Amsakar dan Legenda Timnas Indonesia Bangun Mimpi Sepak Bola Batam, Bidik Lahirnya Sananta Berikutnya

BATAM – Sepak bola bukan sekadar tentang menang dan kalah di lapangan. Di balik setiap pertandingan, ada mimpi anak-anak yang ingin menjadi pemain hebat, ada orang tua yang berharap, serta ada proses panjang untuk melahirkan talenta yang mampu membawa nama daerah hingga ke panggung nasional.
Mimpi itulah yang ingin dibangun di Batam.
Wali Kota Batam Amsakar Achmad menyambut kedatangan sejumlah legenda sepak bola nasional yang tergabung dalam Timnas Indonesia Legend di Kantor Wali Kota Batam, Senin (24/8/2026).
Pertemuan tersebut bukan sekadar seremoni. Kehadiran para mantan pemain Timnas Indonesia menjadi momentum untuk membicarakan masa depan sepak bola Batam, khususnya pembinaan pemain usia dini.
Sejumlah nama yang pernah menghiasi sepak bola nasional hadir dalam pertemuan tersebut, di antaranya Rully Nere, Oktovianus Maniani, Rocky Putiray, Azhari Rangkuti dan Patar Tambunan.
Bagi Batam, kedatangan para legenda tersebut menjadi energi baru. Pengalaman mereka di level nasional diharapkan bisa memberikan motivasi sekaligus membuka wawasan baru dalam membangun pembinaan sepak bola yang lebih terarah.
Amsakar, yang juga menjabat sebagai Ketua PS Batam, menyebut kehadiran Timnas Indonesia Legend sebagai sebuah sentuhan awal dari perhatian pemerintah terhadap pengembangan sepak bola di daerah.
“Terima kasih atas kehadirannya. Ini menjadi sentuhan awal sebagai bentuk atensi pemerintah dalam pengembangan sepak bola di Batam,” ujar Amsakar.
Mencari Sananta Berikutnya dari Batam
Amsakar melihat Batam memiliki modal untuk berkembang menjadi salah satu daerah penghasil talenta sepak bola.
Sejumlah Sekolah Sepak Bola (SSB) dan komunitas sepak bola telah tumbuh dan menjadi tempat anak-anak mengasah kemampuan.
Namun, keberadaan wadah tersebut perlu diperkuat dengan kompetisi yang rutin dan pembinaan berkelanjutan.
Karena itu, kompetisi usia dini tidak boleh hanya dipandang sebagai ajang untuk mencari juara.
Lebih jauh, kompetisi harus menjadi ruang bagi anak-anak untuk belajar, mendapatkan pengalaman, mengukur kemampuan dan memperlihatkan potensi yang mereka miliki.
Amsakar bahkan memiliki target yang cukup tinggi. Ia ingin suatu hari nanti muncul pemain nasional baru yang lahir dari Batam.
“Kita harus melahirkan Ramadhan Sananta berikutnya dari Batam. Karena itu, pembinaan usia dini harus menjadi perhatian bersama,” katanya.
Nama Ramadhan Sananta menjadi salah satu contoh bahwa daerah mampu melahirkan pemain yang kemudian bersaing di level nasional.
Bagi Amsakar, perjalanan menuju level tersebut harus dimulai dari bawah. Tidak ada pemain hebat yang lahir secara instan.
Ada latihan yang panjang, kompetisi yang berulang, pelatih yang kompeten, dukungan keluarga dan lingkungan yang memberikan kesempatan kepada pemain muda untuk terus berkembang.
Kompetisi Harus Berkesinambungan
Untuk memperkuat pembinaan, Amsakar mendorong agar kompetisi sepak bola usia dini di Batam digelar secara berkala.
Tidak harus menunggu satu tahun sekali. Kompetisi bisa dilaksanakan setiap tiga atau enam bulan sehingga para pemain muda memiliki kesempatan bertanding secara konsisten.
Dengan kompetisi yang berkesinambungan, kemampuan pemain dapat dipantau dan perkembangan mereka bisa terlihat dari waktu ke waktu.
“Kita ingin membuat event-event yang bisa menjadi ruang bagi anak-anak untuk bertanding, belajar, dan menunjukkan potensinya. Kalau dilakukan secara rutin, saya kira ini akan semakin meningkatkan potensi sport tourism Batam,” ungkapnya.
Gagasan tersebut sekaligus membuka peluang agar sepak bola tidak hanya menjadi olahraga, tetapi juga bagian dari pengembangan sport tourism di Batam.
Ketika kompetisi rutin digelar, bukan hanya pemain yang datang. Pelatih, orang tua, komunitas, hingga penonton dari luar daerah berpotensi ikut bergerak. Dari sinilah olahraga bisa memberikan dampak lebih luas bagi kota.
Legenda Timnas Bawa Inspirasi
Bagi generasi muda, bertemu langsung dengan mantan pemain Timnas Indonesia tentu menjadi pengalaman yang berbeda.
Para legenda tersebut pernah merasakan kerasnya persaingan sepak bola nasional.
Mereka tahu bahwa perjalanan menjadi pemain profesional membutuhkan disiplin, latihan dan kesempatan untuk terus bertanding.
Oktovianus Maniani, mantan pemain Timnas Indonesia asal Papua, melihat Batam memiliki potensi besar untuk melahirkan pemain berkualitas.
Namun, potensi tersebut tidak akan berkembang maksimal tanpa adanya wadah pembinaan dan kompetisi yang konsisten.
“Potensi pemain di Batam cukup besar. Yang dibutuhkan adalah wadah untuk pengembangan pemain. Ini penting agar semakin banyak talenta dari Batam mendapatkan panggung,” kata Oktovianus.
Pesan itu menjadi penting bagi anak-anak Batam yang sedang mengejar mimpi di lapangan hijau.
Sebab, bakat hanyalah awal. Setelah itu dibutuhkan tempat untuk berlatih, kompetisi untuk menguji kemampuan, pelatih untuk mengarahkan dan lingkungan yang memberikan dukungan.
Dari lapangan-lapangan kecil, dari SSB dan komunitas sepak bola, mimpi besar itu bisa dimulai.
Hari ini mungkin mereka masih mengejar bola di lapangan kampung. Namun dengan pembinaan yang konsisten, bukan tidak mungkin suatu hari nanti salah satu dari mereka mengenakan jersey Timnas Indonesia.
Batam pun tak sekadar menjadi kota industri dan perdagangan. Lewat sepak bola, Batam sedang menanam mimpi untuk melahirkan generasi baru yang mampu membawa nama kota ini ke panggung nasional. (bs)


