OPINI

Nasionalisme Jangan Diukur Dari Tempat Lahir Ketika Garuda Memanggil, Darah Merah Putih Berbicara

Ada sesuatu yang selalu terasa sakral ketika Indonesia Raya berkumandang di stadion. Ribuan orang berdiri, tangan di dada, suara menggema, dan untuk beberapa menit perbedaan seolah-olah menguap begitu saja.

Tetapi anehnya, setelah lagu selesai dan pertandingan dimulai, sebagian orang kembali sibuk mencari perbedaan: siapa lahir di mana, siapa berdarah apa, siapa naturalisasi dan siapa bukan.

Nasionalisme yang semestinya menjadi jembatan justru kadang dijadikan pagar. Seolah-olah kecintaan kepada Indonesia harus dibuktikan dengan akta kelahiran di tanah air, bukan dengan keberanian mengenakan Garuda, mengibarkan Merah Putih dan berjuang ketika jutaan pasang mata berharap kemenangan.

Padahal sepak bola mengajarkan sesuatu yang sederhana: ketika pertandingan dimulai, yang dihitung bukan tempat kelahiran, melainkan siapa yang bersedia berlari paling jauh untuk lambang di dada.

Pemain keturunan dan pemain naturalisasi memang bukan jawaban tunggal bagi persoalan sepak bola Indonesia. Pembinaan usia muda, kompetisi nasional, akademi, kualitas pelatih dan kesempatan bagi talenta lokal tetap harus menjadi tulang punggung.

Namun, menafikan kontribusi pemain keturunan atau naturalisasi hanya karena mereka lahir dan besar di luar Indonesia juga bukan sikap yang bijaksana.

Ada pemain yang menemukan Indonesia melalui darah leluhur, ada yang melalui kisah keluarga, dan ada yang kemudian memilih menjadi bagian sah dari bangsa ini melalui proses kewarganegaraan.

Sandy Walsh dengan akar keluarganya dari Indonesia, Jay Idzes yang memiliki garis keluarga dari Indonesia, Nathan Tjoe-A-On dengan hubungan keluarganya dengan Semarang, Maarten Paes yang memiliki garis keturunan dari Kediri, serta nama-nama lainnya menunjukkan bahwa hubungan dengan Indonesia tidak selalu dimulai dari tempat seseorang dilahirkan. .

Kadang Indonesia hadir lebih dahulu dalam cerita keluarga, lalu ditemukan kembali bertahun-tahun kemudian sebagai sebuah rumah yang ingin diperjuangkan.

Yang lebih penting adalah apa yang terjadi ketika mereka sudah berada di lapangan.

Ketika seorang pemain mengejar bola sampai batas tenaga terakhir, terjatuh setelah benturan, bangkit dengan rasa sakit, atau tetap berlari ketika napas sudah tersengal, sulit rasanya mengatakan bahwa semua itu sekadar urusan mencari panggung.

Kita telah melihat sendiri bagaimana pertandingan dapat berubah menjadi perang mental: tekanan lawan, kartu merah, keputusan VAR, peluang yang dianulir, cedera dan bahkan adu penalti yang membuat jantung jutaan pendukung seakan berhenti berdetak.

Ketika bola terakhir masuk ke gawang dan kemenangan Indonesia dipastikan, para pemain tidak lagi bertanya siapa yang lahir di Amsterdam, Jakarta, Rotterdam atau kota lainnya. Mereka berpelukan dalam satu lingkaran, bersujud di rumput, menangis dan merayakan kemenangan bersama. Di tribun pun demikian.

Suporter tidak membutuhkan pemeriksaan paspor sebelum menyanyikan Indonesia Raya. Semua melebur menjadi satu: Merah Putih.

Di sinilah barangkali kita perlu bercermin. Kritik kepada naturalisasi tentu boleh.

Mempertanyakan kebijakan federasi juga sah. Bahkan publik berhak menuntut agar pemain lokal tidak kehilangan ruang berkembang.

Tetapi kritik membutuhkan argumentasi, sedangkan kebencian sering kali hanya membutuhkan prasangka.

Jangan sampai kita terlalu sibuk menghitung tempat lahir seorang pemain sampai lupa menghitung berapa kali ia berlari membawa nama Indonesia…

Jangan pula nasionalisme berubah menjadi hak eksklusif yang kita berikan kepada orang yang kita sukai dan kita cabut dari orang yang kebetulan tidak kita sukai.

Lucunya, ada yang belum pernah menyentuh rumput stadion untuk membela Indonesia tetapi begitu rajin mengadili nasionalisme pemain yang berkeringat di atasnya.

Barangkali sesekali kita perlu belajar bahwa mencintai Indonesia tidak harus selalu dengan berteriak paling keras; terkadang cukup dengan tidak meremehkan orang yang sedang berjuang mengharumkan nama bangsa.

Indonesia justru membutuhkan persatuan dari berbagai sumber kekuatan.

Pemain lokal seperti Rizky Ridho dan Egy Maulana Vikri merupakan bagian penting dari akar sepak bola nasional, sementara pemain keturunan dan naturalisasi dapat menjadi tambahan kekuatan, pengalaman dan kualitas sepanjang prosesnya sesuai aturan dan dilakukan dengan komitmen kepada Indonesia.

Tidak perlu membuat mereka berhadap-hadapan. Garuda membutuhkan semua sayapnya untuk terbang.

Nasionalisme pun tidak semestinya dipersempit menjadi soal tempat lahir, warna paspor masa lalu atau nama keluarga.

Nasionalisme adalah kesediaan menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan diri ketika Merah Putih dipertaruhkan.

Maka kepada mereka yang masih gemar mencibir, mungkin sudah waktunya menurunkan sedikit nada sinisme dan menaikkan sedikit kadar kejernihan hati.

Sebab ketika peluit panjang berbunyi dan Garuda menang, sejarah tidak akan mencatat siapa yang paling rajin mencaci di media sosial.

Sejarah akan mengingat siapa yang berdiri di lapangan, siapa yang berjuang, dan siapa yang membuat Merah Putih berkibar lebih tinggi.

Pada akhirnya, darah boleh berbeda tempat mengalirnya, tetapi ketika hati telah memilih Indonesia dan kaki berlari untuk Garuda, di sanalah nasionalisme menemukan maknanya yang paling nyata. ***

Penulisan: Buralimar,Pengamat Sepak Bola Kepri

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *