Kebaikan Siahaan Hinalang kepada Tulangnya Situmeang

PADA tulisan berikutnya kami akan dikisahkan tentang cerita legenda Siahaan Hinalang yang memperistri Boru Situmeang dari Sirongit, Kecamatan Sipoholon, Taput.
Tulisan kali ini mengisahkan bagaimana Siahaan Hinalang memperlakukan marga Situmeang. Tulisan ini kisah beberapa orang marga Situmeang termasuk yang dialami penulis sendiri.
Penulis yakin, kisah-kisah ini hanya segelintir dari yang dialami marga Situmeang di seluruh dunia.
Yang jelas, Siahaan Hinalang benar-benar memperlakukan Situmeang dengan sangat baik. Sangat sopan, sangat hormat. Perlakuan mereka memang beda. Sangat istimewa. Selalu membuat suasana haru.
Ini beberapa kisahnya :
- Kisah seorang marga Situmeang saat hendak menyekolahkan anaknya di salah satu SMA terbaik. Kebetulan ada guru marga Siahaan Hinalang mengajar di sekolah itu.
Ketika Situmeang datang untuk minta tolong agar anaknya bisa masuk di sekolah itu, tidak ada penolakan.
“Dang tarjua au hamu Tulang. Pos ma roha mu,” demikian jawaban Siahaan Hinalang.
- Kisah di suatu pesta di Batam. Ketika marga Situmeang berkumpul, datang lah Siahaan Hinalang yang dikenal preman dan disegani.
Namun, ketika melihat Situmeang disana, Siahaan Hinalang tersebut langsung menyalami mereka semua dan memesan minuman hingga makanan ringan.
Dia tidak duduk selagi masih ada Tulangnya Situmeang yang berdiri. Dia mencari kursi. Preman yang memiliki rasa sopan santun dan menghargai Tulangnya.
- Kisah ketika seorang marga Situmeang yang menyewa tempat lalu membuka usaha biliar dan kedai kopi.
Seorang preman datang mengendarai motor RX King dan langsung masuk ke warung itu serta menggeber gas motornya hingga kedai itu sangat bising.
Mendengar suara bising itu, si pemilik tempat datang dan memintanya agar jangan seperti itu. Sempat ditanya siapa yang buka usaha itu. “Marga Situmeang do na manewa on,”
Si preman langsung pergi. Dia tidak pernah lagi muncul disana. Ternyata si Preman tersebut marga Siahaan Hinalang dan dia sangat merasa bersalah atas perlakuannya tersebut.
- Kisah ketika seorang marga Situmeang meminta sebatang rokok kepada Siahaan Hinalang. Kebetulan rokoknya habis dan warung cukup jauh.
Diam-diam Siahaan Hinalang ini pergi jalan kaki hanya untuk membeli rokok untuk Tulangnya itu. Situmeang ini pun kaget.
“Mauliate ma di hamu amangboru,” kata Situmeang.
“Tulang on pe nian. Dohot do apala i. Tangiang muna i ma tulang,” ujar Siahaan Hinalang.
- Kisah saat Situmeang sedang ngopi bersama teman-temannya. Kebetulan Siahaan Hinalang datang dan bertemu dengan temannya di meja yang sama dengan Situmeang.
Ketika dikenalkan dan ada satu orang marga Situmeang disana, Siahaan Hinalang langsung duduk dan bercengkrama.
Tak lama setelah itu teleponnya berdering. Siahaan Hinalang ini langsung ke meja kasir dan membayar makan, minum di meja itu.
Saat mau pamit pergi, diserahkannya dua bungkus rokok untuk Tulangnya itu. Padahal, mereka baru bertemu saat itu.
“Ago amangboru, boasa pola tuhoronmu,” kata Situmeang.
“Baen ma Tulang, ido pe na boi tarlean. Tangiang muna i ma tulang,” pinta Siahaan Hinalang.
- Kisah seorang nenek membawa cucunya berobat ke dokter. Kebetulan si nenek manggil tulang sama si dokter.
Si dokter bertanya, marga apa cucunya itu. “Marga Situmeang tulang,”
“Bah, bah, bah. Hamu do martulang tu au. Molo tu pahoppu mon, au do martulang,”
“Boasa songoni tulang,”
“Ido. Boru Situmeang do ompung boru nami na di gijjang. Mata ni ari bissar do Situmeang di hami,”
Dan memang, perlakuan si dokter yang merupakan marga Siahaan Hinalang itu sangat beda.
Sekali pun si Situmeang itu masih berusia 2 tahun, namun dia tetap memanggil Tulang. Sungguh perlakuan istimewa dari Siahaan Hinalang.
- Kisah seorang anggota dewan saat pertama kali bertemu dan kenalan dengan marga Situmeang.
Dewan marga Siahaan Hinalang itu langsung mengajak tulangnya makan.
“Nga male tulang ate, mangan panggang majo hita,” ajak Siahaan Hinalang.
Padahal, mereka baru bertemu dan baru berbincang-bincang 7 menit. Sudah ada niat baiknya untuk mengajak makan.
- Kisah yang pernah penulis dengarkan ketika marga Situmeang baru pulang pesta dari Medan.
Mobil mereka rusak di daerah Balige. Kemudian datang warga mendekat dan bertanya ada apa dengan mobil mereka hingga buka kap.
Kemudian mereka kenalan. “Situmeang do hami sude, baru mulak marpesta sian Medan,”
“Tulang tu jabu majo hita. Tung so jadi ma hamu borhat so jolo marsipanganon hita di jabu,”
Ternyata warga tersebut marga Siahaan Hinalang. Satu ekor lomok-lomok pun dipotong untuk makan makan bersama semua Tulangnya itu.
- Kisah marga Situmeang ketika motornya berhenti mendadak karena kehabisan bensin. Saat itu Siahaan Hinalang sedang mengawasi proyeknya di pinggir jalan.
Entah kenapa, Siahaan Hinalang datang mendekat dan bertanya ada apa.
Situmeang yang saat itu baru membuka tutup tangki motornya mengatakan, bensin habis. Setelah itu mereka kenalan.
Begitu mengetahui Situmeang, marga Siahaan Hinalang ini langsung memanggil satu anak buahnya dan menyuruhnya membeli satu botol bensin.
“Loja tulang mandorong-dorong i, lokma dialap,” katanya.
- Kisah Situmeang dan Siahaan Hinalang yang memang sebelumnya sudah saling kenal. Kali ini mereka kebetulan bertemu di kedai kopi yang dikelilingi berbagai jenis stan makanan.
Kebetulan Siahaan Hinalang ini belum sarapan meski sudah pukul 10.00. Sementara Situmeang sudah sarapan dari rumah.
Tetap saja Siahaan Hinalang memanggil pedagang untuk membawa daftar menu makanan yang dijualnya. Pokoknya harus sarapan.
Meski Situmeang berkali-kali mengatakan baru sarapan, namun tidak diindahkannya.
“Ikkon sarapan do tulang,”
“Baru sarapan dope Amangboru,”
“Asing doi tulang, gabe dang selera au mangan,”
Situmeang akhirnya mengalah. Karena dia tahu, Siahaan Hinalang itu benar-benar tulus menawarinya sarapan.
Dan memang ada istilah Batak, haccit mulak mangido, haccitan mulak mangalean.
Kira-kira begini artinya, kita akan sakit hati apabila saat meminta tapi tak diberi, namun lebih sakit hati lagi jika kita memberi tapi tak diterima.
Itulah yang diingat Situmeang. Kebaikan hati Siahaan Hinalang itu jangan sampai tidak diterima.
Dari kisah-kisah ini, bukan nilainya itu yang penting. Namun bagaimana semua marga maupun boru Siahaan Hinalang memperlakukan marga Situmeang.
Situmeang selalu mereka istimewakan dengan cara mereka sendiri. Bukan karena sebungkus rokok itu, namun betapa hormatnya Siahaan Hinalang hingga rela jalan kaki cukup jauh ke warung demi Tulangnya.
Tidak ditanya rokok apa. Langsung pergi ke warung dan membawa rokok yang paling mahal.
Bukan nilai minuman bir ABC itu. Namun perlakuan seorang preman yang sangat menghargai tulangnya. Bahkan hilir mudik mengambil kursi untuk tulangnya.
Setelah semua beres, baru lah dia duduk sambil cerita dan tertawa dengan Tulangnya. Ada kepuasan tersendiri dalam hatinya.
Dan para marga Situmeang itu pun merasa sangat senang, bangga hingga sulit mengatakan kata-kata. Hanya doa yang bisa mereka panjatkan. Dan hanya itu yang diharapkan si preman tersebut.
Karena itulah, Op Doangsa Situmeang, salah satu penulis Buku Tarombo Situmeang Jamita Mangaraja dalam bukunya mengatakan, tung so haluluan be marga songon Siahaan Hinalang on na songoni burjuna maradophon Mata Ni Ari Bissar nasida ima Marga Situmeang.
Ucapan ini untuk Marga Siahaan Hinalang yang sangat, sangat, sangat hormat dan penuh kasih sayang kepada Situmeang. Dan,,,semoga Tuhan memberkati seluruh pomparan Siahaan Hinalang.***
Catatan :
Sudah seharusnya semua marga Situmeang menurunkan kisah Si Boru Situmeang Sotudosan istri Siahaan Hinalang turun temurun. Sehingga hubungan baik itu terjalin sampai kapan pun.
Generasi muda harus mengerti dan mengetahuinya. Jika ke depan semua itu hilang, maka itu kesalahan kita.
Penulis yakin, marga Siahaan Hinalang pasti menurunkan kisah itu secara turun temurun sehingga dimana pun kita bertemu dengan marga Siahaan Hinalang, perlakuan mereka selalu sama dan sangat sopan, sangat hormat.
Kita marga Situmeang harus bangga, senang, bahagia dan bersyukur, masih ada marga yang selalu memperlakukan kita dengan istimewa setiap saat.***
Oleh : Martunas Situmeang


