BUDAYA

Makam Jamita Mangaraja Situmeang Berdekatan dengan Si Raja Naipospos

Desain tugu Jamita Mangaraja SItumeang yang pernah dibuat namun belum dibangun hingga saat ini. f=ist

HINGGA tahun 2026 ini, belum diketahui dimana persisnya makam Jamita Mangaraja Situmeang. Lokasinya dipercaya di Dolok Imun, Hutaraja, Taput.

Namun, Hinambor (kuburan)-nya tidak diketahui persis dan belum ada bukti-bukti hingga saat ini. Beda dengan makam Si Raja Naipospos yang sudah ditemukan dan sudah dibuatkan kuburannya dari semen dan dikeramik.

Oleh sejumlah Namalo (orang pintar), lokasi makam Jamita Mangaraja Situmeang berada di Dolok Imun, tak jauh dari makam Siraja Naipospos.

Jika posisi makam Siraja Naipospos di bukit Dolok Imun, maka posisi makam Jamita Mangaraja Situmeang berada di bagian bawah. Namun bukan di kaki gunung.

Karena sudah berubah jadi hutan, tidak ada tanda-tanda makam itu. Sehingga beberapa orang yang pernah mencarinya, tidak menemukan kuburan tersebut.

Hal yang sama juga terjadi pada makam Siraja Naipospos. Meski sudah berkali-kali warga naik ke gunung itu, tapi mereka tidak menemukan makamnya.

Barulah saat arwah Siraja Naipospos masuk ke tubuh marga Hutauruk, ditemukanlah kuburan itu. Jadi, yang menunjukkan dimana posisi makamnya adalah Siraja Naipospos itu sendiri.

Demikian juga kelak akan ditunjukkan dimana makam Jamita Mangaraja Situmeang. Arwahnya akan masuk ke seseorang keturunannya dan akan ditunjukkannya juga makamnya dimana.

“Haduan sumorop do oppung i tu pomparannya. Disi pe paboaonna didia hinabbor na i,”

“Ke depan, Oppung itu akan masuk ke seseorang keturunannya. Saat itulah akan ditunjukkan dimana kuburannya,” demikian penuturan orang pintar beberapa tahun lalu.

Adapun Homban (mual/pancuran) milik Jamita Mangaraja Situmeang yang ada di kaki gunung Dolok Imun merupakan tempat pemandiannya zaman dulu.

Kebanyakan pengunjung hanya sampai di Homban itu saja untuk cuci muka (marsuap). Mereka tidak tahu hendak kemana jika mau ziarah. Sebab, belum ada kuburan Jamita Mangaraja Situmeang disana.

Sejak Homban itu dipugar dan dipasang keramik, makin banyak yang berkunjung ke tempat itu. Namun, belum ada kabar/berita/video atau tulisan apakah arwah Jamita Mangaraja Situmeang sudah masuk ke salah satu pomparannya disana.

Atau, mungkin karena mereka tidak naik ke gunung itu. Atau, mungkin belum waktunya untuk menunjukkan dimana makamnya.

Pernah seseorang mengatakan, kuburannya akan ditunjukkan apabila keturunannya sudah bersatu (marsada roha). Namun, bersatu yang dimaksud dalam hal ini maknanya cukup dalam.

Dulu, pernah hendak dibangun tugu Jamita Mangaraja Situmeang. Namun tidak jadi. Salah satu penyebabnya, belum ada kata sepakat. Mungkinkah ini yang dimaksud Marsada Roha.

Jika bicara mengenai arwah, ini akan menjadi perdebatan terutama karena ajaran agama. Meski kenyataannya hal itu terjadi, namun sebagian sulit menerimanya.

Yang terpenting, sebaiknya keturunan Jamita Mangaraja Situmeang mencari tahu dimana kuburan Oppung-nya.

Karena pada umumnya marga-marga Batak sudah mengetahui dimana Oppungnya dan sudah membuat tugu. Salah satu syarat mendirikan tugu adalah harus tahu dimana kuburannya untuk diambil tanahnya.

Diantara 7 anak Siraja Naipospos, 6 diantaranya sudah mendirikan tugu Oppung kita masing-masing.

Tugu Parsadaan Marbun dibangun di Lembah Bakkara, Kecamatan Baktiraja, Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas), Sumatera Utara.

Tugu Sibagariang di Hutaraja. Tugu Hutauruk di Hutagurgur dan Tugu Simanungkalit di Simanungkalit Sipoholon. Bagaimana dengan Jamita Mangaraja?

Tugu terakhir yang diresmikan adalah Tugu Hutauruk di Desa Hutagurgur Sipoholon tahun 2023 lalu oleh Bupati Taput, JTP Hutabarat.***

Oleh : Martunas Situmeang

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *