NASIONALTANJUNGPINANG

100 Tahun Sumpah Pemuda, Monumen Bahasa Nasional Diresmikan di Penyengat Tanjungpinang?

Sekdaprov Kepri, Misni. f-dok

TANJUNGPINANG – Tanggal 27 Oktober 1928, para tokoh pemuda dari berbagai daerah di Indonesia berkumpul di Batavia (Jakarta, sekarang) untuk mengadakan rapat atau kongres.

Besoknya, tanggal 28 Oktober 1928, hasil kongres itu diikrarkan yang kemudian dikenal hingga saat ini sebagai Sumpah Pemuda dan diperingati setiap tanggal 28 Oktober setiap tahun.

Sekitar 17 tahun kemudian, yakni 17 Agustus 1945 diproklamirkan Kemerdekaan Indonesia. Jadi, Sumpah Pemuda tersebut salah satu kekuatan baru pemersatu Indonesia melawan penjajah saat itu sebelum kemerdekaan.

Nah, salah satu isi/ikrar Sumpah Pemuda itu adalah : “Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia”.

Sumpah/Ikrar ketiga ini berkaitan dengan rencana pembangunan Museum dan Monumen Bahasa Nasional di Pulau Penyengat, Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepri.

Bahasa Melayu merupakan cikal bakal atau bahasa ibu Bahasa Indonesia, yang menjadi Bahasa Nasional atau bahasa persatuan NKRI.

Jauh sebelum Sumpah Pemuda, peradaban sastra telah maju di Penyengat di masa kerajaan Kesultanan Riau-Lingga. Salah satu tokoh besarnya adalah Raja Ali Haji (RAH) yang telah ditetapkan menjadi Pahlawan Nasional pada, 5 November 2004.

Jadi, peran sastra Melayu sangat besar hingga sangat penting jika monumen bahasa tersebut dibangun. Bukan hanya sebagai ikon baru, namun agar tidak dilupakan lintas generasi di Indonesia.

Memang, rencana pembangunan Monumen Bahasa itu sudah pernah gagal tahun 2014 lalu. Kali ini, rencana pembangunan kembali dimatangkan Pemprov Kepri dan biayanya juga lebih besar.
Artinya, monumen ini nantinya serba lengkap.

Sekdaprov Kepri Misni mengatakan, Museum dan Monumen Bahasa Nasional di Pulau Penyengat, Tanjungpinang, mulai dilelang pada Juli 2026, dengan peletakan batu pertama (groundbreaking) ditargetkan pada awal Agustus 2026.

Proyek ini akan dibangun selama 17 bulan dan dijadwalkan selesai pada akhir 2027 untuk diresmikan pada 2028 (saat 100 tahun Sumpah Pemuda).

Pembangunan monumen ini ditujukan sebagai bentuk penghormatan atas peran sejarah Pulau Penyengat, terutama karya Raja Ali Haji—sebagai akar dan pusat lahirnya Bahasa Indonesia.

Proyek ini dibangun dengan anggaran multiyears selama dua tahun (2026-2027) dengan total anggaran mencapai Rp101 miliar. Semoga tidak gagal lagi. (Martunas)

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *