BP Batam Tegaskan Pentingnya Merawat Aset Publik Demi Batam yang Berdaya Saing

BATAM – Di setiap kota selalu ada sebuah ikon yang bukan sekadar bangunan, melainkan simbol perjalanan dan identitas.
Bagi Batam, ikon itu adalah Jembatan Barelang. Rangkaian enam jembatan yang membentang megah menghubungkan Pulau Batam dengan pulau-pulau di sekitarnya telah lama menjadi wajah kota industri ini.
Ribuan orang melintas setiap hari, sementara wisatawan datang untuk menikmati panorama laut dan mengabadikan keindahan yang menjadi kebanggaan Kepulauan Riau.
Namun, di balik kemegahannya, Barelang juga menyimpan pesan penting: sebuah aset publik hanya akan bertahan jika dijaga bersama.
Belakangan, masyarakat sempat dihebohkan dengan beredarnya video aksi vandalisme berupa pemotongan kabel lampu sorot di kawasan Jembatan Barelang.
Video tersebut memunculkan berbagai tanggapan di media sosial. Meski demikian, Badan Pengusahaan (BP) Batam menegaskan bahwa kejadian tersebut bukanlah peristiwa baru, melainkan telah terjadi pada 28 April 2026 dan sudah ditangani oleh pihak berwenang.
Penjelasan itu sekaligus menjadi pengingat bahwa ancaman terhadap fasilitas publik tidak hanya datang dari usia bangunan atau faktor alam, tetapi juga dari ulah segelintir orang yang tidak bertanggung jawab.
Anggota/Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam, Ariastuty Sirait, menjelaskan bahwa saat kejadian berlangsung, petugas bersama Direktorat Pengamanan Aset dan Kawasan BP Batam bergerak cepat melakukan penanganan di lapangan.
Dua orang yang diduga terlibat telah diamankan dan diserahkan kepada Kepolisian Sektor Sagulung untuk menjalani proses hukum sesuai ketentuan yang berlaku.
Dari hasil pemeriksaan diketahui bahwa kabel yang dipotong merupakan instalasi lampu sorot milik Kementerian Pekerjaan Umum yang membentang menuju bagian atas jembatan.
Menariknya, kabel tersebut hanya dipotong tanpa dibawa kabur. Dugaan sementara, pelaku mengira kabel itu mengandung tembaga bernilai ekonomi, padahal material di dalamnya bukan tembaga.
Peristiwa tersebut menjadi pelajaran bahwa tindakan vandalisme tidak hanya menyebabkan kerusakan fisik, tetapi juga menimbulkan kerugian negara. Perbaikan infrastruktur memerlukan anggaran yang sejatinya dapat dialokasikan untuk pembangunan fasilitas lain yang lebih dibutuhkan masyarakat.
Sebagai bentuk tanggung jawab, BP Batam telah melaporkan kejadian tersebut secara resmi kepada Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional, Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum.
Di sisi lain, pengamanan kawasan juga terus diperkuat melalui patroli rutin dan koordinasi yang lebih intensif dengan aparat penegak hukum.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa menjaga infrastruktur strategis tidak bisa dilakukan oleh pemerintah semata.
Dibutuhkan sinergi antara instansi, aparat keamanan, dan masyarakat.
Sesungguhnya, menjaga aset publik adalah bagian dari budaya berbangsa.
Lampu penerangan, pagar pembatas, taman kota, hingga jembatan merupakan hasil pembangunan yang dibiayai oleh uang rakyat. Ketika dirusak, yang dirugikan bukan hanya pemerintah, tetapi seluruh masyarakat yang menikmati manfaatnya.
Barelang sendiri bukan sekadar penghubung antarwilayah. Jembatan yang diresmikan sejak era pembangunan Batam sebagai kawasan industri itu telah berkembang menjadi magnet wisata, lokasi olahraga, ruang berkumpul keluarga, hingga latar berbagai kegiatan budaya dan promosi investasi.
Keindahan arsitekturnya bahkan menjadi salah satu citra yang selalu melekat ketika orang menyebut nama Batam.
Karena itu, menjaga Barelang berarti menjaga wajah Batam di mata Indonesia maupun dunia. Setiap baut, lampu, pagar, dan fasilitas yang ada merupakan bagian dari identitas kota yang harus dirawat bersama.
BP Batam pun mengajak masyarakat untuk berperan aktif apabila menemukan aktivitas mencurigakan yang berpotensi merusak fasilitas umum.
Kepedulian warga menjadi benteng pertama dalam melindungi aset negara dari aksi vandalisme maupun pencurian.
Pada akhirnya, kemajuan sebuah kota tidak hanya diukur dari banyaknya pembangunan yang berdiri megah, tetapi juga dari kesadaran warganya dalam merawat hasil pembangunan tersebut.
Sebab, Jembatan Barelang bukan hanya bentangan baja yang menghubungkan pulau demi pulau. Ia adalah simbol kemajuan, kebanggaan, dan harapan Batam yang harus tetap kokoh berdiri untuk dinikmati generasi hari ini maupun generasi yang akan datang. (*/bs)


