Uncategorized

KEMANA SOLIDARITAS ASEAN (2)

Oleh Buralimar, Warga Batam

Di Balik Ketergantungan Ekonomi, Ada Kepentingan dan Masa Depan Bersama

Sambungan dari KEMANA SOLIDARITAS ASEAN (1).

Solidaritas ASEAN tidak semestinya hanya terlihat ketika satu negara merasa dirugikan oleh persoalan yang berasal dari negara tetangganya.

Hubungan kawasan jauh lebih luas daripada persoalan kabut asap.

Indonesia, Singapura, dan Malaysia memiliki keterkaitan ekonomi yang saling memengaruhi, mulai dari energi, perdagangan, investasi, industri, pariwisata, pendidikan, teknologi, hingga keamanan kawasan.

Karena itu, setiap persoalan seharusnya ditempatkan dalam kerangka hubungan jangka panjang, bukan dilihat secara sepihak.

Singapura merupakan salah satu mitra penting Indonesia dalam bidang energi. Selama bertahun-tahun, gas bumi dari Indonesia menjadi bagian dari pasokan energi Singapura.

Mulai 24 Oktober 2026, Indonesia memangkas ekspor gas melalui pipa sebesar 31 juta kaki kubik standar per hari atau 31 MMSCFD.

Angka sekitar 9 persen yang muncul dalam pemberitaan merujuk pada bagian pasokan gas pipa Singapura yang berasal dari Indonesia, bukan 9 persen dari seluruh kebutuhan gas Singapura. Perbedaan ini penting agar masyarakat memahami persoalannya secara tepat.

Kebijakan pengurangan ekspor gas harus dilihat dari kebutuhan energi dalam negeri, ketersediaan pasokan, perhitungan produksi, serta komitmen kontrak yang berlaku. Indonesia memiliki kewajiban memastikan sumber daya alam memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi rakyat.

Namun, kebijakan energi juga perlu dikelola secara terukur dan profesional agar tidak menimbulkan ketidakpastian bagi mitra usaha maupun hubungan diplomatik

. Kepentingan nasional harus menjadi dasar, bukan sekadar reaksi emosional terhadap pernyataan negara lain.

Keterkaitan ekonomi itu terlihat nyata di Kepulauan Riau, terutama Batam, Bintan, dan Karimun.

Kawasan ini menjadi simpul industri, perdagangan, logistik, pariwisata, dan investasi yang berhubungan erat dengan Singapura serta Malaysia.

Kehadiran kawasan industri, pelabuhan, fasilitas pariwisata, dan pusat ekonomi digital seperti Nongsa Digital Park memperlihatkan bahwa hubungan antarnegeri bukan hanya berlangsung melalui diplomasi, melainkan juga melalui kegiatan ekonomi sehari-hari.

Perkembangan pusat data atau data centre menjadi contoh penting hubungan saling membutuhkan tersebut. Investasi di bidang ini membutuhkan listrik yang andal, air, lahan, jaringan telekomunikasi, kabel bawah laut, serta tenaga kerja terampil.

Indonesia memiliki ruang dan peluang untuk mengembangkan industri digital, sementara investor dan pelaku usaha kawasan membawa modal, pasar, serta jaringan teknologi.

Kerja sama semacam ini harus memberikan manfaat nyata bagi Indonesia melalui penciptaan lapangan kerja, peningkatan keterampilan, transfer teknologi, dan nilai tambah di dalam negeri.

Hubungan ekonomi juga tercermin dalam sektor pariwisata. Pada 2025, kunjungan wisatawan asal Malaysia ke Indonesia tercatat sekitar 2,64 juta perjalanan dan dari Singapura sekitar 1,53 juta perjalanan.

Sebaliknya, perjalanan wisatawan Indonesia ke Malaysia mencapai sekitar 4,53 juta dan ke Singapura sekitar 2,4 juta. Angka tersebut merupakan jumlah kunjungan atau perjalanan, bukan jumlah orang yang berbeda.

Mobilitas ini menunjukkan betapa eratnya hubungan masyarakat, usaha, dan ekonomi di antara negara-negara bertetangga.

Besarnya hubungan tersebut seharusnya menjadi alasan untuk memperkuat kerja sama, bukan memperbesar ketegangan. Ketika Indonesia menghadapi persoalan lingkungan, negara tetangga berhak menyampaikan keprihatinan melalui mekanisme yang disepakati.

Namun, ketika Indonesia mengelola energi, investasi, atau sumber daya alamnya, kepentingan dan kedaulatan Indonesia juga harus dihormati. Prinsip saling membutuhkan harus berjalan bersama prinsip kesetaraan.

ASEAN akan semakin kuat apabila solidaritas diwujudkan dalam kerja sama yang seimbang. Singapura, Malaysia, dan Indonesia tidak hanya berbagi persoalan, tetapi juga berbagi peluang untuk tumbuh bersama.

Energi, perdagangan, industri, pariwisata, teknologi, dan investasi dapat menjadi jembatan kemakmuran kawasan.

Persahabatan yang sehat bukanlah hubungan ketika satu pihak selalu meminta dan pihak lain selalu memenuhi, melainkan kemitraan yang menghormati kepentingan masing-masing.

Bersambung ke KEMANA SOLIDARITAS ASEAN (3).

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *