BATAM

Pantun Tak Sekadar Pembuka Acara, Tapi Warisan yang Menghidupkan Tanah Melayu

Tidak ada hiruk-pikuk politik, tak pula perdebatan soal media sosial atau tren digital.

Yang mengalun justru empat baris puisi lama bernama pantun sederhana, namun menyimpan lapisan makna yang dalam.

Mengusung tema “Berpantun Saat Memandu Acara di Tanah Melayu”, Bidang Diklat dan Litbang Perwara Indonesia menghadirkan tiga narasumber lintas generasi dan pengalaman: seniman-budayawan Bung Samson Rambah Pasir, MC sekaligus guru Kasmury, serta tokoh adat dan MC Melayu, Zarlis.

Pertanyaan yang mereka bahas terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya sangat mendasar: mengapa pantun masih perlu diucapkan ketika seseorang memandu acara di Tanah Melayu hari ini?

Jawabannya ternyata bukan sekadar romantisme masa lalu.
Pantun, menurut para narasumber, bukan hanya tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun.

Ia adalah jejak sejarah, teknik komunikasi, hingga alat membangun harmoni sosial yang masih relevan di tengah modernitas.

Pantun, Identitas yang Menyatukan Nusantara
Bung Samson membuka diskusi dengan mengingatkan bahwa Melayu pada mulanya bukan sekadar identitas etnis sempit seperti yang dipahami sebagian orang hari ini.

Melayu pernah dipandang sebagai bangsa bahari besar yang membentang luas di Nusantara.
Modernisasi dan administrasi negara kemudian mempersempit maknanya menjadi sekadar “suku”.

Namun budaya Melayu, terutama pantun, justru terus hidup melampaui batas-batas identitas itu.

Di Batam dan Kepulauan Riau, pantun tetap hadir dalam pernikahan, tepuk tepung tawar, hingga seremoni adat. Ia menjadi simbol kesantunan, kecerdasan, sekaligus cara masyarakat menjaga marwah dalam bertutur.

Menariknya, pantun ternyata bukan milik eksklusif Melayu. Tradisi serupa hidup di banyak daerah Nusantara.

Minangkabau mengenalnya dalam prosesi adat, Aceh memiliki panton, Betawi dengan seloka, hingga masyarakat Dayak dan Banjar yang memiliki bentuk paralelnya sendiri.
Artinya, pantun sesungguhnya adalah infrastruktur komunikasi budaya Nusantara.

Samson bahkan mengutip pemikiran yang kerap dikaitkan dengan filsuf Roland Barthes: ketika sebuah karya diterbitkan, pengarangnya “mati”, tetapi karyanya hidup di tangan masyarakat.

Begitulah pantun. Penciptanya mungkin sudah tak dikenal, namun bait-baitnya terus hidup setiap kali seseorang membuka acara, memberi nasihat, atau menyampaikan penghormatan.

Pengakuan dunia terhadap pantun semakin kuat ketika UNESCO pada 17 Desember 2020 menetapkannya sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan hasil nominasi bersama Indonesia dan Malaysia.

UNESCO menilai pantun bukan hanya alat komunikasi sosial, tetapi juga media pendidikan moral yang mengajarkan keseimbangan, harmoni, dan penghormatan antarmanusia.
Pantun Bisa Dipelajari, Bukan Sekadar Bakat

Di sesi berikutnya, Kasmury membongkar anggapan lama bahwa kemampuan berpantun hanya dimiliki orang-orang tertentu.
Menurutnya, pantun adalah keterampilan yang bisa dilatih.

Sebagai guru sekaligus MC yang lama berkecimpung di acara-acara Melayu, ia menjelaskan bahwa pantun memiliki anatomi yang jelas: sampiran sebagai pengantar suasana, isi sebagai pesan utama, serta permainan bunyi yang harus terjaga.

Sampiran, katanya, bukan sekadar tempelan. Di situlah seorang pemantun membangun kedekatan emosional dengan audiens melalui citra lokal seperti laut, pulau, angin, atau kampung halaman.

Sedangkan isi menjadi inti pesan — apakah tentang amanah, doa, penghormatan, ataupun nasihat.
Yang paling penting bukan menghafal ratusan pantun, melainkan memahami polanya.

Karena itu, metode pembelajaran pantun seharusnya berbasis praktik dan konteks. Murid perlu diajak mengamati suasana acara, menangkap kata kunci, lalu merangkainya menjadi sampiran dan isi yang selaras.

Di situlah pantun menjadi hidup dan terasa alami ketika dilantunkan seorang MC.

Pantun yang Menghidupkan Ruangan
Tokoh adat Zarlis kemudian menunjukkan bagaimana pantun bekerja dalam praktik nyata.

Beberapa pantun spontan yang ia lontarkan malam itu langsung mengubah suasana. Peserta tertawa, tersenyum, lalu terlibat lebih hangat dalam diskusi.

Pantun ternyata bukan sekadar hiasan kata.
Ia bekerja sebagai speech act — tindakan komunikasi yang mampu membuka kedekatan, memperhalus kritik, sekaligus menghadirkan keindahan dalam percakapan formal.
Dalam dunia protokol dan pembawa acara, pantun menjadi alat retorika yang unik. Ia menurunkan ketegangan, menghilangkan kekakuan bahasa birokrasi, dan membuat audiens merasa dihormati.

Bagi masyarakat Melayu, itulah sebabnya pantun tidak pernah benar-benar hilang.

Dari Panggung ke Sekolah
Talkshow Perwara Indonesia malam itu juga membawa harapan besar: pantun jangan hanya hidup di pelaminan atau seremoni adat.

Perwara mendorong agar pantun, gurindam, seloka, dan prosa Melayu masuk ke sekolah dan kampus melalui kegiatan ekstrakurikuler maupun pembelajaran budaya.

Gagasan itu sejalan dengan arah kebijakan kebudayaan nasional. Pemerintah sebelumnya juga telah mendorong integrasi pantun dalam pembelajaran bahasa Indonesia dan seni budaya sebagai bagian dari pendidikan karakter.

Sebab pantun tidak hanya mengajarkan keindahan bahasa, tetapi juga etika bertutur, penghormatan kepada sesama, serta kecintaan terhadap lingkungan dan budaya sendiri.

Dengan jaringan MC, guru, budayawan, dan komunitas adat yang dimiliki, Perwara dinilai memiliki posisi strategis untuk menjadi penggerak pelestarian pantun di tengah masyarakat modern.

Batam bahkan berpeluang menjadi laboratorium budaya nasional dalam pengembangan pembelajaran pantun berbasis praktik acara dan kehidupan sehari-hari.

Warisan yang Tidak Menunggu Museum
Pada akhirnya, talkshow itu menyisakan satu kesadaran penting: pantun bukan benda mati yang disimpan di etalase museum.

Ia adalah teknologi sosial warisan nenek moyang cara halus untuk menyampaikan kritik tanpa melukai, memuji tanpa berlebihan, dan membuka komunikasi tanpa menciptakan jarak.

Budaya, sejatinya, tidak bertahan hanya karena ditulis dalam buku. Ia hidup karena terus diucapkan kembali oleh generasi baru dalam konteks zamannya.
Dan malam itu, di Batam, pantun kembali membuktikan dirinya belum kehilangan tempat.

“Buah mangga dibelah-belah,
Campur dengan gula aren.
Jika Perwara telah turun ke sekolah,
Warisan pantun semakin keren.” (*/bs)

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *