Sapere Aude Untuk Mengukur Integritas Dalam Tribalisme Yang Lebay

Bayangkan sebuah rumah gadang yang berdiri anggun di tengah badai zaman. Fondasinya adalah ilmu, tiang-tiangnya adab, dindingnya akal sehat, dan atapnya agama.
Sejak kecil kita diajarkan merawat rumah itu: guru menyalakan lentera pengetahuan, orang tua menanamkan adab, para pemikir mengasah akal, sementara agama membimbing hati agar mampu membedakan yang benar dari yang keliru.
Keempatnya semestinya menjadi satu kesatuan yang membentuk manusia berilmu tanpa kehilangan adab, cerdas tanpa kehilangan nurani, dan beriman tanpa meninggalkan akal sehat.
Namun rumah itu mulai retak ketika politik tidak lagi dipandang sebagai amanah untuk mengurus kehidupan bersama, melainkan menjadi kendaraan bagi syahwat kekuasaan, nafsu dunia, dan ambisi berlebihan.
Pada saat itulah nilai-nilai yang seharusnya menjadi fondasi kehidupan justru dapat ditukar dengan loyalitas kepada kelompok dan figur.
Di sinilah “sapere aude” menemukan maknanya. Ungkapan Latin yang berarti “beranilah menggunakan akalmu sendiri” ini mengingatkan bahwa manusia tidak boleh menyerahkan seluruh pikirannya kepada tokoh, kelompok, atau kekuatan yang dikaguminya.
Berpikir sendiri bukan berarti merasa paling benar, apalagi menolak nasihat; ia berarti berani bertanya, memeriksa fakta, mempertimbangkan alasan, dan mengakui kekeliruan ketika kenyataan memang berkata lain.
Ilmu memberikan bahan untuk berpikir, adab mengajarkan bagaimana berpikir dan berbicara dengan santun, akal menimbangnya secara jernih, sementara agama menjaga agar kecerdasan tidak kehilangan arah moral.
Jika keempatnya berjalan bersama, perbedaan politik seharusnya tidak menjadi alasan untuk kehilangan persaudaraan.
Masalah muncul ketika lahir apa yang disebut “tribalisme”, yakni kecenderungan mengikat diri secara berlebihan kepada kelompok sendiri dan melihat kelompok lain sebagai “mereka” yang harus dicurigai.
Dalam politik, tribalisme dapat membuat seseorang begitu mencintai tokoh atau kelompoknya sehingga kesalahan dianggap kewajaran, sementara kesalahan lawan dianggap kejahatan besar.
Kritik kepada kelompok sendiri disebut pengkhianatan, sedangkan pembelaan terhadap kelompok lain dianggap permusuhan. Di sinilah tribalisme menjadi “lebay”: bukan lagi sekadar berbeda pilihan, melainkan ketika pilihan politik mulai menentukan siapa yang layak dihormati, siapa yang pantas dijauhi, bahkan siapa yang dianggap tidak lagi bersaudara..
Padahal politik hanyalah salah satu urusan dunia; ia tidak seharusnya menjadi ukuran tunggal untuk menilai harga diri manusia.
Yang lebih mengkhawatirkan, ilmu pun dapat kehilangan wibawanya ketika kepentingan mulai berbicara. Gelar akademik yang panjang tidak otomatis menjamin keberanian moral.
Orang berilmu dapat saja tergoda menggunakan kepakarannya untuk mencari pembenaran bagi kepentingan tertentu, sementara orang yang seharusnya menjadi penjaga adab justru ikut mempertajam permusuhan.
Di ruang digital, perbedaan pilihan dengan mudah berubah menjadi saling sindir, saling hujat, bahkan memutus silaturahmi.
Dalam keadaan demikian, “sapere aude” menjadi semacam cermin integritas: beranikah kita tetap mengatakan sesuatu benar ketika kelompok kita keliru? .
.Beranikah kita mengakui sesuatu baik ketika datang dari pihak yang tidak kita sukai? Dan beranikah kita mengatakan tidak ketika semua orang di sekitar kita sedang mengatakan ya?
Agama pun semestinya tidak dijadikan jubah untuk menutupi ambisi kekuasaan. Ayat suci bukan amunisi untuk memenangkan perdebatan, rumah ibadah bukan panggung untuk mempertajam sekat, dan kesalehan bukan tiket untuk mengklaim diri paling benar. ..
Agama justru mengajarkan manusia untuk menjaga lisan, menegakkan keadilan, menghormati perbedaan, dan mengendalikan hawa nafsu. Ketika agama, ilmu, adab, dan akal sehat tunduk kepada fanatisme kelompok, yang hilang bukan hanya kejernihan politik, tetapi juga sebagian dari martabat kemanusiaan. Sebab kekuasaan dapat berganti, jabatan dapat berakhir, tokoh dapat berganti wajah, tetapi luka akibat rusaknya persaudaraan sering kali tinggal lebih lama.
Karena itu, politik perlu ditempatkan pada proporsinya. Para politisi adalah manusia yang menerima atau meminta mandat untuk mengelola kepentingan publik, bukan manusia suci yang bebas dari kesalahan. ..
Kita boleh mendukung, tetapi tetap perlu berpikir; boleh mengagumi, tetapi tetap perlu menguji; boleh berbeda, tetapi tetap harus menjaga adab.
Jangan biarkan syahwat kekuasaan orang lain membuat kita kehilangan akal sendiri.
Jangan sampai demi membela seorang tokoh yang mungkin tidak mengenal kita secara pribadi, kita justru kehilangan sahabat, menjauh dari saudara, dan merusak ketenangan hati.
Integritas justru tampak ketika seseorang mampu menjaga prinsip meskipun prinsip itu tidak selalu menguntungkan kelompoknya sendiri.
Pada akhirnya, “sapere aude” bukan sekadar ungkapan filosofis, melainkan ajakan untuk kembali merawat rumah besar dalam diri kita: ilmu sebagai fondasi, adab sebagai tiang, akal sebagai penjaga kejernihan, dan agama sebagai cahaya moral.
Politik boleh hadir dalam kehidupan, tetapi jangan sampai menjadi berhala baru yang meminta seluruh kesetiaan. Tribalisme boleh tumbuh sebagai identitas kelompok, tetapi jangan sampai menjadi begitu “lebay” hingga membuat kita lupa bahwa orang yang berbeda pilihan tetap manusia, tetap saudara sebangsa, dan tetap memiliki martabat yang harus dihormati.
Maka beranilah berpikir sendiri, beranilah mengoreksi diri, dan beranilah mengatakan benar kepada kawan maupun lawan.
Sebab ukuran integritas bukan seberapa keras kita membela kelompok sendiri, melainkan seberapa teguh kita memegang kebenaran ketika kelompok sendiri ternyata keliru. (*)
Penulis: Buralimar, Warga Batam


