OPINI

Anatomi Kolaborasi: Menggugat Feodalisme Dalam Jantung Organisasi Modern

Buralimar

Secara etimologis, kata “organisasi” berakar dari bahasa Yunani organon, yang berarti alat atau instrumen. Namun, mendefinisikan organisasi sekadar sebagai alat fisik adalah sebuah reduksi yang dangkal.

Secara ilmiah, organisasi adalah sebuah sistem sosial yang terstruktur, terdiri dari sekelompok orang yang saling berinteraksi, berkoordinasi, dan mengintegrasikan aktivitas mereka di bawah payung aturan tertentu untuk mencapai target spesifik.

Jika definisi ini diurai secara mikroskopis, substansi paling mendasar yang membangun fondasi organisasi bukanlah struktur bagannya, bukan pula legalitas formalnya, melainkan satu kata kunci: bersama-sama.

Organisasi pada hakikatnya adalah sebuah penolakan terhadap individualisme ekstrim. Ia adalah manifestasi dari kesadaran bahwa kapasitas manusia itu terbatas, sehingga pemenuhan tujuan besar hanya mungkin terwujud melalui kerja sama, bukan kehebatan tunggal. Ketika satu orang mengklaim mampu mencapai segalanya sendirian, maka saat itu pula esensi organisasi runtuh, menyisakan sebuah panggung sandiwara ego pribadi.

Menitiktolak dari premis bahwa organisasi adalah kerja “bersama”, peran seorang pemimpin tentu tetap krusial. Namun, derajat dan manifestasi kepemimpinan ini bergerak dinamis secara kontekstual, tergantung pada jenis organisasinya.

Dalam bentang sosiologis, organisasi sosial, baik yang diinisiasi secara top-down melalui keputusan pemerintah maupun yang lahir dari arus bawah (grassroots), memiliki satu DNA yang sama, yaitu kolaborasi internal.

Entah itu bergerak di sektor lembaga politik, lembaga sosial, maupun institusi ekonomi, termasuk organisasi atau lembaga keagamaan, semuanya diikat oleh pembagian peran yang diatur secara rasional.

Pakar manajemen klasik seperti Max Weber menekankan pentingnya birokrasi dan pembagian kerja yang jelas (division of labor), di mana tugas-tugas harus “dibagi habis” secara adil dan kompeten. Prinsip manajemen modern ini sejalan dengan nilai-nilai luhur yang agung.

Dalam tradisi Islam, pembagian tugas dan pengelolaan yang rapi adalah cerminan dari sistem yang kokoh. Sebuah adagium terkenal dari Ali bin Abi Thalib RA mengingatkan kita: “Kebenaran yang tidak terorganisir dengan rapi akan dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisir dengan baik.”

Lebih jauh, Al-Qur’an secara eksplisit memerintahkan pentingnya musyawarah dan komunikasi dua arah dalam kepemimpinan: “Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka.

Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarah lah dengan mereka dalam urusan itu…” (QS. Ali ‘Imran: 159).

Nabi Muhammad SAW juga bersabda dalam sebuah hadis riwayat Bukhari: “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.” Hadis ini menegaskan adanya akuntabilitas dan distribusi tanggung jawab, bukan sentralisasi absolut pada satu individu yang merasa maksum.

Namun, realita sering kali menyuguhkan pemandangan yang menggelitik sekaligus menyedihkan. Di era modern ini, masih banyak ditemukan pemimpin organisasi yang mengidap sindrom “Raja Diraja”.

Mereka bertindak seolah-olah menjadi manusia paling benar, paling hebat, dan mutlak harus diikuti tanpa celah. Bawahan diposisikan layaknya robot yang hanya diizinkan memproduksi satu kata: “Ya”.

Dari kacamata psikologi organisasi, perilaku narsistik dan otoriter seperti ini sebenarnya adalah indikator nyata dari rendahnya kematangan emosional (emotional intelligence) dan minimnya pengalaman berorganisasi.

