INTERNASIONAL

MASJID QIBLATAIN


oleh : Amsakar Achmad

Hampir semua tempat di madinah menyimpan latar belakang sejarah yang menarik.

Salah satu diantaranya adalah Masjid Qiblatain. Karena pentingnya masjid ini, jemaah haji dan umroh dari berbagai negara selalu menyempatkan waktu untuk mengunjunginya. Jika tidak sampai ke sana, ibadah haji dan umroh terasa seperti belum selesai.

Alhamdulillah, hari ini saya bersama istri dapat berkunjung ke mesjid tersebut. Setelah sholat 2 rakaat tahayatul masjid, saya berbincang ringan dengan tour guide kami, ustadz Rifai.

Dikisahkan beliau soal masjid ini dinamakan Qiblatain karena dalam satu kesatuan waktu Rasullullah mengubah dua arah kiblat secara drastis 180 derajat.

Dari sebelumnya menghadap ke utara berubah total jadi menghadap ke selatan. Dari semula menghadap ke Masjid Al-Aqsa berubah jadi menghadap ke Masjidil Haram.

Pada awal Islam, Rasulullah dan para sahabat menghadap ke Baitul Maqdis (Masjid Al-Aqsa) saat shalat.

Setelah hijrah ke Madinah, beliau tetap menghadap ke Baitul Maqdis selama sekitar 16–17 bulan. Kemudian, pada tahun 2 Hijriah (624 M), menurut riwayat yang banyak dikutip dalam kitab sejarah Madinah, Rasulullah mengunjungi sahabat perempuan beliau yang bernama Ummu Basyir, ibu dari Bisyr bin al-Barra’ bin Ma’rur. Rasulullah datang untuk menghibur ibu Bisyr setelah wafat putranya, lalu ketika waktu Zuhur tiba beliau shalat bersama para sahabat di Masjid Bani Salamah yang kemudian dikenal sebagai Masjid Qiblatain.

Ketika Rasulullah sedang memimpin shalat berjamaah di masjid ini, turun firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 144 yang memerintahkan agar kiblat dipindahkan menghadap Ka’bah di Makkah.

Saat itu rasul telah melaksanakan 2 rakaat shalat zuhur. Dan tetap meneruskan sisa dua rakaat lagi dengan langsung memutar arah kiblat shalat, dan para sahabat mengikuti beliau.

Karena peristiwa itulah masjid ini dikenal sebagai Masjid Qiblatain, tempat terjadinya perpindahan dari satu kiblat ke kiblat yang lain.

Terus terang saja, saat hadir di sana dan sempat melaksanakan shalat sunat, saya benar-benar merasa ada getaran spritual yang luar biasa.

Masjid tersebut benar-benar memiliki magnet yang sangat kuat sehingga kunjungan yang kami laksanakan terasa sungguh sangat bermakna. Ya Allah, berilah rahmat-Mu kepada kami sehingga nilai spritualitas yang kami jalani selama ibadah haji ini mampu memberikan energi untuk memimpin Kota Batam yang kami cintai.***

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *