BUDAYA

Ini Lah Tahun Perkiraan Lahirnya Jamita Mangaraja Situmeang

MUNCUL satu pertanyaan dari anak remaja berusia 15 tahun yang menanyakan, tahun berapa Jamita Mangaraja Situmeang lahir?

Sulit memberikan jawaban yang pasti untuk pertanyaan ini. Namun, kita bisa sampaikan pemahaman kemungkinan di tahun berapa Jamita Mangaraja Situmeang.

Mari kita mulai dari keturunannya yang kini sudah 18 generasi. Bahkan, tidak tertutup kemungkinan sudah ada generasi no.19.

Penulis sendiri pernah bertemu dengan seorang marga Situmeang (Juara Tua No.16) tahun 2001. Waktu itu kami berada di salah satu rumah sakit di Medan untuk menjaga orang sakit.

Dari pembicaraan waktu itu, dia menjaga cucunya yang sudah Kelas VI. Artinya, cucunya generasi ke-18. Usia sang cucu di tahun 2026 ini sekitar 36-37 tahun. Jika menikah dan punya anak, maka sudah ada generasi ke-19. Tapi ini perkiraan.

Jadi, penulis cukup menjadikan generasi ke-18 sebagai patokan untuk memperkirakan berapa usia Jamita Mangaraja Situmeang hingga tahun 2026 ini. Maka, dari angka itu kita bisa perkirakan tahun lahirnya.

  1. Jika setiap anak atau generasi menikah di usia 30 tahun, maka (jika) Jamita Mangaraja Situmeang masih hidup hingga tahun 2026 ini, usianya mencapai 540 tahun. Atau lahir sekitar tahun 1486.
  2. Jika setiap anak atau generasi menikah di usia 25 tahun, maka (jika) Jamita Mangaraja Situmeang masih hidup hingga tahun 2026 ini, usianya mencapai 450 tahun. Atau lahir sekitar tahun 1526.
  3. Jika setiap anak atau generasi menikah di usia 20 tahun, maka (jika) Jamita Mangaraja Situmeang masih hidup hingga tahun 2026 ini, usianya mencapai 360 tahun. Atau lahir sekitar tahun 1666.

Tidak ada data pasti di usia berapa setiap generasi menikah. Tidak ada data pasti tahun berapa Jamita Mangaraja Situmeang lahir. Kita hanya bisa memperkirakan saja.

Hal itu bisa dimaklumi. Di zaman itu (sekitar 350-540 tahun) lalu, mungkin belum ada kertas dan pena atau alat tulis kuno di tanah Batak.

Sebab, tradisi, adat, budaya, bahasa, tarombo (silsilah) Batak diturunkan lewat cerita lintas generasi. Barulah sekitar 100 tahun lalu, tulisan tentang Batak mulai dibuat lalu dibukukan.

Tidak ditemukan juga literatur atau referensi, sumber rujukan yang menuliskan tentang tahun kelahiran leluhur di tanah Batak termasuk Jamita Mangaraja Situmeang.

Penulis belum pernah juga mendengar, membaca apakah ada perkakas dapur, alat pertanian milik Jamita Mangaraja Situmeang yang ditemukan di Dolok Imun di Hutaraja Taput.

Seandainya ada temuan itu, mungkin para peneliti atau arkeolog bisa memperkirakan usianya dan dengan pola keahlian mereka, bisa memperkirakan tahun berapa Jamita Mangaraja Situmeang hidup di Dolok Imun tersebut.

Apalagi, hingga saat ini keturunannya belum pernah melihat Hinambor (kuburan) Oppung Jamita Mangaraja Situmeang. Hanya cerita yang kita tahu bahwa kuburannya ada di Dolok Imun.

Tulisan ini untuk menggugah, mengingatkan dan menambah pengetahuan kita agar tetap menceritakan kisah-kisah ini hingga turun temurun, sehingga kita ingat leluhur yaitu Jamita Mangaraja Situmeang.

Dan cerita atau kisah ini juga penulis dapatkan dari orang-orang yang lebih tua. Cerita itu saya buatkan dalam tulisan-tulisan pendek agar tidak hilang ke depannya.

Ini merupakan tulisan ke-25 tentang Situmeang maupun Siraja Naipospos. Tulisan-tulisan singkat akan terus saya buat jika mendapatkan bahan baru.

Remaja yang bertanya tentang tahun lahir Jamita Mangaraja Situmeang adalah Situmeang (Raja Lalo) No.16 yang duduk di bangku SMP Kelas 3.

Di Tanjungpinang sendiri, generasi paling muda adalah No.17 dari Oppung Raja Lalo dan sudah memiliki anak (Situmeang No.18) yang kini berusia sekitar 23-25 tahun namun belum menikah.***

Oleh : Martunas Situmeang

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *