BATAM

Di Tengah Lalu Lalang Bandara, Gagasan Besar untuk Batam Mengalir

Pengurus PWI pusat dan PWI Kepri saat berdialog dwngan Walikota dan Wakilnya Amsakar-Li Claudia di Bandara Hang Nadim Batam.f-hmspwi.

BATAM, katasiber – Deru langkah penumpang dan panggilan penerbangan biasanya mendominasi suasana Bandara Internasional Hang Nadim.

Namun pada Selasa siang itu, ada warna berbeda di ruang VVIP. Di balik hiruk-pikuk bandara, perbincangan hangat justru mengalir santai, penuh tawa sekaligus gagasan besar tentang masa depan Kota Batam.

Pertemuan silaturahmi antara Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dengan Wali Kota Batam Amsakar Achmad dan Wakil Wali Kota Li Claudia Chandra bukan sekadar temu biasa. Ia menjadi ruang dialog yang cair tempat ide, kritik, dan harapan bertemu dalam suasana akrab.
Tak ada protokoler kaku.

Yang ada adalah percakapan mengalir tentang bagaimana Batam harus melangkah ke depan.

Di tengah obrolan itu, Li Claudia Chandra membuka sisi personal kepemimpinannya.

Ia menggambarkan dirinya sebagai sosok yang tak mengenal kata tunda. Baginya, pekerjaan adalah tanggung jawab yang harus dituntaskan dengan totalitas.

“Saya kalau bekerja tidak mau setengah-setengah, harus total,” ujarnya, ringan namun tegas.

Lebih jauh, ia menekankan satu hal yang menurutnya menjadi kunci pembangunan modern: data.

Bagi Li Claudia, data bukan sekadar angka, melainkan “panglima” yang menentukan arah kebijakan.

Akurasi data kependudukan yang sinkron dengan pemerintah pusat menjadi fondasi penting agar setiap program dan anggaran benar-benar tepat sasaran.

Sementara itu, Amsakar Achmad melihat pembangunan dari sudut yang tak kalah penting: dampaknya bagi masyarakat.

Di tengah berbagai proyek strategis yang terus berjalan, ia mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan bukan hanya statistik pertumbuhan, melainkan sejauh mana ekonomi warga ikut bergerak.

Targetnya jelas pembangunan harus berjalan seiring dengan penyerapan tenaga kerja.

“Pembangunan harus bisa dirasakan langsung, terutama dalam menekan angka pengangguran,” menjadi garis besar yang ia tekankan dalam diskusi tersebut.

Di sisi lain, PWI hadir bukan hanya sebagai pendengar. Organisasi profesi wartawan ini menempatkan diri sebagai mitra kritis sekaligus konstruktif bagi pemerintah.

Ketua Departemen Budaya PWI Pusat, Ramon Damora, menegaskan bahwa peran pers tidak berhenti pada pelaporan, tetapi juga memberi arah melalui informasi yang berkualitas.

“PWI hadir bukan hanya sebagai pencatat peristiwa, tapi juga memberikan masukan konstruktif,” ujarnya.

Baginya, jurnalisme yang sehat adalah salah satu fondasi penting dalam menciptakan iklim investasi yang kondusif dan mendorong kepercayaan publik terhadap pembangunan.

Diskusi yang turut dihadiri sejumlah pengurus PWI pusat dan daerah itu pun menjelajah berbagai isu—dari persoalan sosial hingga tantangan ekonomi makro.

Semua dibahas tanpa sekat, dalam suasana yang justru terasa seperti pertemuan lama yang penuh keakraban.

Meski singkat, pertemuan di ruang VVIP itu menyisakan pesan yang kuat: sinergi antara pemerintah dan pers di Batam berjalan dalam frekuensi yang sama.

Ada kesadaran bersama bahwa membangun kota bukan hanya tugas pemerintah, tetapi juga membutuhkan peran media dalam membentuk narasi yang jernih, kritis, dan membangun.

Di tengah lalu lalang penumpang dan jadwal penerbangan yang tak pernah berhenti, percakapan siang itu menjadi pengingat bahwa masa depan Batam tidak hanya dibangun di ruang rapat resmi, tetapi juga dari dialog hangat yang jujur dan penuh semangat kolaborasi. (bs)

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *