BUDAYA

Situmeang dan Sihotang Apakah Marpadan?

Tugu Jamita Mangaraja Situmeang yang pernah didesain namun belum dibangun hingga saat ini. f-ist

TERKADANG ada yang bertanya apakah Situmeang dan Sihotang marpadan?

Berdasarkan kisah beberapa penatua, anak Siraja Naipospos yang Marpadan dengan Sihotang adalah marga Lumbangaol.

Hanya saja, karena zaman dulu ada istilah ‘Padan Ni Hahana, Padan Ni Anggina’ dan sebaliknya, aehingga ada kesan Situmeang juga ikut Marpadan dengan Sihotang.

Padan itu merupakan hukum yang sangat kuat dan tak bisa diingkari/dilanggar. Kenyataan saat ini, Sihotang bisa menikah dengan Boru Situmeang. Artinya, Situmeang dan Sihotang tidak Marpadan.

Hanya saja, hingga saat ini masih banyak yang menjaga Padan itu. Sihotang, sering memanggil, abang atau Amanguda jika bertemu dengan marga Situmeang yang lebih tua atau lebih muda.

Di beberapa tempat misalnya, jika ada marga Sihotang atau Boru Sihotang yang merantau atau penempatan sebagai PNS di daerah baru dan bertemu marga Situmeang, maka panggilan Abang atau Amanguda tetap dipakai.

Bahkan, jika marga Situmeang menikahkan anak atau Borunya, maka marga Sihotang yang pendatang di kampung itu turut hadir dan menempatkan diri ikut sebagai yang punya anak atau boru.

Ikut Menyaksikan Parpadanan

Berdasarkan kisah seorang keturunan Naipospos, dahulu kala marga Sihotang pernah bertikai dengan marga lain untuk mendapatkan perkampungan.

Karena kalah, pihak Sihotang meminta bantuan Lumbangaol. Pertikaian itupun berakhir dan dimenangkan pihak Sihotang. Sebagai ungkapan terimakasih, maka pihak Sihotang meminta Marpadan dengan Lumbangaol.

Namun, Lumbangaol tidak langsung menyetujuinya. Dia harus mengundang semua saudaranya/dongan tubunya untuk menyaksikan Parpadanan tersebut.

Akhirnya semua anak Siraja Naipospos ikut hadir dalam Parpadanan tersebut dan disaksikan serta direstui. Sejak itulah, hubungan Sihotang dengan pomparan Siraja Naipospos memiliki ikatan.

Namun, versi ini bisa beda dengan versi Sihotang atau Lumbangaol. Intinya, tetap bahwa Padan itu memang ada zaman dulu yang dilakukan Sihotang dan Lumbangaol serta masih terjaga hingga saat ini.

Penulis sendiri masih merasakannya hingga saat ini. Di beberapa kali bertemu dengan marga Sihotang, mereka selalu mendahulukan panggilan/Panjouan dari Padannya Lumbangaol.

Sebab, jika masih muda ada yang memanggil Abang dan memanggil Amanguda. Artinya, panggilan itu terbawa dari Lumbangaol sebagai padannya.

Tentu saja harus kita hargai dan kita juga akan mengikut. Beda hal jika memang ada hubungan lain, misalnya jika istri kita Boru Sihotang dan lainnya. Tentu saja Partuturan/Panggilan/Panjouon sudah beda.

Puluhan tahun lalu, seorang marga Sihotang ditempatkan di Kabupaten Tapanuli Utara di Kantor Kemenag. Dia kebetulan tinggal dengan perkampungan Situmeang.

Sihotang ini sangat senang karena disana dia memiliki banyak saudara. Dia memanggil Abang ke Situmeang di kampung itu.

Puluhan tahun kemudian, Boru-nya menikah di Pulau Bintan, Provinsi Kepri. Sihotang ini menghubungi marga Situmeang, anak tetangganya di kampung yang juga berada di Bintan agar datang ke pesta itu.

“Ikkon Ro do amang, ho do iboto na disi,”

“Harus datang Amang, kaulah Ito-nya disana,”

Begitulah sepenggal ucapan Sihotang di balik telepon yang menempatkan Situmeang itu sebagai anaknya, Itonya Boru Sihotang yang menikah tersebut.

Mungkin ada saja Situmeang atau Sihotang yang tidak terlalu ingat Padan itu, sehingga hubungan mereka tidak begitu erat jika bertemu di perantauan atau di satu tempat.

Itu akan merugikan. Sebab, lebih baik banyak teman apalagi saudara terutama di perantauan.

Berdasarkan silsilah tradisional Batak, Sihotang memiliki 7 anak yakni :

  1. Sipardabuan
  2. Sorganimusu
  3. Sitorban Dolok
  4. Sirandos
  5. Simarsoit
  6. Sirajatunggal (Hasugian)
  7. Orangkaya Tua (Hasugian)

Sihotang merupakan anak Siraja Oloan. Inilah putra si Raja Oloan :

  1. Naibaho
  2. Sihotang
  3. Bakkara
  4. Sinambela
  5. Sihite
  6. Simanullang

Siraja Oloan memiliki 2 istri :

Istri pertama Boru Limbong, anaknya 2 yakni :

  1. Naibaho
  2. Sihotang

Istri kedua Boru Pasaribu, anaknya 4 yaitu :
3. Bakkara
4. Sinambela
5. Sihite
6. Simanullang

Dalam kehidupan masyarakat Batak zaman dulu, banyak Parpadanan yang dibuat marga-marga dan semuanya masih terjaga hingga saat ini.***

Oleh : Martunas Situmeang

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *