BATAM

Cahaya Qurani di Bawah Langit Engku Putri Batam

BATAM, katasiber – Malam itu, Jumat malam, langit Batam seolah ikut merestui sebuah perhelatan akbar.

Lampu-lampu panggung berpendar indah di Dataran Engku Putri, memantulkan warna-warni yang berpadu dengan lautan manusia yang datang dari berbagai penjuru kota.

Ribuan warga tumpah ruah, menyatu dalam satu semangat: menyambut pembukaan Musabaqah Tilawatil Qur’an dan Hadits (MTQH) XXXIV tingkat Kota Batam.

Sejak langkah pertama memasuki area acara, suasana hangat langsung terasa. Senyum warga, semangat para peserta, hingga riuh tepuk tangan menjadi satu harmoni yang tak terpisahkan. Malam itu bukan sekadar seremoni, melainkan perayaan iman, budaya, dan kebersamaan.

Satu per satu kafilah dari seluruh kecamatan tampil dalam defile yang memukau.

Busana yang rapi, langkah yang kompak, dan ekspresi penuh kebanggaan menggambarkan kesiapan mereka tidak hanya untuk berlomba, tetapi juga untuk membawa nama daerah masing-masing.

Setiap penampilan disambut sorak sorai, menambah semarak suasana.
Di tengah kemegahan itu, terselip rasa haru. MTQH tahun ini terasa berbeda—lebih besar, lebih tertata, dan lebih hidup.

Seolah menjadi cerminan bahwa semangat religius masyarakat Batam terus tumbuh, mengakar kuat dalam kehidupan sehari-hari.

Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, dalam sambutannya tak menyembunyikan rasa bangganya. Ia mengapresiasi kerja keras panitia, LPTQ, dan seluruh kafilah yang telah menghadirkan suasana luar biasa tersebut.

“MTQH tahun ini terasa berbeda. Ada semangat, motivasi, dan kebahagiaan. Mudah-mudahan ini menjadi tanda keberkahan bagi daerah yang kita cintai,” ujarnya di hadapan ribuan warga.

Lebih dari sekadar ajang perlombaan, ia menegaskan bahwa MTQH adalah cerminan dari visi Batam sebagai bandar madani.

Sebuah kota yang tidak hanya maju secara ekonomi, tetapi juga kuat dalam nilai-nilai spiritual dan sosial.

Baginya, tingginya partisipasi masyarakat menjadi bukti bahwa nilai-nilai tersebut tidak berhenti sebagai slogan, melainkan telah hidup di tengah masyarakat.

Namun, di balik gemerlap acara, pesan penting tetap disampaikan. MTQH tidak boleh berhenti pada seremoni tahunan. Ia harus menjadi momentum untuk benar-benar membumikan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari—dalam sikap, perilaku, dan cara berinteraksi antar sesama.

Malam itu, ketika tabuhan kompang menggema sebagai tanda pembukaan, suasana terasa begitu khidmat sekaligus penuh energi.

Dentuman irama tradisional itu seolah menjadi pengikat antara budaya dan agama, antara tradisi dan nilai-nilai luhur yang diwariskan.

Di tengah keramaian, ada harapan yang tumbuh. Harapan akan lahirnya generasi Qurani yang tidak hanya fasih melantunkan ayat, tetapi juga mampu menghidupkan maknanya dalam kehidupan nyata.

Dan di Dataran Engku Putri, malam itu, Batam tidak hanya merayakan sebuah pembukaan. Ia sedang merayakan jati dirinya sebagai kota yang terus bergerak, namun tetap berpegang pada nilai, iman, dan kebersamaan. (bs)

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *