Masjid Jogokaryan: Ketika Rumah Ibadah Menjadi Rumah Singgah

Robby Patria, Pengurus Dewan Masjid Indonesia Provinsi Kepri
Pukul dua dini hari, Yogyakarta masih lelap ketika mobil Brio yang saya kendarai memasuki kawasan Jogokaryan. Rencana awal hanya singgah sebentar untuk salat.
Namun yang terlihat di depan mata mengubah rencana itu sepenuhnya: pelataran masjid sudah dipadati tamu, jauh sebelum azan subuh berkumandang.
Masjid Jogokaryan, yang selama ini dikenal lewat kisah pengelolaan zakat dan kas masjid yang terbuka, ternyata punya wajah lain yang tak kalah menarik, masjid itu menjelma jadi terminal transit bagi warga yang baru tiba di Yogya. Ini bagi yang t ahu informasi.
Hari itu saya menyaksikan sendiri bagaimana para takmir memberi ruang tanpa syarat. Tamu-tamu yang datang dari perjalanan jauh, entah dengan mobil pribadi atau rombongan bus, dipersilakan merebahkan badan di mana saja di dalam ruang utama, di teras lantai satu, bahkan hingga ke lantai dua.
Tidak ada seleksi, tidak ada pertanyaan asal-usul. Yang datang lelah, diberi tempat untuk beristirahat.
Fenomena ini punya alasan yang sangat praktis. Banyak wisatawan atau pemudik tiba di Yogya pada jam-jam sebelum waktu masuk hotel.
Sedangkan check-in hotel baru dibuka siang hari. Di titik itulah masjid mengambil peran yang jarang disadari orang: bukan sekadar tempat salat lima waktu, tapi juga ruang tunggu yang manusiawi bagi mereka yang kelelahan di jalan.
Ada momen yang menarik untuk dicatat para tamu yang tertidur pulas itu baru dibangunkan ketika azan subuh berkumandang. Bukan diusir, bukan diminta pindah lebih awal.
Takmir Masjid membiarkan mereka beristirahat penuh hingga waktu salat tiba, lalu dengan lembut mengajak mereka bangun untuk beribadah.
Ada semacam kebiasaan di masjid itu mereka memberi tempat berteduh, dan sebagai balasannya, jemaah dadakan ini pun ikut meramaikan saf subuh.
Deretan mobil pribadi dan bus yang terparkir di sekitar masjid jadi bukti nyata betapa besar peran ini. Jogokaryan bukan cuma dikenal jemaah tetapnya, tapi juga oleh mereka yang datang sekali lewat, singgah semalam, lalu melanjutkan perjalanan.
Selepas salat subuh, perjalanan berlanjut ke alun-alun Yogya untuk mencicipi soto tempurung, sajian soto yang disajikan dalam batok kelapa, bukan mangkok seperti umumnya.
Sedikit detail kuliner ini menambah warna perjalanan bahwa singgah di masjid tak cuma soal istirahat, tapi juga jadi pembuka pengalaman menikmati kekhasan kota. Sambil lari lari kecil keliling alun alun.
Selesai nyantap Soto, mobil saya tancap ke Wisma UGM dekat Jalan Colombo untuk istirahat.
Masjid Jogokaryan jauh sebelum menjadi objek foto atau viral di media sosial, sesungguhnya sudah lama menjalankan fungsi sosial yang sederhana namun besar maknanya, menjadi tempat singgah bagi siapa saja yang letih di perjalanan.*


