Apollo Mengakhiri Kisah Cinta Sotong yang Bagaikan Romeo dan Juliet

Suara tertawa Putra (51 tahun), seorang nelayan memecah keheningan malam itu di atas Kelong di perairan Kawal Kabupaten Bintan, Provinsi Kepri.
Oleh : Martunas Situmeang
DUA temannya yang juga sama-sama pemancing yakni Rudi dan Rido sontak meliriknya. “Langsung dapat geng? ucap Rido seakan tak percaya melihat sahabatnya itu.
Baru sekitar dua menit Putra melepas pancingnya ke laut, dua ekor sotong sudah nyangkut di mata kailnya. Ukurannya besar-besar pula. Satu jengkal lebih.
Rido dan Rudi pun makin semangat meracik pancingnya masing-masing. Apalagi Rudi yang tergolong maniak memancing. “Ayo cepat ketua,” pinta Rido ke Rudi.
Maklum, Rido bukan tipikal orang yang hobi mancing. Meracik pancingannya saja dia tak ngerti. Jadi minta bantuan ke Rudi.
Semangat Rido makin menggebu-gebu ingin segera melempar pancingnya ke laut. Ia berharap bisa membawa pulang satu ember sotong.
Apalagi Putra mengatakan, bahwa bulan Mei ini musim sotong. Angin tidak kencang. Laut tenang. Sotong lagi banyak. Semua penjelasan tersebut sontak membuat semangat Rido berapi-api.
Sejurus kemudian, pancingannya sudah beres. Tinggal lempar ke laut. Wah, ternyata Rido tak pengalaman soal urusan pancing. Cara melemparnya saja dia tak ngerti.
Dua kawannya, Putra dan Rudi justru jantungan. “Pelan-pelan aja, jangan terlalu ke pinggir,” kata Putra mengingatkan.
“Aman, gak apa-apa,” kata Rido.
“Malah kami yang takut Lu jatuh ke laut, pancing tinggal di atas,” kata Putra berseloro.
Begitu pancing jatuh ke laut langsung rapat mendadak. Briefing singkat. Putra memberi contoh cara memancing sotong. Talinya harus diletak di jari kemudian ditarik (semi disentak).
“Biarkan sebentar, baru ulur pelan. Sudah itu, sentak lagi, tahan, ulur,” itulah istruksinya.
“Knapa gitu Geng? pingin tahu.
“Biar sotong ngejar umpannya,”
Baru 15 menit pegang pancing, Rido mulai kehabisan akal. Pancingnya tak disentuh sotong atau memang dia yang tak bisa membedakannya.
Rasa bosan mulai menyelimutinya. Dari awalnya berdiri tegap, kini duduk manis dan sesekali berbincang dengan dua kawannya.
Belum lama duduk, pikirannya langsung beralih ke panci yang tergantung di pondok kecil di atas Kelong. Di bawah panci itu ada pula beberapa bungkus mie instan dan telur.
“Aku masak dulu. Udah lapar,” kata Rido bergegas dari atas papan kelong.
Putra dan Rudi saling pandang dan tertawa kecil. Dia pun memasak mie untuk makan malam pakai panci. Tidak ada kuali disana.
Bawang dan cabai pun digoreng di panci. Tetap sedap. Apalagi di tengah laut yang dingin, melahap mie rebus itu serasa makan di restoran.
Siap makan, mereka kembali melempar pancing masing-masing. Satu jam berselang, dua kawannya sudah dapat beberapa ekor. Rido sendiri malah tak sempat merasakan ada nyangkut di pancingnya.
Jangankan ikan, sampah pun tak nyangkut.
Rasa bosan kembali bersemi. Rido masuk ke pondok. Rehat sebentar. “Datang jauh-jauh mau tidur atau mancing,” celetuk kawannya.
Rido tetap saja tidur setengah jam. Setelah itu, dia bangun dan memancing lagi. Rehat lagi, bangun, memancing. Begitulah hingga tengah malam.
Menjelang pergantian hari, semangat Rido kembali bangkit. Dia mulai memancing di samping Putra. Sedangkan Rudi lebih sering memancing di bagian belakang.
Saat itulah kisah Romeo dan Juliet seakan terjadi dengan nyata di depan mereka. Seekor sotong nyangkut di kail Putra dan diikuti sotong yang lebih besar.
“Ini kawan atau pasangannya,” kata Putra menduga-duga.
Putra tak langsung menarik pancingnya. Dia menggeser ke kiri, lalu ke kanan. Sotong merah terus mengikutinya seakan-akan tak rela pasangannya ditarik ke atas kelong.
Akhirnya, sotong kedua tersangkut juga di mata kail yang satu lagi. Suara tawa Putra langsung lepas. Sotong pasangan sejoli itu akhirnya sama-sama mati.
Kisah mereka pun berakhir di mata pancing Apollo. “Begitulah sotong, kalau nyangkut satu, yang lain ikut ngejar. Dapat tidaknya, tergantung nasib dan teknik kita,” kata dia.
Untuk memancing sotong, tidak menggunakan umpan. Hanya menggunakan mata pancing Apollo. Terbuat dari gabus warna-warni lalu dibagian bawah terdapat beberapa mata pancing yang cukup rapat lalu dipasang pemberat. Ada dua Apollo di satu pancingan.
Pancingan di lempar ke laut hingga talinya kendur. Artinya, pemberat sudah sampai di dasar laut. Sedangkan mata pancing (pelampung) akan mengapung.
Di dalam air, pelampung itu bersinar. Jika disentak, sotong akan tertantang mengejarnya. Ketika mendekat, kumisnya akan tersangkut di mata kail yang cukup rapat tersebut.
Nah, saat seperti inilah seorang pemancing harus bisa merasakan ada yang beda. Karena itulah, tali pancing harus diletakkan di jari tangan agar bisa membedakan pancingnya sudah ada yang nyangkut atau tidak.
“Sotong itu gak melawan. Kalau kumisnya udah nyangkut, dia ikut aja. Makanya waktu narik pancingan, gak bisa kuat. Pelan aja biar gak putus kumisnya,” rahasia kedua yang diajarkan Putra malam itu ke Rido.
Melepas sotong dari mata kali pun sangat gampang. Sebab, mata kailnya tidak pakai pengait seperti mata pancing biasa.
Kemudian, sotong tidak akan bergerak lagi jika sudah diletakkan di atas papan kelong. Sotong tidak seperti ikan lain yang suka lompat sana, lompat sini.
Malam itu Rido memang tidak dapat satu ekor pun. Namun dia dapat pengalaman dan ilmu tambahan dari nelayan.
Dinihari, saat melempar pancingnya untuk terakhir kalinya, Rido berharap ada Sotong Romeo dan Juliet lainnya yang akan mengakhiri kisah mereka di Apollo miliknya.
Sampai mereka mau pulang, Rido hanya bisa melihat gerombolan sotong yang wara-wiri di depannya seakan-akan mengejeknya.
Ya, kadang rombongan sotong memang melintas di depannya. Namun tidak turun ke dasar laut. Sehingga tidak melihat Racun Besi Runcing Apollo di kedalaman 9-10 meter tersebut.
Saat meninggalkan kelong tersebut, Rido sempat berpikir, bahwa malam itu dua pasang sotong mengakhiri hidupnya di Apollo milik Putra.
Begitulah kisah pemancing di laut. Tidak bisa asal pasrah dengan nasib. Namun harus memiliki pengalaman soal pancingan.
Dan,,,,,,Rido pun mengubur impiannya membawa pulang satu ember sotong pagi itu. Seandainya Ikan Buntal pun nyangkut, dia pasti sudah senang.***


