Halalbihalal Jadi Ruang Silaturahmi dan Etalase Pembangunan Kepri di Perantauan

KEPRI – Suasana hangat penuh kekeluargaan menyelimuti pertemuan Keluarga Besar Kepulauan Riau di perantauan Jabodetabek (Jakarga,Depok,Tanggerang dan Bekasi).
Momentum Idul Fitri dimanfaatkan Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau untuk mempererat silaturahmi sekaligus menyampaikan arah pembangunan daerah ke depan.
Bertempat di Novotel Mangga Dua Square, Minggu (19/4/2026), Gubernur Kepri Ansar Ahmad bersama Wakil Gubernur Nyanyang Haris Pratamura menyapa masyarakat Kepri yang berdomisili di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi dalam acara halalbihalal yang berlangsung hangat dan akrab.
Di hadapan para tokoh masyarakat, mahasiswa, hingga perantau asal Kepri, Ansar memaparkan berbagai capaian dan rencana pembangunan yang tengah digesa. Mulai dari infrastruktur, penguatan identitas budaya, hingga program peningkatan kesejahteraan masyarakat menjadi fokus utama yang disampaikan.
Salah satu yang menjadi sorotan adalah rencana pembangunan Museum dan Monumen Bahasa Nasional di Pulau Penyengat.
Kawasan bersejarah ini dinilai memiliki potensi besar sebagai pusat wisata sejarah, budaya, dan religi, sekaligus penguat identitas kemelayuan.
“Pulau Penyengat bukan hanya destinasi wisata, tetapi simbol lahirnya Bahasa Indonesia yang harus dikenal luas oleh seluruh bangsa,” ujar Ansar.
Revitalisasi kawasan Penyengat yang telah dilakukan sebelumnya pun mulai menunjukkan dampak nyata. Kunjungan wisatawan mancanegara, khususnya dari Singapura dan Malaysia, meningkat signifikan, mendorong aktivitas ekonomi masyarakat lokal menjadi lebih dinamis.
Tak hanya sektor pariwisata, pemerintah juga menaruh perhatian pada pembangunan infrastruktur dasar.
Revitalisasi Masjid Raya Sultan Riau, perbaikan jalan dan drainase, hingga penguatan sistem air bersih melalui SWRO menjadi bagian dari upaya tersebut, dengan dukungan anggaran APBN mencapai Rp96 miliar.
Di bidang sosial dan keagamaan, Pemprov Kepri menghadirkan berbagai program yang menyentuh langsung masyarakat.
Penempatan dai hinterland, bantuan rumah ibadah, hingga insentif keagamaan menjadi bagian dari upaya memperkuat nilai spiritual dan sosial di kawasan pesisir dan perbatasan.
Sementara di sektor kesehatan, keberadaan rumah singgah di Jakarta dan Batam menjadi solusi bagi masyarakat Kepri yang menjalani pengobatan rujukan.
Fasilitas ini dilengkapi standar kenyamanan setara hotel bintang tiga, mencerminkan komitmen pemerintah dalam memberikan layanan yang layak.
Langkah strategis juga dilakukan melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia, salah satunya dengan menyekolahkan puluhan dokter spesialis dan subspesialis guna memenuhi kebutuhan layanan kesehatan di seluruh wilayah Kepri.
Tak kalah penting, perlindungan bagi pekerja rentan terus diperluas. Nelayan, petani, hingga driver online kini mulai mendapatkan jaminan sosial melalui program pemerintah, sebagai bentuk keberpihakan terhadap kelompok ekonomi bawah.
Di sektor kelistrikan, program Kepri Terang menjadi salah satu andalan. Ribuan rumah tangga telah menikmati sambungan listrik gratis, dengan tingkat elektrifikasi yang kini hampir menyentuh 100 persen.
Pemerintah pun terus berupaya menghadirkan listrik 24 jam hingga ke pulau-pulau kecil.
Sementara itu, dukungan terhadap pelaku usaha mikro juga terus digencarkan melalui bantuan modal berbunga ringan bekerja sama dengan perbankan daerah, guna mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Kehadiran sejumlah tokoh, seperti Ismeth Abdullah, serta pimpinan organisasi perempuan dan masyarakat semakin menambah semarak acara. Siraman rohani yang disampaikan Abdil Muhadir Ritonga turut memberi makna mendalam bagi seluruh peserta.
Bagi Ansar, halalbihalal bukan sekadar tradisi tahunan. Lebih dari itu, ia menjadi ruang untuk melepas rindu, memperkuat persaudaraan, sekaligus menyatukan semangat membangun daerah, meski berada jauh dari kampung halaman.
“Ini momen untuk saling memaafkan, mempererat silaturahmi, dan memperkuat kebersamaan kita sebagai masyarakat Kepri,” pungkasnya. (bs)


