Empat Buku

Oleh : Robby Patria, dosen Sejarah di FKIP UMRAH
Di zaman ketika semua orang bisa berkomentar, menulis buku justru menjadi tindakan paling sunyi.
Bulan Oktober 2026 baru saja berlalu, dan di meja saya menumpuk dua buku baru dan dua buku bentuk PDF karena tebalnya lebih dari 1000 halaman. Buku berjudul 81 Tahun, Meraba Masa Depan Indonesia sudah ber ISBN tentu saja sudah saya input ke Sinta untuk menambah daftar buku yang dihasilkan. Lumayan menambah Sinta skor.
Menariknya di Tanjungpinang di Oktober ini ada peluncuran tiga buku. Ditambah buku biografi Dato HUZRIN Hood berjudul “Ketika Langkah Menjadi Sejarah.”
Peluncuran buku Nusa Perca di Padang 1 November 2026, saya tidak bisa hadir. Penulis yang absen di pesta bukunya sendiri adalah komedi kecil yang hanya dipahami orang yang pernah menulis.
Keempat buku itu lahir dari ruang yang berbeda. 81 Tahun, Meraba Masa Depan Indonesia dihimpun penulis Satu Pena se-Indonesia bersama Ketua Satu Pena Denny JA, dengan Jonminofri sebagai editor. Di dalamnya saya menyumbang opini.
Kawan Awak, buku puisi yang diluncurkan 28 Oktober di Kampus UMRAH Dompak, mempertemukan dosen, penyair Kepulauan Riau, penyair Malaysia dan Singapura, hingga beberapa nama nasional.
Warkah Segala Musim terbit lewat Dinas Kebudayaan sebagai bagian dari rangkaian Festival Raja Ali Haji 2026, diluncurkan di Gedung Daerah Tanjungpinang.
Puisi saya di sana tentang seseorang yang menulis cahaya. Nusa Perca terbit 1 November di Padang, karya para pengurus Satu Pena se-Sumatera. Saya menyumbang lima puisi, satu puisi esai, satu cerpen, dan satu artikel.
Menulis buku adalah satu-satunya bentuk bicara yang menolak dipercepat. Kita bisa mengetik cuitan sambil menunggu lampu merah, tetapi tidak bisa menyelesaikan cerpen dengan cara yang sama. Buku menuntut kita duduk dengan pikiran sendiri, dan itu semakin langka.
Pramoedya Ananta Toer menyatakannya lebih tegas dan lebih terkenal daripada siapa pun: orang boleh pandai setinggi langit, tetapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dari masyarakat dan sejarah. Menulis, katanya, adalah “bekerja untuk keabadian”.
Kalimat itu terdengar megah. Namun di Dompak, melihat dosen-dosen yang biasanya sibuk dengan jurnal dan beban SKS membacakan puisi di hadapan mahasiswanya, saya mengerti bahwa keabadian yang dimaksud Pram sering kali sangat sederhana nama kita tercatat, suara kita tertinggal.
Carl Sagan pernah menyebut buku sebagai bukti bahwa manusia mampu melakukan sihir. Seorang menaruh tanda di kertas, dan berabad-abad kemudian orang lain mendengar pikirannya.
Stephen King, penulis yang jauh dari sentimental, menyebut buku sebagai sihir yang unik karena bisa dibawa ke mana-mana. Keduanya benar, dan di antologi-antologi bersama ini sihir itu bekerja dengan cara yang khas.
Seorang penyair di Batam, seorang dosen di Tanjungpinang, seorang penyair Singapura, dan seorang cerpenis dari Sumatera Barat tidak pernah duduk satu meja, tetapi halaman yang sama mengikat mereka.
Itulah yang kerap luput dari kritik terhadap buku antologi. Ia dianggap ramai tetapi dangkal. Padahal antologi adalah peta sebuah zaman. Warkah Segala Musim lahir dari festival yang menamai diri dengan Raja Ali Haji, penulis Gurindam Dua Belas yang membuktikan bahwa pulau kecil di ujung Nusantara pernah menjadi pusat gagasan. Menulis di bawah bayang-bayang nama sebesar itu bukan beban, melainkan undangan.
Tentang absen, dan tentang hadir
Soal ketidakhadiran saya di Padang, saya sempat gelisah. Namun mungkin di situlah pelajaran terbaiknya: buku tidak memerlukan penulisnya untuk hadir.
Toni Morrison pernah menasihati bahwa jika ada buku yang ingin kita baca tetapi belum ditulis, kitalah yang harus menulisnya.
Ia tidak menambahkan syarat bahwa kita juga harus hadir di peluncurannya. Buku, begitu selesai, berjalan sendiri. Itu menyedihkan sekaligus membebaskan.
Empat buku dalam satu bulan, yang ditulis bersama kawan-kawan dosen dan penyair dari berbagai pulau, mengajarkan satu hal sederhana. Di negeri yang sedang sibuk meraba masa depannya, seperti judul buku pertama tadi, menulis adalah cara paling murah untuk meninggalkan jejak bagi mereka yang datang kemudian.
Tidak perlu menunggu menjadi penyair besar. Cukup menulis, lalu membiarkan halaman-halaman itu bekerja.
Di tengah arus yang menggulir tanpa henti, barangkali kita justru perlu lebih banyak orang yang berani berhenti, menyalakan lampu meja, dan menulis cahaya. Teruslah menulis dan menulis karena itulah kerja keabadian kata Pram. ***


