BUDAYA

Situmeang Sebaiknya Panggil Amangboru ke Siahaan Hinalang dan Simangunsong

Inilah desain tugu Jamita Mangaraja Situmeang yang pernah dibuat namun belum dibangun hingga saat ini. f-ist

PADA tulisan sebelumnya sudah kami sampaikan hubungan atau kaitan Situmeang dengan Siahaan Hinalang dan juga hubungan Situmeang dengan Simangunsong.

Situmeang merupakan Mataniari Biccar bagi Simangunsong dan Siahaan Hinalang. Kemungkinan, istri Simangunsong adalah Boru Situmeang generasi ke-2. Sedangkan istri Siahaan Hinalang adalah Boru Situmeang generasi ke-4.

Karena itulah, Siahaan Hinalang selalu memanggil Tulang (Paman) kepada marga Situmeang. Sedangkan Simangunsong sudah mulai memanggil Tulang juga.

Lalu, bagaimana Situmeang memanggil mereka. Sebaiknya Situmeang memanggil Amangboru. Etisnya memang begitu meski mereka masih muda atau sudah tua.

Karena Siahaan Hinalang yang sudah tua pun akan tetap memanggil Situmeang sebagai Tulangnya. Harus dibalas dengan panggilan Amangboru. Sehingga sama-sama saling menghargai.

Mereka juga akan memanggil Nantulang kepada istri Situmeang. Tentu saja, kita juga akan memanggil Namboru terhadap istri Siahaan Hinalang atau istri Simangunsong.

Beda hal jika ada partuturan yang lebih dekat, maka kita bisa saling menyapa dengan partuturan tersebut.

Misalnya, jika ada Siahaan Hinalang memanggil tulang, tapi istrinya Boru Tampubolon sementara Situmeang tersebut istrinya juga Boru Tampubolon, maka untuk masing-masing istri panggilannya boleh beda.

Tak harus panggil Nantulang dan Namboru. Bisa saja panggil pariban atau adek, atau kakak tergantung siapa lebih tua atau siapa duluan menikah.

Biasanya, jika bertemu yang istrinya sama-sama boru yang sama, maka Siahaan Hinalang tetap memanggil tulang ke Situmeang dan memanggil adek, kakak atau pariban ke istri Situmeang tersebut. Sebaiknya, Situmeang juga harus tetap memanggil Amangboru.

Bahkan, ada juga Siahaan Hinalang yang beristrikan Boru Situmeang lebih senang memanggil Tulang ke marga Situmeang daripada memanggil Amang, Lae atau Oppung.

Ini menandakan bahwa di hati mereka, sudah melekat bahwa Situmeang akan tetap menjadi tulang selamanya. Dan itu terbawa-bawa sejak ratusan tahun silam hingga zaman modern ini.

Sebenarnya panggilan Amangboru sering juga kita ucapkan apabila seseorang memanggil kita sebagai Tulang.

Misalnya, seorang marga Purba yang merupakan anak Boru Marbun memanggil tulang kepada marga Situmeang atau Marbun. Jika bukan keponakan kandung, maka sebaiknya kita panggil Amangboru terlebih jika usianya lebih tua atau sebaya atau hanya sedikit di bawah usia kita.

Saya sendiri selaku Bere Tuan Dibangarna selalu memanggil Tulang ke Panjaitan, Silitonga, Siagian, Sianipar, Pardosi. Dan mereka biasanya memanggil saya Amangboru. Meski ada juga yang manggil Lae.

Begitulah enaknya cara bertutur atau panggilan yang pas dalam kehidupan sehari-hari agar sama-sama nyaman, sama-sama senang, sama-sama saling menghargai.***

Oleh : Martunas Situmeang

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *