BATAM

Amsakar Ajak Paguyuban Ambil Peran, Dari Rantau untuk Batam yang Lebih Maju

Amsakar Ajak Paguyuban Ambil Peran, Dari Rantau untuk Batam yang Lebih Maju.f-ist

BATAM, katasiber – Malam di halaman Parkir Mall Botania 2, Batamcentre, Sabtu (2/5/2026), terasa semarak.

Lampu-lampu panggung berpadu dengan riuh tepuk tangan, menyambut momen pelantikan pengurus DPD Persatuan Keluarga Daerah Piaman (PKDP) Kota Batam dan DPD Generasi Muda Pariaman (GEMPAR) Kota Batam.

Namun, di balik suasana seremonial itu, terselip pesan yang jauh lebih dalam: tentang tanggung jawab, identitas, dan peran nyata membangun daerah.

Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, hadir langsung di tengah-tengah para perantau asal Padang Pariaman. Ia tidak hanya menyampaikan ucapan selamat, tetapi juga menegaskan arah yang harus ditempuh setelah pelantikan usai.

Baginya, sebuah organisasi tidak boleh berhenti pada prosesi pengukuhan. Ada harapan besar agar PKDP dan GEMPAR mampu menjelma menjadi kekuatan sosial yang hidup, bergerak, dan memberi dampak nyata bagi masyarakat.

“Pelantikan ini jangan hanya dimaknai sebagai seremoni. Setelah dikukuhkan, segera susun program kerja yang terukur agar organisasi ini benar-benar dirasakan manfaatnya,” ujarnya.

Di hadapan ratusan peserta yang hadir, Amsakar mengajak para perantau untuk melihat Batam bukan sekadar tempat mencari nafkah, tetapi sebagai rumah yang layak dijaga bersama.

Ia mendorong lahirnya rasa memiliki yang kuat, sebagai fondasi utama dalam berkontribusi.

“Saya ingin kita memaknai diri sebagai orang Batam asal Padang Pariaman. Ketika rasa memiliki itu tumbuh, maka keinginan untuk berbuat dan berkontribusi juga akan mengikutinya,” katanya.

Pesan itu terasa relevan di tengah dinamika Batam sebagai kota industri dan tujuan para perantau. Di kota ini, beragam latar belakang budaya bertemu, membentuk mozaik sosial yang unik.

Paguyuban, dalam konteks ini, menjadi jembatan menghubungkan identitas asal dengan tanggung jawab di tanah rantau.

Amsakar pun menekankan pentingnya sinergi antara paguyuban dan pemerintah.

Ia melihat potensi besar yang bisa digerakkan bersama, mulai dari menjaga kebersihan lingkungan, mendukung penataan kota, hingga menciptakan iklim investasi yang kondusif.

“Energi positif harus terus kita bangun. Hindari diskusi yang kontraproduktif. Selaraskan dengan semangat ‘bijak di rantau, berguna di kampung’,” pesannya.

Malam itu, Amsakar juga memaparkan sejumlah capaian pembangunan Batam yang menjadi pijakan optimisme ke depan. Realisasi investasi yang menembus Rp69,3 triliun melampaui target menjadi indikator kuat bahwa Batam masih menjadi magnet ekonomi. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang mencapai 88,8, tertinggi di Kepulauan Riau dan peringkat keempat di Sumatra, turut menegaskan kualitas pembangunan yang terus meningkat.

Tak hanya itu, angka kemiskinan yang berhasil ditekan hingga 3,81 persen serta penurunan tingkat pengangguran menjadi bukti bahwa arah pembangunan berada di jalur yang tepat.

Namun, di balik capaian itu, Amsakar mengingatkan bahwa pekerjaan belum selesai.

Tantangan ke depan membutuhkan kerja kolektif, kolaborasi lintas sektor, dan partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat termasuk komunitas perantau.

Di tengah alunan musik dan suasana kebersamaan, pesan itu terasa kuat menggema.

Bahwa membangun kota bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama.

Dan dari panggung sederhana di Botania malam itu, lahir harapan: agar paguyuban tidak sekadar menjadi tempat berkumpul, tetapi juga motor penggerak perubahan.

Dari rantau, untuk Batam lebih maju, lebih kuat, dan lebih bermakna. (bs)

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *