BINTAN

Bintan Resort Semakin Mengukuhkan Diri Sebagai Destinasi Pariwisata Olahraga di Kepri dan Indonesia

BINTAN – Deru kayuh para pebalap yang mengayuhkan sepeda seolah mingu kemarin, masih terasa riuhnya sampai saat ini.

Setelah empat tahun tertunda akibat pandemi Covid-19 dan kendala teknis, Tour de Bintan akhirnya terselenggara dengan sukses pada 21 hingga 23 Agustus 2026 lalu.

Tercatat 838 peserta dari 42 negara terdaftar hingga H-3, sebuah angka yang melampaui target awal 700 peserta dan menegaskan bahwa Bintan masih ada di peta utama sport tourism Asia.

Tahun ini Tour de Bintan tampil dengan identitas baru dan sembilan kategori yang dirancang untuk merangkul semua level.

Dari data panitia, Gran Fondo Classic 150 kilometer menjadi yang paling diminati dengan 266 peserta, disusul Gran Fondo Century 100 kilometer sebanyak 221 peserta, Gran Fondo Discovery 45 kilometer 182 peserta, Gran Fondo Challenge 70 kilometer 101 peserta, serta Individual Time Trial 17 kilometer yang melengkapi tantangan.

Rutenya bukan hanya soal kecepatan, melainkan pengalaman. Peserta melintasi panorama tropis yang menjadi ciri khas Pulau Bintan, dari kawasan pantai, perkampungan, hingga tepian hutan, dengan pusat kegiatan di Lagoi Bay, Bintan Resorts.

Tour de Bintan memang bukan satu-satunya. Ia berdiri bersama dua pilar lain yang sudah dikenal lebih dari satu dekade dan langganan tercantum dalam Kalender Event Kementerian Pariwisata RI..

Ada Mandiri Bintan Marathon, yang sejak debutnya pada tahun 2019 tiap tahun menarik perhatian pelari profesional dan amatir dari berbagai negara di Asia Tenggara.

Konsepnya sederhana namun kuat, lari sambil berlibur. Lomba ini dipusatkan di Plaza Lagoi Bay dan menawarkan lintasan baru yang diukur dengan presisi tinggi sesuai standar AIMS, dengan jarak akurat untuk kategori Marathon, Half Marathon, dan 10 Kilometer, lengkap dengan race village dan panggung hiburan yang mengubah akhir pekan menjadi festival.

Kemudian ada Bintan Triathlon, yang usianya telah lebih dari dua dekade dan bahkan mendapat penghargaan sebagai Event Pariwisata Konsisten dari Pemerintah Provinsi Kepri.

Sejarahnya panjang, pernah masuk kategori Top 10 dalam Calendar of Event Kemenpar 2019 bersama Tour de Bintan dan IronMan 70.3 Bintan yang berada di Top 100.

Event yang memadukan renang, sepeda, dan lari ini bukan sekadar adu fisik, melainkan festival ketahanan yang memancarkan pesona Pulau Bintan ke kancah global. Tahun 2023 lalu ia berhasil menarik lebih dari 500 atlet dari 35 negara setelah tiga tahun absen, dan pada masa puncaknya di tahun 2017 jumlah peserta pernah mencapai 1.300 orang dari 37 negara, bukti bahwa kepercayaan komunitas triathlon internasional terhadap standar penyelenggaraan di Bintan sangat tinggi.

Inilah bukti nyata dari kerja keras, keseriusan, konsistensi dan komitmen yang kuat. Bahwa Bintan, khususnya Bintan Resorts yang lebih akrab disebut Lagoi, tidak sedang mencoba-coba, melainkan sedang membangun panggung wisata dunia secara bertahap. Jalan yang ditempuh bukan jalan pintas, melainkan jalan emas menuju pariwisata yang sustainable dan regeneratif, di mana event menjadi jangkar, alam menjadi panggung, dan masyarakat menjadi tuan rumah yang ikut menikmati hasilnya.

Lagoi juga tidak hanya hidup dari tiga event andalan itu. Di luar musim balap, kalendernya tetap penuh sebagai supporting event yang dilaksanakan setiap tahun.

Ada Bintan E-Sport Championship yang pada 27 hingga 28 Juni 2026 digelar di Plaza Lagoi sebagai wadah generasi muda dan penanda bahwa Bintan mampu mengakomodasi tren wisata dan hiburan modern, ada Jong Race Festival yang merayakan perahu layar mini tradisional tanpa awak dan telah menjadi agenda tahunan andalan yang masuk kalender pariwisata.

Ada Bintan Regatta yang merupakan kolaborasi dengan Changi Sailing Club dengan 15 kapal layar dari Singapura dan 250 perahu.

Jong dari komunitas Kepri, ada Bintan Resorts Carnival yang menghadirkan nuansa karnaval meriah di akhir tahun, serta ada gerakan kolektif seperti Road to Give, ajang lari amal dari Natra Bintan dan Four Points by Sheraton yang mengajak wisatawan berdonasi sambil menikmati destinasi premium.

Semua itu ditopang oleh lanskap yang tidak kecil. Bintan Resorts diatur di atas areal 27.000 hektar yang baru sepertiganya dikelola, namun sudah menjelma menjadi andalan Indonesia dan Kepri.

Pintu masuknya jelas, Pelabuhan khusus Bandar Bentan Telani menjadi saksi kedatangan wisatawan mancanegara dari Singapura.

Data mencatat ada 171.000 wisman yang datang melalui pelabuhan laut tersebut pada tahun 2024, berkembang menjadi 240.000 pada tahun 2025, serta pada Juni 2026 sudah mencatat 129.000 kedatangan.

Komposisinya didominasi wisman asal Singapura, Malaysia, Tiongkok, India, Australia dan Jepang, sebuah profil yang menunjukkan betapa Lagoi sudah menjadi hub regional.

Fasilitas di dalamnya pun menegaskan kesiapan itu. Bukan hanya satu atau dua hotel, melainkan sebuah klaster resort dengan lebih dari 3.200 kamar dan ditargetkan akan bertambah menjadi 5.500 kamar dalam jangka waktu 2-3 tahun mendatang..

Nama-nama hotel seperti Banyan Tree Bintan, The Sanchaya, Hotel Indigo Bintan Lagoi Beach, Angsana Bintan, Nirwana Gardens, Bintan Lagoon Resort, Four Points by Sheraton Bintan Lagoi Bay, Holiday Inn Resort Bintan Lagoi Beach.

Cassia Bintan, The ANMON Resort, Natra Bintan, Kamuela Villas Lagoi Bay, dan Grand Lagoi Hotel berjejer menawarkan pilihan dari luxury hingga glamping, dari villa privat hingga resor keluarga.

Aman, nyaman, mewah, dan yang terpenting terintegrasi dalam satu kawasan yang terkontrol.

Untuk melompat lebih tinggi, kolaborasi dan sinergi dengan pemerintah daerah dan pusat terus dikembangkan.

Pemerintah pusat melalui Kementerian Imigrasi telah memberikan fasilitas khusus dan relaksasi aturan agar wisman lebih banyak datang ke Bintan dan Kepri.

Pemberian Bebas Visa Kunjungan yang selama ini baru dinikmati 17 negara sangat layak diperluas. Data kedatangan di Bintan sendiri menunjukkan wisman Tiongkok, Korea Selatan, Jepang, dan India adalah penyumbang besar dan sangat layak diberi fasilitas BVK.

Kebijakan ini sebaiknya tidak semata diukur dari devisa berupa Pendapatan Negara Bukan Pajak atau pertimbangan reciprocal dan nasionalisme secara sempit saja, karena semua itu bisa diatasi dengan pengawasan yang baik.

Yang lebih dirasakan langsung oleh masyarakat adalah pajak hotel dan restoran, hidupnya UMKM, bergeraknya pekerja transportasi, dan terbukanya lapangan pekerjaan yang lebih luas bagi warga daerah yang juga adalah warga negara Indonesia.

Di tingkat daerah, Pemerintah Provinsi Kepri dan Kabupaten Bintan dapat terus memberikan fasilitas sesuai kewenangannya dan menjadikan destinasi ini sebagai tempat penyelenggaraan event besar seperti sport tourism, tentunya dengan semangat yang tidak mengesampingkan kabupaten dan kota lainnya. Kepri adalah mozaik.

Batam dengan kawasan Nongsa dan event seperti Batam Wonderfood and Art Ramadhan atau Batam Jazz Festival, Kenduri Seni Melayu. Tanjungpinang dengan Festival Bahari Kepri, Festival Penyengat, Festival Kopi Merdeka.

Karimun dengan Coastal Culture Festival, Lingga dengan Festival Pesona Bahari, Festival Gunung Daik, Natuna dengan Festival Pulau Senoa, dengan alam yang lengkap dnegan geoparknya.

Dan Anambas dengan Festival Padang Melang. Semua bisa saling menguatkan dalam satu kalender besar Kepri yang saling mengisi.

Apa yang terjadi di Lagoi minggu lalu adalah pengingat yang menggugah. Bahwa ketika konsistensi dijaga, komitmen dirawat, dan kolaborasi dirajut, sebuah kawasan yang baru sepertiganya digarap pun bisa menjadi panggung dunia.

Tugas kita bersama sekarang adalah menjaga momentum itu tetap bergulir, memastikan setiap kayuhan sepeda, setiap langkah pelari, dan setiap tarikan napas perenang di Lagoi membawa cerita pulang tentang Indonesia yang ramah, profesional, dan siap menjadi destinasi terdepan. (*)

Penulis : Buralimar, Warga Batam

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *