh hingga keluarga sederhana.
Ketua BPW KKSS Kepri, Ady Indra Pawennari, menyebut bahwa kekuatan komunitas ini terletak pada kemampuannya menjaga kebersamaan di mana pun berada.
“Di rantau, kita justru harus lebih solid. Karena di sinilah identitas kita diuji,” ujarnya.
Baginya, KKSS bukan sekadar wadah berkumpul, melainkan ruang bertumbuh bersama. Tempat saling menopang di tengah tantangan hidup, sekaligus ruang untuk memastikan nilai-nilai leluhur tidak tergerus zaman.
Halal bihalal menjadi pembuka yang penuh makna. Tradisi ini bukan hanya soal saling memaafkan, tetapi juga mengikat kembali hubungan yang mungkin sempat renggang.
Dari sana, suasana berubah menjadi santai. Percakapan mengalir tentang budaya Bugis-Makassar, bahasa daerah, hingga cerita masa kecil di kampung halaman.
Di sela itu, hidangan khas tersaji. Aroma masakan tradisional menghadirkan sensasi nostalgia sebuah pengalaman sederhana yang mampu menghadirkan “rumah” di tempat yang jauh.
Kemeriahan pun tak terelakkan saat doorprize dibagikan. Sorak sorai, tepuk tangan, dan tawa lepas menciptakan suasana yang hidup. Kebahagiaan terasa begitu dekat, begitu nyata.
Ketua BPD KKSS Tanjungpinang, Suardi, melihat momen ini sebagai bukti bahwa solidaritas warga Sulawesi Selatan di rantau tetap terjaga.
“Silaturahmi seperti ini adalah kekuatan kita,” ungkapnya.
Namun pertemuan ini tidak hanya berhenti pada nostalgia. Hadirnya Lis Darmansyah membawa perspektif yang lebih luas: bahwa komunitas memiliki peran strategis dalam pembangunan daerah.
Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara KKSS dan pemerintah, khususnya di Tanjungpinang.
“Harus ada kontribusi nyata. KKSS bisa menjadi jembatan antara masyarakat dan program pemerintah,” ujarnya.
Acara ini turut dihadiri Wakil Ketua BPD KKSS Kabupaten Bintan, Hamrudin, Ketua Kerukunan Ibu-ibu Sulawesi Selatan (KISS) Kepri, Andi Julaiha, Ketua Ikatan Wanita Sulawesi Selatan (IWSS) Kepri, Nenny Dwiyanna Nyayang, Ketua IWSS Tanjungpinang dan Bintan, menunjukkan soliditas warga Sulawesi Selatan di wilayah ini.
L
Hadir pula Wali Kota Tanjungpinang, Lis Darmansyah, yang menyampaikan pesan strategis tentang pentingnya peran komunitas dalam pembangunan daerah.
Ia mengingatkan bahwa wilayah Kepulauan Riau memiliki sejarah panjang sebagai kawasan kerajaan Melayu yang menjaga wilayahnya dengan kuat. Kini, tantangannya adalah bagaimana semangat itu diterjemahkan dalam pembangunan modern.
“Sekarang bagaimana keluarga besar KKSS ini bisa berkolaborasi dengan Pemerintah Kota Tanjungpinang untuk membangun kota ini ke depan,” ujarnya.
Menurutnya, halal bihalal tidak boleh berhenti pada seremoni.
“Harus ada rumusan. Bagaimana KKSS ini bisa berperan aktif, menjadi satu kesatuan dalam menjaga dan ikut membangun Kota Tanjungpinang,” katanya.
Lis juga menyoroti minimnya keterwakilan warga Sulawesi Selatan dalam lembaga legislatif di tingkat kota Tanjungpinang.
“Ke depan, harus dipersiapkan kader-kader KKSS. Baik di pemerintahan maupun di legislatif. Kita tidak boleh hanya menjadi penonton,” tegasnya.
Ia mendorong agar kader-kader tersebut disiapkan lintas partai, sehingga mampu berperan dalam menentukan arah kebijakan daerah.
Selain itu, ia menekankan pentingnya peran organisasi sebagai jembatan antara masyarakat dan pemerintah, terutama dalam program-program sosial.
“Tahun ini ada sekitar 1.200 rumah tidak layak huni yang akan dibangun. Banyak masyarakat kita di pesisir. Di sinilah KKSS harus hadir—menjembatani, agar mereka yang membutuhkan bisa tersentuh program pemerintah,” jelasnya.
Menurutnya, KKSS harus menjadi organisasi yang inklusif dan memberi manfaat nyata.
“Kalau kita hanya berkumpul setiap tahun tanpa manfaat langsung, maka momentum ini harus kita ubah. KKSS ini milik kita semua,” katanya.
Lis juga mendorong lahirnya kader-kader dari KKSS yang mampu berperan di ruang-ruang pengambilan keputusan, baik di pemerintahan maupun legislatif. Baginya, keterlibatan aktif adalah langkah penting agar komunitas tidak hanya menjadi penonton.
Sementara itu, suara perempuan menguat melalui Nenny Dwiyanna Nyanyang.
Ia menegaskan bahwa perempuan memiliki peran sentral dalam menjaga keberlanjutan budaya.
“Budaya itu hidup dari rumah,” katanya.
Menurutnya, dari keluarga lah nilai-nilai diwariskan kepada generasi berikutnya. Dari kebiasaan kecil, dari pendidikan sehari-hari, hingga cara membangun keharmonisan dalam rumah tangga.
Menjelang sore, matahari mulai meredup.
Namun kehangatan yang tercipta di Pantai Sejiwa tidak ikut tenggelam. Sebagian peserta masih bertahan, menikmati sisa waktu bersama, seolah enggan mengakhiri hari.
Dari Dompak, sebuah pesan sederhana namun kuat mengemuka: sejauh apa pun melangkah, akar tidak boleh ditinggalkan.
Karena bagi para perantau itu, rumah bukan hanya tempat. Ia adalah rasa—yang terus hidup dalam kebersamaan, dalam budaya, dan dalam persaudaraan yang tak lekang oleh jarak. (as]


