KADIN Kepri Memulai Babak Baru, Kolaborasi Jadi Kunci Menjemput Peluang Ekonomi Global

TANJUNGPINANG – Di tengah derasnya arus investasi dan transformasi ekonomi yang melanda Kepulauan Riau, sebuah tonggak baru lahir dari Aula Wan Seri Beni, Dompak, Tanjungpinang.
Pengukuhan Dewan Pengurus Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Provinsi Kepulauan Riau masa bakti 2026–2031 bukan sekadar seremoni pergantian kepengurusan, melainkan penegasan bahwa dunia usaha dan pemerintah harus berjalan beriringan menghadapi tantangan zaman.
Dengan tema “Peran Strategis KADIN dalam Mendorong Ekonomi Daerah dan Nasional”, acara yang dihadiri Gubernur Kepulauan Riau Ansar Ahmad itu menjadi ruang bertemunya optimisme dan harapan terhadap masa depan ekonomi daerah.
Mustava resmi menerima estafet kepemimpinan sebagai Ketua Umum KADIN Kepri periode 2026–2031 setelah dikukuhkan Ketua Umum KADIN Indonesia, Anindya Novyan Bakrie.
Di balik prosesi tersebut tersimpan pesan besar bahwa Kepri memiliki modal kuat untuk menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Anindya melihat komposisi kepengurusan baru KADIN Kepri sebagai kekuatan tersendiri.
Perpaduan antara pengurus senior yang kaya pengalaman dengan generasi muda yang inovatif, serta keterlibatan perempuan dalam kepengurusan, dinilai mampu melahirkan organisasi yang adaptif menghadapi perubahan.
Menurutnya, KADIN tidak hanya berperan sebagai organisasi pengusaha, tetapi juga menjadi jembatan yang menghubungkan pelaku usaha lokal menuju pasar nasional hingga internasional.
Ia menegaskan bahwa Indonesia perlu terus memperluas pasar ekspor ke kawasan baru seperti Uni Eropa dan Kanada.
Namun, tantangan masa depan tidak hanya soal perdagangan, melainkan juga bagaimana membangun basis industrialisasi yang kuat.
Dalam konteks itu, Kepulauan Riau disebut memiliki posisi yang sangat ideal.
Kawasan yang berada di jalur pelayaran internasional ini memiliki infrastruktur industri, kawasan perdagangan bebas, serta kedekatan geografis dengan negara-negara ASEAN yang menjadi nilai tambah bagi investor.
Pandangan tersebut sejalan dengan visi Gubernur Ansar Ahmad yang meyakini Kepri sedang berada dalam momentum emas pertumbuhan ekonomi.
Provinsi yang terdiri dari gugusan pulau ini kini berkembang sebagai pusat investasi berbasis industri manufaktur, maritim, ekonomi digital, hingga pariwisata. Berbagai fasilitas seperti Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), Free Trade Zone (FTZ), dan kawasan industri menjadi fondasi penting dalam menarik modal dari dalam maupun luar negeri.
Namun bagi Ansar, potensi tersebut tidak akan berkembang optimal tanpa dukungan dunia usaha.
Karena itu, ia berharap KADIN Kepri mampu menjadi mitra strategis pemerintah dalam menghubungkan peluang investasi dengan kebutuhan masyarakat, sekaligus menjadi wadah yang mampu memberdayakan pelaku usaha dari berbagai skala.
“KADIN Kepri harus menjadi motor penggerak bagi dunia usaha, mulai dari pengusaha besar hingga UMKM. Kepengurusan yang baru ini diharapkan mampu menjadi wadah yang inklusif, adaptif, serta mampu menerjemahkan peluang investasi menjadi aksi nyata yang berdampak langsung bagi masyarakat,” tegasnya.
Optimisme tersebut didukung oleh sejumlah indikator ekonomi yang menggembirakan. Pada Triwulan I Tahun 2026, ekonomi Kepulauan Riau tumbuh sebesar 7,04 persen secara tahunan, menjadi yang tertinggi di Sumatera dan masuk lima besar nasional.
Di sisi investasi, realisasi pada tahun 2025 mencapai Rp64,67 triliun, meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.
Sementara sektor pariwisata juga menunjukkan tren positif dengan pertumbuhan kunjungan wisatawan mancanegara sebesar 12,93 persen sepanjang Januari hingga April 2026 dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Data tersebut menunjukkan bahwa Kepri tidak hanya menjadi pintu gerbang perdagangan internasional, tetapi juga mulai mengukuhkan diri sebagai pusat ekonomi baru yang kompetitif di kawasan Asia Tenggara.
Momentum pengukuhan pengurus KADIN Kepri periode 2026–2031 pun menjadi simbol dimulainya babak baru kolaborasi antara pemerintah dan dunia usaha.
Di tengah persaingan global yang semakin ketat, sinergi menjadi modal utama agar peluang investasi dapat diterjemahkan menjadi lapangan kerja, peningkatan daya saing industri, serta kesejahteraan masyarakat.
Karena pada akhirnya, kemajuan ekonomi sebuah daerah tidak hanya diukur dari besarnya angka investasi, tetapi dari sejauh mana kolaborasi mampu menghadirkan manfaat nyata bagi seluruh lapisan masyarakat. (bs)


