Situmeang Jamita Mangaraja Orangnya Temperamen

MUNGKIN sifat atau watak asli Situmeang Jamita Mangaraja (No.1) tidak ada lagi yang mengetahuinya terlebih di era generasinya yang sudah sundut (keturunan) ke-18 atau ke-19 saat ini.
Para orangtua atau nenek moyang kita dulu tidak menurunkan cerita-cerita itu ke generasinya. Sehingga, kita generasi berikutnya sama sekali buta dan tidak mengenalnya.
Kita sendiri tidak tahu seperti apa juga gambaran Situmeang No.1 itu. Beda misalnya Raja Uti, cucu si Raja Batak masih ada gambarannya dan bisa dilihat warga Batak di seluruh dunia.
Di zaman itu, sekitar 400-450 tahun lalu, belum ada buku, pensil, pena atau bahkan belum tentu kenal huruf dan angka di kalangan Batak. Sehingga, yang dialami seseorang selama hidup tidak ada yang tertulis.
Yang jelas, cara penulisan nama aslinya pun kita tidak tahu. Karena saat itu belum ada akte lahir apalagi KK (Kartu Keluarga) atau KTP sebagai tanda identitas diri.
Lalu, jika kita kembali ke sifat Oppung Situmeang No.1 itu, ada cerita yang mengatakan, bahwa Beliau orangnya temperamen.
Dalam hal ini, mari kita pahami dulu pengertian umum Temperamen, sifatnya mudah berubah. Jadi, Temperamen bukan berarti bisa diartikan emosian.
Yang jelas, temperamen itu bisa berubah cepat dari diam lalu tertawa, dari sedih jadi senang, dari senang lalu mudah marah. Nah, banyak orang menganggap temperamen itu orangnya emosian, mudah marah, padahal sifat lain yang positif masih banyak.
Benarkah Situmeang No.1 itu temperamen?
Cerita ini sedikit mistis. Namun, bagi yang memiliki pancaindra keenam, mereka bisa melihat langsung Tondi ni Oppung i. Biasanya, Tondi itu akan datang jika pomparan atau keturunannya sedang ada masalah atau terancam nyawanya.
Jadi, Oppung itu sering membantu keturunannya yang sedang mengalami masalah. Dia akan cepat marah apabila keturunannya hendak diracun atau dibunuh.
Jika pada saat itu ada Indigo atau orang yang bisa melihat makhluk halus, maka yang mereka lihat adalah Tondi ni Situmeang No.1 memang temperamen.
Wajar jika Ompung itu temperaman atau marah karena melihat keturunannya hendak dilukai atau diracuni melalui ilmu hitam baik melalui makanan maupun minuman.
Atau saat memberitahukan pomparannya yang jatuh dari pohon namun belum diketahui orangtuanya. Ini kisah nyata.
Kita akan buat tulisan berikutnya.
Oleh : Martunas Situmeang


