TANJUNGPINANG

Affan dan Harapan Beasiswa untuk Anak Berkebutuhan Khusus

Affan dan Harapan Beasiswa untuk Anak Berkebutuhan Khusus.fist

TANJUNGPINANG, katasiber – Di sudut hangat Ruang Baca Anak Perpustakaan Raja Muhammad Yusuf Al-Ahmadi, seorang remaja dengan senyum ramah selalu sigap menyambut setiap pengunjung.

“Selamat datang, silakan masuk,” ucapnya lembut, sembari membuka pintu dengan penuh semangat.
Namanya Muhammad Affan. Usianya 18 tahun.

Ia bukan petugas tetap perpustakaan, melainkan siswa magang dari SLB Negeri 1 Tanjungpinang yang tengah menuntaskan praktik kerja lapangan (PKL).

Namun, dedikasi dan ketulusannya melayani, membuatnya tak berbeda dari petugas profesional.

Sejak Januari lalu, Affan memulai hari-harinya lebih awal. Pukul 07.00 WIB, ia sudah berada di ruang baca.

Tugasnya sederhana, namun dijalani dengan sepenuh hati: merapikan buku sesuai kode, menata alat peraga anak-anak, hingga membantu pengunjung menemukan bacaan yang mereka cari.

Affan adalah penyandang tuna daksa—kondisi yang membuat gerak tubuhnya terbatas.

Namun keterbatasan itu tak pernah menghalangi semangatnya. Cara bicaranya fasih, pemikirannya runtut, dan yang paling mencolok adalah keinginannya untuk terus belajar dan berkembang.

Ia menikmati setiap momen selama magang. Baginya, perpustakaan bukan sekadar tempat bekerja sementara, tetapi ruang belajar kehidupan.

Di sana, ia bertemu banyak orang, belajar berinteraksi, dan merasakan bagaimana dunia kerja sesungguhnya.
Di balik kesibukannya, Affan menyimpan mimpi besar.

Ia ingin melanjutkan pendidikan ke luar daerah, tepatnya ke Padang, Sumatera Barat—tempat yang menurutnya memiliki sekolah khusus yang bisa mendukung kebutuhannya..

“Mau jadi guru komputer,” ujarnya singkat, namun penuh keyakinan.

Impian itu bukan sekadar angan. Affan ingin kembali ke almamaternya suatu hari nanti, menjadi guru yang bisa menginspirasi anak-anak berkebutuhan khusus ,seperti dirinya.

Ia ingin membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk memberi manfaat bagi orang lain.

Namun jalan menuju mimpi itu tidak mudah. Affan berasal dari keluarga sederhana.

Ayahnya bekerja sebagai buruh bangunan, sementara ibunya menjadi ojek antar-jemput anak sekolah—termasuk mengantar Affan setiap hari.

Karena itu, ia menyimpan harapan besar kepada Gubernur Kepulauan Riau, Ansar Ahmad.

Ia berharap dari ribuan program beasiswa yang ada, terdapat kesempatan bagi siswa berkebutuhan khusus seperti dirinya untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Lebih dari itu, Affan juga memimpikan dunia yang lebih inklusif. Ia berharap pemerintah dapat membuka lebih banyak peluang kerja melalui jalur khusus, baik CPNS maupun PPPK, bagi penyandang disabilitas.

Baginya, kesempatan adalah kunci. Kesempatan untuk belajar, berkembang, dan akhirnya berdiri sejajar dengan yang lain—membangun daerahnya sendiri, Kepulauan Riau.

Pekan ini menjadi pekan terakhir Affan di perpustakaan. Senin nanti, ia akan kembali ke sekolah.

Namun pengalaman selama magang akan selalu ia kenang.

Di antara rak buku dan tawa anak-anak, Affan telah menulis satu bab penting dalam tentang harapan, perjuangan, dan mimpi yang terus ia jaga. (Bs)

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *