Kemarau ‘Cekik’ Hasil Panen Padi Natuna

NATUNA – Dengan jumlah penduduk sekitar 84.911 jiwa per Juni 2026, maka kebutuhan beras di Kabupaten Natuna Provinsi Kepri sekitar 551.921 kilogram per bulan dengan asumsi 6,5 Kg per orang/bulan. Atau sekitar 6.623.058 Kg per tahun.
Dari data ini, maka kebutuhan beras untuk warga Natuna umumnya dari luar daerah. Karena produksi gabah kering petani Natuna masih sangat minim.
Terdata, target gabah kering panen tahun ini sekitar 230 ton. Walupun Kemarau yang cukup panjang, data per Juli akhir, hasil panen Natuna sudah mencapai 127 ton dengan luas tambah tanam lebih kurang 40 hektar yang terdiri dari Kecamatan Serasan Timur, Kecamatan Bunguran Tengah dan Kecamatan Batubi.
Setiap daerah itu punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Namun Natuna mempunyai potensi untuk swasembada pangan untuk masa akan datang.
Indikatornya yaitu Luas lahan yang tersedia cukup luas, dukungan pemerintah daerah yang tinggi dan semangat petani yang cukup tinggi.
Kendala yang dihadapi yaitu SDM (Sumber Daya Manusia) yang masih kurang. Jumlah petani semakin berkurang karena usia muda atau melenial kurang berminat untuk terjun ke bidang pertanian.
Namun jika mekanisasi diterapkan maka tidak menutup kemungkinan usia milenial akan tertarik untuk terjun ke bidang pertanian karena dilengkapi mesin pertanian yang modern dan menghemat biaya dan tenaga.
Hal itu disampaikan Wakil Bupati Natuna, Jarmin, S.E saat kegiatan Panen Raya Padi Kelompok Tani Cipto Dadi dan Kelompok Tani Harapan Makmur di Kecamatan Bunguran Batubi, Selasa (1/9/2026) siang yang juga dihadiri Wakil Gubernur Kepulauan Riau, Dr. Nyanyang Haris Pratamura, S.E., M.Si.
Rangkaian kegiatan itu diawali dengan peninjauan lahan sawah milik Kelompok Tani Harapan Makmur. Dalam kesempatan tersebut, Wakil Gubernur Kepri melihat secara langsung kondisi tanaman padi sekaligus berdialog dengan para petani yang berada di lokasi.
Wakil Gubernur Kepri, Nyanyang Haris Pratamura menyampaikan harapan agar hasil panen padi pada masa mendatang dapat lebih meningkat. Ia juga mengapresiasi upaya para petani yang terus mengembangkan sektor pertanian di Kecamatan Bunguran Batubi.
Pada saat peninjauan tersebut, turut dilakukan peresmian penggunaan air irigasi sawah petani yang merupakan bagian dari Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI) dari Kementerian Pekerjaan Umum melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Balai Wilayah Sungai Sumatera IV Batam.
Pemanfaatan jaringan irigasi tersebut diharapkan dapat mendukung ketersediaan air bagi lahan pertanian, sehingga petani dapat meningkatkan produktivitas serta menjaga keberlanjutan usaha budidaya padi.
Usai bercengkerama dan berdialog dengan kelompok tani yang tengah melaksanakan panen, Wakil Gubernur Kepri bersama Wakil Bupati Natuna dan rombongan kemudian melanjutkan rangkaian kegiatan ke lokasi panen padi Kelompok Tani Cipto Dadi.
Luas panen 10 Ha (Poktan Ciptodadi 6 Ha, Poktan Harapan Makmur 2,5 Ha dan Poktan Melati Mekar Jaya 1,5 Ha). Produksi panen 3-3, 5 ton/Ha.
Panen kali ini terjadi peningkatan dikarenakan adanya bantuan Pembenahan Tanah yaitu Dolomit dan Pupuk NPK 16.16.16 dari Pemda Natuna. Rata-rata produksi sekitar 2,5 – 3,5ton/Ha.
“Saat ini kendala utama yaitu kebutuhan air yang kurang saat tanaman butuh air yang cukup, seperti vase generatif atau saat padi mulai bunting atau keluar malai namun air kurang kerena kamarau,” demikian disampaikan Wakil Bupati dari situs resmi Pemkab Natuna.
Harga gabah saat ini mengacu harga gabah Nasional yaitu Rp. 6500/Kg.
Langkah yang bisa ditempuh yaitu melakukan inovasi Budidaya seperti sistem tanam PM-AAS, melakukan pendampingan di lapangan oleh petugas lapangan seperti Penyuluh dan Petugas POPT (Petugas Hama Penyakit Penyakit Tanaman), Melakukan Gerakan Pengendalian (Gerdal) OPT/Hama Penyakit tanaman bersama petani yg dilakukan petugas POPT DKPP.
Juga memberikan bantuan/stimulus sperti Dolomit, NPK dan Insektisida, melakukan pendampingan pengajuan Pupuk bersubsidi bagi petani dan melakukan pemantauan rutin kondisi ketersediaan air terutama pada sarana seperti Pompanisasi yang sudah petani dapatkan.
Meski demikian, produktivitas tanaman padi masih menghadapi sejumlah tantangan. Kondisi cuaca yang saat ini memasuki musim kemarau serta tingginya tingkat serangan hama menjadi kendala yang turut memengaruhi hasil produksi.
Dalam kondisi normal, produktivitas lahan kedua kelompok tani tersebut dapat mencapai sekitar 3 hingga 3,5 ton per hektare. Dengan adanya dukungan sarana irigasi serta pendampingan kepada petani, diharapkan produktivitas dapat kembali meningkat pada musim tanam berikutnya.
Pemerintah Kabupaten Natuna terus mendorong pengembangan sektor pertanian melalui penguatan sinergi dengan Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau dan pemerintah pusat.
Dukungan terhadap infrastruktur pertanian, ketersediaan air irigasi, pendampingan penyuluh, serta pengendalian hama menjadi bagian penting dalam meningkatkan hasil produksi dan kesejahteraan petani.
Turut hadir dalam rangkaian kunjungan kerja tersebut Anggota DPRD Provinsi Kepulauan Riau Dapil Natuna-Anambas, kepala OPD di lingkungan Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau, kepala OPD di lingkungan Pemerintah Kabupaten Natuna, Camat Bunguran Batubi, penyuluh pertanian, kelompok tani, serta tokoh masyarakat.
Sebagai informasi, rata-rata hasil panen padi di Indonesia 5-6 ton per hektare. Jumlah ini bisa naik jika menggunakan teknologi pertanian hingga bisa menghasilkan -10 ton per hektare.
Sedangkan gabah kering jika sudah digiling akan menghasilkan beras 57-59 persen. Artinya, jika 1 ton gabah kering digiling akan menghasilkan beras 570-590 Kg.
Kepri yang merupakan daerah kepulauan hanya memiliki sedikit daratan serta keterbatasan sumber air. Sehingga tidak akan bisa swasembada beras. Artinya, warga Kepri akan mengeluarkan uang setiap bulan untuk membeli beras dari luar daerah. (*/Martunas)
Editor : Abas