Daniel Goleman, pelopor konsep kecerdasan emosional, menegaskan bahwa pemimpin yang hebat adalah mereka yang memiliki kesadaran diri (self-awareness) dan empati yang tinggi. Pemimpin yang gemar membentak, alergi terhadap kritik, dan hobi mencari kambing hitam saat target gagal, sedang mempertontonkan kerapuhan mentalnya sendiri. Mereka menderita delusi bahwa memimpin berarti menguasai, bukan melayani.

Pakar psikologi sosial dan organisasi awal, Kurt Lewin, dalam studinya tentang gaya kepemimpinan, menunjukkan bahwa kepemimpinan otoriter hanya melahirkan kepatuhan semu (superficial compliance) yang rapuh dan membunuh kreativitas bawahannya.

Lebih parah lagi, fenomena ini menghancurkan apa yang disebut oleh Amy Edmondson (profesor dari Harvard Business School) sebagai Psychological Safety atau keamanan psikologis. Ketika bawahan merasa takut untuk berbicara jujur, takut berbuat salah karena akan langsung disalahkan, maka organisasi tersebut sedang berjalan menuju kematian klinisnya. Kebohongan demi menyenangkan atasan akan menjadi budaya, dan kehancuran tinggal menunggu waktu.

Edgar Schein, bapak psikologi budaya organisasi, mengingatkan bahwa budaya sebuah organisasi dibentuk oleh apa yang dihargai dan bagaimana kesalahan ditangani oleh pemimpinnya.

Ketika terjadi masalah atau tujuan gagal tercapai, reaksi pertama dari pemimpin yang matang adalah membuka ruang evaluasi dan menerima masukan dari bawah.

Sebaliknya, pemimpin yang miskin jam terbang dan minim wawasan psikologis akan sibuk berdalih, ngeyel, dan mengerahkan segala retorika untuk mempertahankan egonya agar tidak terlihat cacat.

Mereka menuntut loyalitas tanpa batas dan ketundukan tanpa aturan dari bawahannya.

Sungguh sebuah satire yang nyata: organisasi yang di atas kertas berlabel “Modern”, namun kultur internalnya dijalankan layaknya kerajaan zaman kuno.

Di mana titah sang raja adalah hukum suci, masukan dianggap sebagai bentuk makar, dan pemimpin terlalu gengsi serta malu untuk sekadar mengakui bahwa dirinya juga bisa salah.

Loyalitas disalahartikan sebagai penghambaan total, mengubur dalam-dalam rasionalitas demi memuaskan dahaga kekuasaan satu orang yang jiwanya belum selesai dengan dirinya sendiri.

Sudah saatnya ada penyadaran kolektif bahwa organisasi modern wajib memiliki wawasan yang terbuka dan adaptif. Konteks zaman telah berubah secara radikal.

Sementara substansi visi dan misi organisasi harus tetap kokoh dan konsisten sebagai arah kompas, taktik, metode, serta cara untuk mencapai tujuan tersebut harus bergerak sangat dinamis, fleksibel, dan menyesuaikan diri dengan realitas zaman.

Pemimpin masa kini harus memiliki kerendahan hati untuk mengakui sebuah kebenaran sosiologis dan psikologis: bawahan atau tim operasional sering kali memiliki ilmu, keahlian teknis, dan wawasan yang jauh lebih mendalam serta mutakhir daripada pimpinannya sendiri. Seorang pemimpin yang cerdas tidak akan merasa terancam oleh kecerdasan bawahannya, melainkan justru merayakannya.

Oleh karena itu, arsitektur pembagian kerja dalam organisasi modern harus diletakkan pada porsinya yang ideal. Pemimpin bertugas merumuskan arah strategis (strategic thinking), melihat lanskap masa depan dari helikopter, dan menjaga stabilitas makro organisasi.

Sementara itu, wilayah taktis dan eksekusi operasional sepenuhnya harus dipercayakan dan diserahkan kepada bawahan yang lebih menguasai medan. Hanya dengan meruntuhkan tembok keangkuhan feodal dan membangun jembatan kolaborasi yang egaliter, sebuah organisasi dapat bertahan di tengah badai perubahan.

Karena sebuah organisasi bukanlah panggung untuk memuja kebesaran seorang individu, melainkan sebuah simfoni indah yang dimainkan bersama demi mencapai satu harmoni tujuan. (***)

Penulis Buralimar : Warga Batam

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *