Hangat di Usia Senja: Saat Batam Menjaga Bahagia Para Lansia

BATAM, katasiber – Sore itu, suasana di Golden Prawn terasa berbeda. Bukan hiruk-pikuk wisata kuliner yang mendominasi, melainkan tawa ringan dan sapaan hangat dari ratusan lansia, kader Posyandu, dan kader Kelurahan Siaga yang berkumpul dalam satu ruang kebersamaan, Senin (13/4/2026).
Di tengah mereka, Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, hadir bukan sekadar sebagai pemimpin, tetapi sebagai sosok yang ingin memastikan bahwa setiap warga—termasuk mereka yang telah memasuki usia senja tetap merasakan perhatian dan penghormatan.
Pertemuan itu menjadi lebih dari sekadar agenda seremonial.
Ia menjelma ruang silaturahmi yang hangat, tempat di mana pemerintah dan masyarakat saling mendengar, berbagi, dan menguatkan.
“Hari tua harus dijalani dengan tenang, nyaman, dan bahagia,” ujar Amsakar, menegaskan arah kebijakan Pemerintah Kota Batam yang semakin memberi ruang bagi kesejahteraan lansia.
Bagi Amsakar, perhatian terhadap lansia bukan sekadar program sosial yang bersifat sementara.
Ia adalah cerminan tanggung jawab moral dan keberpihakan pemerintah terhadap kualitas hidup warganya. Lansia, menurutnya, bukan kelompok yang harus dipinggirkan, melainkan bagian penting dari denyut kehidupan sosial yang tetap perlu diberdayakan.
Karena itu, berbagai kebijakan dirancang untuk mendorong kemandirian lansia—agar mereka tetap merasa dihargai, memiliki peran, dan tidak menjadi beban dalam keluarga maupun masyarakat.
Di balik upaya tersebut, ada peran besar yang kerap luput dari sorotan: para kader Posyandu dan Kelurahan Siaga.
Mereka adalah garda terdepan yang menjembatani program pemerintah dengan kebutuhan nyata di lapangan.
“Peran kader sangat strategis.
Mereka mendampingi masyarakat hingga ke tingkat paling bawah, memastikan layanan kesehatan dan sosial benar-benar dirasakan, termasuk oleh para lansia,” ungkap Amsakar.
Dalam keseharian, para kader inilah yang memastikan lansia tetap terpantau kesehatannya, mendapatkan edukasi, hingga merasa ditemani. Sentuhan sederhana yang, bagi banyak lansia, memiliki makna besar: mereka tidak sendiri.
Kegiatan silaturahmi ini pun menjadi ruang refleksi bersama—bahwa pembangunan kota tidak hanya diukur dari gedung-gedung tinggi atau pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari bagaimana sebuah kota memperlakukan warganya yang paling rentan.
Di akhir pertemuan, Amsakar mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menjaga semangat gotong royong.
Sebab, merawat kebahagiaan lansia bukan hanya tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama.
Dan dari ruang sederhana di Bengkong itu, tersirat sebuah pesan kuat: Batam ingin tumbuh sebagai kota yang tidak hanya maju, tetapi juga penuh empati—tempat di mana usia senja tetap dirayakan dengan tenang, bahagia, dan penuh penghormatan. (*/bs)


