OPINI

Lionel Messi, Ketika Kecerdasan Mengalahkan Batas Usia

ADA satu lawan yang tak pernah bisa dikalahkan siapa pun dalam dunia olahraga: usia.

Sehebat apa pun seorang atlet, cepat atau lambat waktu akan menggerus kecepatan, kekuatan, dan daya tahan. Banyak legenda memilih pensiun ketika merasa tak lagi mampu bersaing di level tertinggi.

Namun Lionel Messi memilih jalan berbeda. Di usia 39 tahun, ia justru kembali membuktikan bahwa kualitas, kecerdasan, dan pemahaman terhadap sepak bola mampu melampaui batas fisik.

Perdebatan mengenai siapa pesepak bola terhebat sepanjang masa memang mungkin tidak akan pernah selesai. Setiap generasi memiliki idolanya sendiri.

Ada yang mengagungkan Pele sebagai raja tiga gelar Piala Dunia, ada yang memuja Diego Maradona karena magisnya di Meksiko 1986, ada pula yang menempatkan Cristiano Ronaldo sebagai simbol dedikasi, disiplin, dan naluri mencetak gol yang luar biasa.

Namun jika ukuran kebesaran mencakup bakat alami, konsistensi selama lebih dari dua dekade, prestasi individu dan kolektif, serta kemampuan bertahan di level tertinggi melawan perubahan zaman, Lionel Messi memiliki argumentasi yang sangat kuat untuk menyandang predikat Greatest of All Time (GOAT).

Kehebatan Messi tidak hanya tercermin dari delapan Ballon d’Or, puluhan trofi, atau ratusan gol yang telah ia ciptakan. Yang membuatnya benar-benar berbeda adalah kemampuannya berevolusi.

Dahulu dunia mengenal Messi sebagai penyerang mungil yang berlari melewati empat atau lima pemain lawan. Kini, ketika usia membuat kecepatannya tak lagi sama, ia berubah menjadi seorang maestro. Ia tak perlu lagi berlari sepanjang pertandingan.

Cukup beberapa sentuhan, satu umpan terobosan, atau satu keputusan tepat yang mengubah arah permainan.
Messi seolah memahami bahwa sepak bola bukan sekadar adu fisik, melainkan permainan kecerdasan.

Di Piala Dunia 2026, transformasi itu terlihat begitu jelas. Ia bermain lebih hemat energi, memilih waktu yang tepat untuk bergerak, membaca ruang sebelum orang lain melihatnya, lalu menciptakan peluang yang tidak terpikirkan pemain lain.

Semifinal melawan Inggris menjadi gambaran sempurna.
Ketika Argentina tertinggal, Messi tidak panik.

Ia mengambil alih kendali permainan, memperlambat tempo saat dibutuhkan, lalu mengirimkan dua assist yang mengubah jalannya pertandingan melalui Enzo Fernandez dan Lautaro Martinez.

Argentina berbalik menang 2-1 dan kembali mencapai final.

Sepanjang turnamen, kontribusinya juga luar biasa. Ia mencetak hattrick ke gawang Aljazair, dua gol penting saat menghadapi Austria, serta terus menjadi motor permainan Albiceleste.

Angka golnya di Piala Dunia bahkan terus bertambah hingga menempatkannya sebagai salah satu pencetak gol terbanyak dalam sejarah turnamen menurut narasi kompetisi tersebut.

Semua itu menunjukkan bahwa kualitas tidak selalu identik dengan kecepatan.
Justru ketika fisik mulai menurun, kecerdasan Messi menjadi semakin dominan.

Dalam konteks itu, perbandingan dengan Cristiano Ronaldo sering kali muncul. Namun perbandingan tersebut seharusnya tidak dimaknai sebagai upaya merendahkan salah satu pihak.
Ronaldo tetap merupakan fenomena yang luar biasa.

Lima Ballon d’Or, lima gelar Liga Champions, rekor demi rekor gol, serta profesionalisme yang menjadi teladan telah mengukuhkan dirinya sebagai salah satu pemain terbesar sepanjang sejarah..

Perbedaannya terletak pada karakter permainan.

Ronaldo membangun dominasinya di atas fondasi atletisme yang luar biasa. Sementara Messi sejak awal membangun permainannya melalui visi, teknik, kreativitas, kecerdasan membaca ruang, dan kemampuan mengambil keputusan dalam sepersekian detik.

Karena itu, ketika usia mulai mengurangi kemampuan fisik, Messi tetap mampu mempertahankan pengaruhnya terhadap permainan. Ia tidak lagi menjadi pemain yang paling cepat, tetapi tetap menjadi pemain yang paling menentukan.

Tak kalah menarik adalah tudingan lama yang menyebut Messi sebagai “anak emas FIFA”. Tuduhan tersebut sebenarnya mudah dipatahkan oleh perjalanan kariernya sendiri.

Seandainya segala sesuatu dapat diatur, tentu Messi tidak perlu menunggu bertahun-tahun untuk meraih trofi bersama tim nasional Argentina. Ia pernah menangis setelah kalah di final Piala Dunia 2014.

Ia juga merasakan pahitnya tiga kekalahan di final Copa America pada 2007, 2015, dan 2016, serta tersingkir lebih awal di Piala Dunia 2018.

Semua kegagalan itu justru menunjukkan bahwa keberhasilannya lahir dari proses panjang, bukan dari kemudahan.

Ketika akhirnya mengangkat trofi Copa America 2021, Piala Dunia 2022, Finalissima 2022, hingga Copa America 2024, itu merupakan buah dari ketekunan yang tidak pernah berhenti.
Prestasinya pun nyaris lengkap.

Di level tim nasional, Messi telah meraih Piala Dunia, Copa America, Finalissima, medali emas Olimpiade, hingga Piala Dunia U-20. Bersama klub, ia memenangkan Liga Champions, La Liga, Ligue 1, Copa del Rey, Piala Dunia Antarklub, Leagues Cup, hingga MLS Cup.

Di sisi individu, delapan Ballon d’Or menjadi simbol pengakuan dunia terhadap konsistensinya selama hampir dua dekade.

Penghargaan tersebut dipilih oleh jurnalis sepak bola dari berbagai negara, sementara penghargaan FIFA The Best memiliki mekanisme penilaian yang berbeda melalui pelatih, kapten tim nasional, jurnalis, dan suporter.
Artinya, pengakuan terhadap kehebatan Messi datang dari berbagai pihak dengan sistem penilaian yang berbeda pula.

Pada akhirnya, status Lionel Messi sebagai GOAT tidak lagi bergantung pada satu pertandingan, termasuk final Piala Dunia 2026 melawan Spanyol. Jika Argentina kembali menjadi juara, kisahnya memang akan terasa semakin sempurna. Namun jika hasil berkata lain, warisan kebesarannya tidak akan berubah..

Karena kebesaran seorang legenda tidak dibangun hanya oleh satu trofi.
Ia dibangun oleh konsistensi selama lebih dari dua puluh tahun, kemampuan beradaptasi dengan perubahan zaman, serta kemampuan menghadirkan momen-momen luar biasa ketika pemain lain telah menyerah kepada waktu.

Dan di situlah Lionel Messi memberikan pelajaran terbesar kepada dunia olahraga: bahwa usia memang tidak bisa dihentikan, tetapi kualitas sejati mampu membuat seseorang terus relevan, terus menentukan, dan terus dikenang jauh melampaui batas zamannya. (***)

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *