Ketika Puluhan Siswa “Menjadi Dosen” Sejarah di Kampus UMRAH
Robby Patria, dosen di Prodi Sejarah UMRAH

Suasana Hall A Gedung Ismeth Abdullah, kampus UMRAH di Dompak, tak seperti hari-hari biasa.
Puluhan siswa dari berbagai SMA di Tanjungpinang dan Bintan berdatangan bukan untuk berdemonstrasi, melainkan untuk sesuatu yang jauh lebih jarang terjadi di ruang publik kampus: belajar sejarah dari benda-benda yang usianya ratusan tahun.
Momen ini menandai kuliah perdana Program Studi Sejarah FKIP UMRAH yang mulai berjalan pada 7 September 2026.

Dan alih-alih memulainya dengan seremoni formal di ruang kuliah tertutup, prodi yang baru dibuka ini memilih pendekatan yang lebih terbuka: mengundang siswa SMA masuk langsung ke galeri peninggalan sejarah yang selama ini tersimpan di kampus.
Di galeri itu, para siswa berhadapan langsung dengan artefak yang jarang mereka temui di buku pelajaran: mata uang dari era Kerajaan Riau Lingga, sauh atau jangkar kapal tua, buah gambir yang dulu menjadi komoditas penting perdagangan, hingga koleksi buku dan foto-foto sejarah lokal.
Sebagai Koordinator Prodi Sejarah FKIP UMRAH, saya memberi waktu sekitar 20 menit bagi para siswa untuk mengamati langsung koleksi tersebut sebelum diminta menjelaskannya kembali di depan teman-teman dan guru mereka.
Pendekatan ini sederhana tapi cerdas secara pedagogis: alih-alih pasif menerima ceramah, siswa dipaksa aktif mengamati, memaknai, lalu mengartikulasikan temuan mereka sendiri.
Ivan dari SMAN 1 Tanjungpinang, misalnya, tertarik menelusuri jejak suku laut di Lingga dan Bintan.
Ara, siswa lain asal Tanjungpinang, justru penasaran dengan sejarah buah gambir sebagai komoditas dagang.
Delapan siswa lainnya bergiliran tampil menjelaskan temuan mereka masing-masing untuk sesaat, mereka benar-benar berperan seperti pengajar sejarah di depan audiens sendiri.
AI Sebagai “Asisten”
Yang membuat kegiatan ini menarik untuk dianalisis lebih jauh adalah keterlibatan kecerdasan buatan (AI) dalam proses belajar tersebut.
Siswa dibantu AI saat menyusun penjelasan atas artefak yang mereka amati sebuah eksperimen kecil yang mempertemukan dua dunia yang sering dianggap berjarak warisan sejarah fisik yang statis, dan teknologi yang serba cepat berubah.
Dosen Prodi Sejarah FKIP UMRAH, Tety Kurmalasari, menegaskan posisi AI dalam proses ini bukan sebagai sumber kebenaran mutlak.
Menurutnya, AI adalah alat yang mempermudah pekerjaan, namun keluarannya tidak boleh dipercaya begitu saja tanpa verifikasi.
Penegasan ini penting, sebab pembelajaran sejarah lebih dari mata pelajaran lain sangat rentan terhadap distorsi jika sumber tidak dikritisi.
Dengan menempatkan AI sebagai alat bantu dan bukan wasit kebenaran, model pembelajaran ini justru mengajarkan literasi kritis yang relevan bagi generasi yang tumbuh berdampingan dengan teknologi tersebut.
Lebih dari Sekadar Kuliah
Di balik kesan seremonial “kuliah pembuka”, kegiatan ini sebenarnya menyimpan pesan yang lebih besar.
Pertama, ia menjadi strategi rekrutmen sekaligus sosialisasi yang efektif bagi prodi baru siswa SMA yang datang bukan sekadar tamu, melainkan calon mahasiswa potensial yang diberi pengalaman langsung tentang apa artinya belajar sejarah di UMRAH.
Kedua, kegiatan ini menegaskan posisi sejarah lokal suku laut, jalur perdagangan gambir, era Kerajaan Riau Lingga sebagai identitas maritim yang layak dipelajari secara serius, bukan sekadar catatan pinggir dalam kurikulum nasional.
Ini sejalan dengan semangat besar yang tengah diusung FKIP UMRAH melalui berbagai programnya: membangun generasi yang mengenal dan bangga pada akar kemaritiman Kepulauan Riau.
Ketiga, penggabungan artefak fisik dengan bantuan AI menunjukkan bahwa perguruan tinggi daerah pun mampu bereksperimen dengan model pembelajaran kontemporer, tanpa harus menunggu arahan dari pusat.
Siswa tidak diminta menghafal tanggal dan nama, tetapi diajak berpikir dari mana artefak ini berasal, apa maknanya, dan bagaimana AI bisa membantu atau justru menyesatkan proses penafsirannya.
Kegiatan sederhana di Hall A itu, pada akhirnya, adalah investasi jangka panjang. Delapan siswa yang tampil “menjadi dosen” hari itu mungkin belum menyadari sepenuhnya, tetapi mereka baru saja mengalami satu hal yang jarang didapat siswa SMA pada umumnya: kesempatan untuk merasakan langsung bagaimana rasanya menjadi bagian dari proses produksi pengetahuan sejarah, bukan sekadar konsumennya.
Bagi Prodi Sejarah FKIP UMRAH yang baru saja lahir, ini adalah modal awal yang kuat bukti bahwa sejarah, jika dikemas dengan tepat, masih bisa membuat remaja masa kini rela datang dan antre menyentuh masa lalu.
Jangan pernah lupakan sejarah atau jas merah kata Sukarno. ***


