Sinergi di Atas Peta: TFG Pangkogabwilhan I Antisipasi Ancaman Megathrust

BENGKULU, katasiber – Di sebuah ruangan komando di Makorem 041/Gamas, Pangkogabwilhan I Letjend TNI Kunto Arief Wibowo berdiri di hadapan peta besar Pulau Sumatra.
Garis-garis imajiner yang tergambar bukan sekadar ilustrasi, melainkan representasi ancaman nyata: gempa bumi megathrust yang sewaktu-waktu bisa mengguncang kawasan tersebut.
Dalam suasana serius namun penuh semangat, Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan I itu memimpin langsung Tactical Floor Game (TFG) kesiapsiagaan bencana.
Latihan ini bukan sekadar simulasi biasa.
Ia menjadi ruang temu berbagai kekuatan mulai dari Tentara Nasional Indonesia, Kepolisian Negara Republik Indonesia, pemerintah daerah, Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan, hingga Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika.
Mereka hadir, baik secara langsung maupun melalui video conference, dari wilayah-wilayah yang berada di jalur rawan, seperti Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, dan Bengkulu.
Di balik meja simulasi, skenario demi skenario dibedah secara detail. Mulai dari deteksi dini hingga fase pemulihan pascabencana.
Setiap langkah dipertanyakan, diuji, lalu disempurnakan. Siapa bergerak lebih dulu? Bagaimana jalur evakuasi dibuka? Ke mana logistik didistribusikan? Semua dirancang agar ketika bencana benar-benar datang, tidak ada lagi ruang untuk ragu.
“Kesiapsiagaan seluruh unsur menjadi kunci utama,” tegas Kunto.
Pernyataannya bukan sekadar penekanan, melainkan refleksi dari kompleksitas penanganan bencana berskala besar.
Dalam situasi darurat, waktu adalah segalanya dan koordinasi menjadi penentu hidup dan mati.
TFG menjadi medium penting untuk menyatukan persepsi. Di sinilah para pemangku kepentingan melihat gambaran utuh lapangan, tanpa harus benar-benar berada di tengah bencana.
Visualisasi ini memungkinkan setiap unsur memahami perannya secara spesifik: kapan harus bergerak, kepada siapa berkoordinasi, dan bagaimana keputusan diambil dalam hitungan menit.
Lebih dari itu, latihan ini juga mengasah naluri kepemimpinan. Dalam tekanan simulasi, para komandan dituntut mengambil keputusan cepat namun tetap terukur.
Sebuah latihan mental yang tak kalah penting dibanding kesiapan personel dan peralatan.
Di tengah dinamika diskusi dan simulasi, satu hal menjadi benang merah: kolaborasi.
Tidak ada satu institusi pun yang mampu bekerja sendiri dalam menghadapi bencana sebesar gempa megathrust.
Sinergi lintas sektor menjadi fondasi utama.
“Melalui latihan ini, kita bangun kolaborasi yang solid,” ujar Kunto, menegaskan bahwa kesiapan bukan hanya soal kekuatan, tetapi juga tentang kebersamaan.
Kegiatan yang berlangsung tertib ini mencerminkan keseriusan semua pihak dalam menghadapi ancaman nyata di masa depan.
Di atas peta yang dipenuhi garis dan simbol itu, tersimpan harapan besar—bahwa ketika bumi benar-benar bergetar, semua sudah siap bergerak, cepat, tepat, dan menyelamatkan sebanyak mungkin nyawa (*/bs)


