BATAM

MENUNDUKKAN EGO PURNA BAKTISeni Berdamai dengan Masa Lalu, Menebar Manfaat di Sisa Usia

Oleh: Buralimar
Pensiunan PNS

Ada satu momen yang hampir selalu menggetarkan hati seorang aparatur sipil negara.

Bukan ketika menerima surat pengangkatan pertama, bukan pula saat memperoleh promosi jabatan, melainkan ketika Surat Keputusan (SK) pensiun berada di tangan.

Selembar kertas itu menandai berakhirnya perjalanan panjang dalam birokrasi sekaligus membuka pintu menuju kehidupan yang sama sekali baru.

Bagi sebagian orang, masa purna bakti dijalani dengan lapang dada. Namun, tidak sedikit yang merasa kehilangan panggung kehidupan.

Jabatan telah selesai, ruang kerja telah berganti pemilik, telepon yang dulu tak pernah berhenti berdering kini sunyi. Di titik itulah ego sering kali berbicara lebih keras daripada nurani.

Masa pensiun sesungguhnya bukan akhir dari pengabdian, melainkan awal dari pengabdian yang lebih murni. Jika dahulu seseorang mengabdi karena amanah jabatan, kini saatnya mengabdi tanpa atribut, tanpa fasilitas, tanpa kewenangan. Justru di sanalah ketulusan diuji.

Sayangnya, tidak semua orang mampu berdamai dengan masa lalu. Ada yang terus mengulang kisah kejayaannya, merasa dirinya paling berjasa, paling berhasil, dan paling memahami segala hal. Setiap pertemuan menjadi ruang nostalgia tentang jabatan yang pernah diemban.

Tanpa disadari, ia sedang terjebak dalam romantisme kekuasaan yang telah berlalu.

Padahal, orang-orang di sekelilingnya mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya.

Mereka ingat bagaimana ia memimpin, bagaimana ia memperlakukan bawahan, apakah ia membuka ruang dialog atau justru menutup telinga terhadap kritik. Jabatan memang bisa berakhir, tetapi jejak sikap akan tetap hidup dalam ingatan banyak orang.

Karena itu, masa purna bakti adalah waktu terbaik untuk bercermin. Bukan menghitung berapa banyak penghargaan yang pernah diterima, melainkan bertanya dengan jujur kepada hati: sudahkah amanah itu dijalankan sebaik-baiknya?

Adakah hati yang pernah terluka oleh ucapan kita? Adakah hak orang lain yang pernah kita abaikan? Adakah kesempatan berbuat baik yang dulu kita lewatkan?

Keberanian mengakui kekurangan bukanlah tanda kelemahan. Sebaliknya, itulah bentuk kematangan jiwa. Penyesalan yang lahir dari hati yang tulus jauh lebih bernilai daripada seribu cerita tentang kehebatan diri.

Dalam Islam, ukuran kemuliaan manusia sangat sederhana. Rasulullah bersabda:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
(HR. Ath-Thabrani, dihasankan oleh Al-Albani).

Hadis ini menjadi pengingat bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh pangkat terakhir yang pernah disandang, melainkan oleh manfaat yang terus ia berikan kepada sesama.

Jabatan hanyalah sarana, bukan tujuan.
Begitu pula dengan rezeki, kedudukan, dan berbagai kemudahan yang pernah dinikmati saat masih aktif bekerja. Semuanya adalah titipan Allah. Sebagaimana firman-Nya:
“Dan Allah melebihkan sebagian kamu atas sebagian yang lain dalam hal rezeki.”
(QS. An-Nahl: 71)

Kelebihan itu bukan alasan untuk menyombongkan diri, melainkan amanah untuk disyukuri. Allah bahkan menjanjikan tambahan nikmat bagi hamba yang bersyukur sebagaimana firman-Nya dalam QS. Ibrahim ayat 7.
Maka, seni menundukkan ego di masa purna bakti adalah seni mengalihkan orientasi hidup.

Jika dahulu waktu habis untuk rapat, kini luangkan waktu menemani keluarga. Jika dahulu sibuk menandatangani berkas, kini sibuklah memakmurkan masjid, menjenguk tetangga yang sakit, membantu mereka yang kesulitan, membimbing generasi muda, atau sekadar menjadi pendengar yang baik bagi sahabat.

Pengabdian tidak pernah pensiun. Yang pensiun hanyalah jabatan.
Justru setelah tidak lagi memiliki kekuasaan formal, seseorang memiliki kesempatan menjadi manusia yang benar-benar bebas berbuat baik tanpa kepentingan apa pun.

Tidak ada lagi target jabatan, tidak ada lagi penilaian kinerja, tidak ada lagi kompetisi karier. Yang tersisa hanyalah kesempatan mengumpulkan amal sebagai bekal menuju kehidupan yang kekal.

Pada akhirnya, kemuliaan seorang pensiunan tidak ditentukan oleh seberapa tinggi jabatannya dahulu, tetapi oleh seberapa besar manfaat yang masih ia tebarkan hari ini.

Hormat tidak perlu diminta, sebab penghormatan akan datang dengan sendirinya kepada mereka yang rendah hati.

Nama baik tidak dibangun oleh pidato tentang masa lalu, melainkan oleh keteladanan pada masa kini.
Mari menjalani masa purna bakti dengan hati yang lapang.

Berdamai dengan masa lalu, mengakui kekurangan, memohon ampun atas segala kealfaan, lalu melanjutkan pengabdian dengan ikhlas semata-mata mengharap rida Allah SWT.

Sebab, kebahagiaan sejati bukan lagi tentang mencari panggung atau pujian manusia, melainkan tentang menjadi pribadi yang terus memberi manfaat hingga akhir hayat. (*)

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *