TANJUNGPINANG

Budaya Hidup Sehat di Jalan Bandara RHF Tanjungpinang (1)

Warga saat jogging di Jalan Bandara RHF Tanjungpinang. f-katasiber

BUKAN deru suara knalpot kendaraan yang terdengar di jalan Bandara RHF Tanjungpinang di hari Sabtu-Minggu dan libur nasional, melainkan suara langkah kaki masyarakat. Ya, disanalah budaya hidup sehat itu bermula.

Oleh : Martunas Situmeang

MINGGU (3/5/2026) tadi pagi, ratusan warga tanpa dikomandoi serentak jalan kaki menuju bandara. Sebagian datang bersama keluarga. Ada juga yang menyendiri.

Ada yang lari-lari kecil, naik sepeda, jalan santai, termasuk pakai sepatu roda khusus anak-anak. Pemandangan seperti ini sudah biasa terutama di hari Sabtu-Minggu pagi dan sore.

Mungkin sebagian datang jam 5 pagi atau jam 5.30 pagi. Karena jika kita datang kesana jam 7 pagi, sudah ada yang pulang. Artinya, orang-orang itu datang lebih awal.

Kebiasaan jogging di jalan bandara tersebut bermula 4 (empat tahun lalu) yakni sejak jalan bandara diperbaiki dan didesain untuk pejalan kaki.

Ini salah satu bandara yang unik. Karena masyarakat bebas berolahraga di kawasan bandara. Tentu saja tidak masuk ke landasan. Sebab, kawasan landasan itu dipasang kawat duri.

Setelah diresmikan Gubernur Kepri H Ansar Ahmad tahun 2023 awal, jalan itu mulai jadi perhatian masyarakat. Awalnya banyak yang ingin merasakan udara segar disana di pagi hari sembil menikmati jalan baru tersebut.

Rupanya, mereka merasa nyaman. Apalagi, jalan yang bisa ditapaki cukup panjang. Bisa ribuan langkah. Berawal dari situlah, jadinya kebiasaan dan jogging menjadi budaya.

Tahun 2007, sebelum jalan itu diperbaiki, masih minim yang datang olahraga kesana. Kini, terutama 3 tahun belakangan ini, jalan tersebut selalu ramai.

Namun, jumlah warga yang olahraga kesana selain Sabtu-Minggu dan hari libur nasional, tergolong sepi. Di pagi hari, paling belasan atau puluhan orang saja yang datang. Sore harinya lebih ramai.

Jika diperhatikan, kebiasaan jogging itu banyak dilakukan kalangan keluarga baik suami, istri dan anak. Ada juga yang berkelompok, seperti kawula muda.

Ada yang hanya suami istri, pasangan kekasih, atau sendiri-sendiri. Yang mereka lakukan sesuai kemampuan dan lebih banyak yang jalan kaki. Mungkin tak sanggup lagi lari-lari.

Kebanyakan yang datang ke sana adalah warga Ganet sekitarnya. Dan beberapa orang dari arah Batu 16 arah Uban, ada juga yang datang kesana. Mungkin karena ramai, mereka semangat jogging di tempat itu.

Ardi, salah seorang warga mengatakan, awalnya dia sangat malas keluar rumah ketika disuruh ibunya olahraga di jalan bandara itu.

Tapi, setelah melihat keramaian itu, semangatnya malah menggebu-gebu. “Pas mau datang, kayak malas gitu. Nyampai disini, nengok banyak orang gini, langsung bangkit semangat itu,” katanya sambil menunjuk banyaknya warga saat itu.

Bagi dia, salah besar jika warga sekitar Ganet tidak memanfaatkan jalan tersebut untuk olahraga. Jaraknya tidak jauh dari rumah. Jika datang pagi, cuaca sangat sejuk. Apalagi banyak pohon di sepanjang jalan.

Dia juga memuji langkah pemerintah yang menyetting jalan itu. “Hebat rancangannya. Tanam dulu pohon, setelah besar baru dibangun jalannya agar warga bisa olahraga,” katanya memberi penilaian.

Jika dikaitkan dengan biaya pembangunan jalan itu yang mencapai Rp30 miliar lebih selama dia tahun, maka tidak sia-sia pemerintah menggelontorkannya.

Bukan hanya estetika jalan bandara yang diperbaiki, tapi kini, kesehatan warga itulah nilai tambah yang paling mengesankan. Budaya hidup sehat itu yang akhirnya terbentuk.

Mungkin, makin minim anggaran yang dikeluarkan BPJS Kesehatan tiga tahun belakangan ini di daerah Tanjungpinang Timur. Karena pola hidup warga mulai berubah.

Tapi itu hanya cerita mungkin. Sebab, pihak rumah sakit, atau pihak puskesmas belum tentu membuat data statistik akan perubahan data seperti itu setiap tahun.

Yang jelas, pihak Kementerian Kesehatan pernah menyerukan agar warga terus menjaga pola hidup sehat. Sebab, anggaran kesehatan membengkak saking banyaknya orang sakit.

Artinya, jika makin banyak warga Indonesia yang menjaga pola hidup sehat, makin sedikit pula biaya yang dikeluarkan BPJS Kesehatan atas klaim perobatan. Dan salah satu pola hidup sehat itu adalah, rutin olahraga.

Oleh Kemenkes juga sudah diserukan agar warga Indonesia olahraga minimal 30 menit sehari dan dilakukan minimal 5x seminggu.

Nah, coba Anda jalan kaki di jalan bandara, lalu keliling di dalam kawasan bandara dan kembali ke rumah, setidaknya butuh waktu 40-60 menit.

Dengan rentang waktu segitu, jika Anda jalan kaki, setidaknya sudah 4.000 langkah hingga 6.000 langkah setiap hari. Ya, lumayan lah untuk menjaga kesehatan.

Jika kita kaitkan dengan tulisan-tulisan di dunia maya, apabila seseorang jalan kaki 10 ribu kaki setiap hari (5 kali seminggu), maka usianya disebutkan awet muda 12 tahun atau usia mungkin tambah 12 tahun, tentu ini akan menambah semangat.

Terkait data di atas, tentu masih perdebatan tentang kebenarannya. Apalagi jika berprinsip usia di Tangan Sang Pencipta. Susah kalau jawabannya sudah begitu.

Dan saya juga pernah membaca tulisan, bahwa angka itu diperoleh atas penelitian langsung terhadap orang-orang yang berolahraga 6.000 hingga 12.000 langkah setiap hari.

Tentu saja, akan ada juga orang-orang yang mempertanyakan tulisan itu. Okelah, mari kita fokus pada budaya hidup sehat itu saja. Mungkin, atau pasti lah bermanfaat untuk pribadi masing-masing.

Yang jelas, dalam benak saya selalu berharap agar jalan itu penuh setiap hari. Dengan begitu, semangat untuk jogging akan menjadi jadwal rutin setiap hari, jika tak turun hujan.

Dan saya sendiri, bukanlah pelari. Saya kebanyakan sama dengan warga lainnya. Cukup jalan kaki saja. Itupun sekitar 5.000 hingga 5.500 langkah saja setiap hari selama 5x seminggu.

Lumayanlah mengurangi atau memperlambat laju pertumbuhan buncit yang saya pelihara selama 25 tahun belakangan ini.

Memang belum langsing. Namun, minimal menahan laju pertumbuhan buncit dan kegemukan itu.
Yang pasti, mempercepat laju pertumbuhan buncit itu gampang. Yang susah itu, mempercepat laju pertumbuhan ekonomi. Tak nyambung…….. (Bersambung)

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *