OPINI

Inggris yang Dinamis, Meksiko Menangis

Oleh: Buralimar, Pengamat Sepak Bola Kepri

ADA malam-malam ketika sepak bola tidak hanya menentukan siapa yang menang dan kalah, tetapi juga mengubah sebuah keyakinan. Di Estadio Azteca, Mexico City, malam itu menjadi milik Inggris.

Sementara Meksiko harus menerima kenyataan pahit menjadi penonton di rumah sendiri. Setelah Kanada lebih dulu tersingkir, kini sesama tuan rumah Piala Dunia 2026 itu menyusul.

Di hadapan lebih dari 80 ribu pendukung fanatik yang memenuhi Azteca, El Tri gagal menjaga mimpi tetap hidup.
Azteca yang semula bergemuruh perlahan berubah sunyi.

Inggris datang bukan sekadar membawa nama besar. Mereka hadir dengan wajah baru: lebih dinamis, lebih cepat, dan jauh lebih mematikan dibandingkan generasi sebelumnya.

Tim yang selama bertahun-tahun dicap sulit mengatasi tekanan kini justru menikmati setiap tantangan.
Jude Bellingham menjadi simbol perubahan itu.

Gelandang yang matang bersama Real Madrid tersebut tampil sebagai motor permainan sekaligus algojo. Dalam rentang hanya dua menit, ia menghancurkan harapan publik tuan rumah.

Menit ke-36, Bellingham menyambar umpan Bukayo Saka untuk membuka keunggulan.

Dua menit berselang, kerja sama apik dengan Harry Kane kembali berbuah gol. Dua serangan efektif, dua gol, dan Azteca mendadak kehilangan suaranya.
Meksiko sebenarnya tidak tampil buruk.

Mereka memainkan sepak bola menyerang, berani menekan, dan terus memaksa Inggris bertahan. Julián Quiñones sempat membangkitkan asa lewat gol pada penghujung babak pertama.

Momentum bahkan sempat berbalik ketika Inggris kehilangan Jarell Quansah yang diganjar kartu merah setelah tinjauan VAR pada menit ke-54. Bermain dengan sepuluh orang selama lebih dari setengah jam seharusnya menjadi keuntungan bagi Meksiko.

Namun di sinilah terlihat perbedaan karakter kedua tim.

Alih-alih goyah, Inggris justru semakin disiplin. Mereka bertahan dengan rapat, menyerang saat momentum datang, dan kembali menghukum lawan melalui penalti Harry Kane pada menit ke-60.
Raúl Jiménez memang memperkecil ketertinggalan lewat titik putih sembilan menit kemudian.

Setelah itu, gelombang serangan Meksiko datang tanpa henti. Sebelas menit waktu tambahan terasa begitu panjang.

Jordan Pickford beberapa kali menjadi penyelamat, sementara para pemain Inggris mempertahankan keunggulan dengan ketenangan yang jarang dimiliki generasi sebelumnya.

Laga ini memang tidak lepas dari kontroversi. Wasit Alireza Faghani menjadi sorotan setelah mengeluarkan kartu merah dan menghadiahkan dua penalti.

Keputusan-keputusan itu memicu perdebatan, meski semuanya telah melalui pemeriksaan VAR.
Namun pada akhirnya, pertandingan ini tidak ditentukan oleh kontroversi, melainkan oleh efektivitas.

Meksiko menguasai bola lebih lama dan melepaskan 20 tembakan. Inggris hanya membutuhkan sedikit peluang untuk mencetak tiga gol.

Itulah perbedaan antara tim yang bermain indah dan tim yang tahu bagaimana memenangkan pertandingan besar.

Sebelum turnamen dimulai, José Mourinho sudah memberi sinyal bahwa Inggris adalah salah satu tim yang patut diwaspadai.

Delapan kemenangan tanpa kebobolan di babak kualifikasi menjadi bukti kekuatan mereka. Seusai laga melawan Meksiko, Mourinho bahkan menyebut kemenangan di Azteca sebagai salah satu pencapaian terbesar Inggris dalam enam dekade terakhir.

Menurutnya, bayang-bayang kegagalan masa lalu akhirnya sirna, digantikan oleh generasi baru yang lebih berani, lebih matang, dan lebih garang.

Piala Dunia selalu melahirkan cerita baru. Tahun ini, cerita itu datang dari Inggris yang akhirnya bermain tanpa rasa takut. Mereka tidak lagi hanya mengandalkan nama besar atau harapan publik. Mereka memiliki identitas, disiplin, dan mental juara.

Bagi Meksiko, kekalahan ini terasa begitu menyakitkan. Bukan hanya karena tersingkir di babak 16 besar, tetapi juga karena harus menerima kekalahan kompetitif pertama di Azteca sejak 1966.

Sementara bagi Inggris, kemenangan ini adalah sebuah pernyataan. Three Lions kini bukan lagi tim yang mudah kehilangan arah ketika mendapat tekanan.

Mereka mampu bertahan, menyerang dengan efisien, dan menyelesaikan pertandingan dengan kepala dingin.

Meksiko menangis di rumah sendiri. Inggris melangkah mantap, membawa keyakinan bahwa trofi yang selama puluhan tahun hanya menjadi impian, kini terasa semakin dekat. ***

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *