BATAM

Saat Polisi, Ulama, dan Budaya Melayu Duduk Semeja Menjaga Kepri

Saat Polisi, Ulama, dan Budaya Melayu Duduk Semeja Menjaga Kepri.f-ist

BATAM – Di tengah arus modernisasi dan dinamika sosial yang terus bergerak cepat, ada sebuah pemandangan yang semakin jarang ditemukan.

Para pejabat, tokoh agama, tokoh adat, aparat keamanan, dan masyarakat duduk bersila dalam satu ruangan, menikmati hidangan bersama tanpa sekat jabatan maupun status sosial.

Pemandangan itulah yang tersaji dalam Kenduri Kebangsaan dan Tausiah Kebangsaan yang digelar Polda Kepulauan Riau di Gedung Lancang Kuning, Kamis (25/6/2026), dalam rangka memperingati Hari Bhayangkara ke-80.

Bukan sekadar acara seremonial, kegiatan tersebut menghadirkan pesan yang lebih dalam tentang bagaimana keamanan, persatuan, dan budaya dapat berjalan beriringan dalam kehidupan masyarakat Kepulauan Riau.

Nuansa Melayu begitu terasa sejak awal kegiatan. Hidangan disajikan dengan konsep makan berhidang, sebuah tradisi yang telah lama hidup dalam budaya Melayu.

Dalam tradisi itu, semua orang duduk sejajar, berbagi makanan yang sama, dan menikmati kebersamaan tanpa membedakan kedudukan.

Bagi masyarakat Melayu, makan bersama bukan hanya soal mengisi perut. Ia adalah simbol persaudaraan, penghormatan, dan upaya mempererat hubungan antarsesama.

Kapolda Kepri Irjen Pol. Asep Safrudin memahami makna tersebut. Karena itu, Kenduri Kebangsaan sengaja dikemas dengan sentuhan budaya lokal sebagai upaya memperkuat ikatan sosial di tengah keberagaman masyarakat Kepri.

“Kita ingin menghilangkan sekat-sekat perbedaan dan memperkuat persatuan melalui nilai-nilai kebersamaan yang diwariskan budaya Melayu,” demikian pesan yang tersirat dari pelaksanaan kegiatan tersebut.

Menjaga Beranda Terdepan Indonesia
Kepulauan Riau memiliki posisi yang sangat strategis.

Berhadapan langsung dengan sejumlah negara tetangga dan berada di jalur perdagangan internasional, provinsi ini menjadi salah satu beranda terdepan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Posisi strategis tersebut menghadirkan banyak peluang sekaligus tantangan.

Mobilitas manusia yang tinggi, perkembangan ekonomi yang pesat, serta keberagaman masyarakat menuntut adanya stabilitas keamanan yang terus terjaga.

Dalam kesempatan itu, Kapolda Kepri mengingatkan bahwa keamanan bukan semata tanggung jawab aparat kepolisian.

Menjaga suasana damai dan kondusif membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.

Pemerintah daerah, tokoh agama, tokoh adat, organisasi kemasyarakatan, hingga masyarakat biasa memiliki peran yang sama pentingnya dalam menjaga harmoni sosial.

Pesan tersebut terasa relevan bagi Kepulauan Riau yang selama ini dikenal sebagai daerah yang mampu menjaga toleransi dan kehidupan multikultural dengan baik.

Penghormatan untuk Warisan Melayu
Di tengah acara, terdapat momen yang sarat makna ketika Dewan Kebudayaan Provinsi Kepulauan Riau memberikan penghargaan Sekalung Budi kepada Kapolda Kepri.

Penghargaan itu diberikan atas dukungan Kapolda terhadap pembuatan rekaman audiovisual Gurindam 12 karya Raja Ali Haji.

Bagi masyarakat Kepri, Gurindam 12 bukan sekadar karya sastra lama. Ia merupakan warisan pemikiran yang berisi petuah kehidupan, moralitas, kepemimpinan, hingga hubungan manusia dengan Tuhan dan sesama.

Penghargaan tersebut menjadi simbol bahwa menjaga keamanan tidak hanya dilakukan melalui penegakan hukum, tetapi juga melalui pelestarian budaya yang menjadi identitas masyarakat.

Budaya yang terjaga akan melahirkan masyarakat yang memiliki akar kuat terhadap nilai-nilai luhur bangsanya.

Tausiah yang Menyatukan
Kehadiran Ustadz Abdul Somad menambah kekuatan pesan dalam kegiatan tersebut.

Ulama asal Riau yang dikenal luas di berbagai daerah di Indonesia itu memberikan tausiah kebangsaan yang menekankan pentingnya menjaga persatuan dalam keberagaman.

Menurutnya, adat, budaya, dan sejarah merupakan bagian penting yang tidak boleh dipisahkan dari kehidupan bangsa Indonesia.

Di tengah berbagai tantangan zaman, generasi muda perlu terus dikenalkan pada akar budayanya agar tidak kehilangan identitas.

Pesan itu terasa penting, terutama bagi Kepulauan Riau yang tumbuh sebagai daerah dengan masyarakat yang berasal dari berbagai suku, agama, dan latar belakang.

Persatuan tidak lahir karena semua orang sama, melainkan karena semua pihak mampu menghargai perbedaan yang ada.

Hari Bhayangkara yang Berbeda
Peringatan Hari Bhayangkara biasanya identik dengan upacara, perlombaan, atau kegiatan sosial. Namun Polda Kepri memilih menghadirkan sesuatu yang berbeda..

Melalui Kenduri Kebangsaan dan Tausiah Kebangsaan, peringatan Hari Bhayangkara ke-80 tidak hanya menjadi momentum internal kepolisian, tetapi juga ruang silaturahmi bagi seluruh komponen masyarakat.

Pesan yang dibangun sangat sederhana namun kuat: keamanan tidak akan tercipta tanpa kebersamaan.

Saat polisi, pemerintah, ulama, tokoh adat, dan masyarakat duduk dalam satu meja yang sama, sesungguhnya mereka sedang membangun fondasi penting bagi masa depan daerah ini.

Di tengah dunia yang semakin mudah terpecah oleh perbedaan pandangan, tradisi kenduri mengajarkan bahwa persaudaraan selalu memiliki ruang untuk tumbuh.

Dan dari Gedung Lancang Kuning Polda Kepri, pesan itu kembali digaungkan: menjaga Kepulauan Riau bukan hanya tugas aparat, tetapi tugas bersama seluruh anak bangsa. (bs/*)

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *