Sabar dan Syukur

Oleh : Robby Patria
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, iman sering direduksi menjadi simbol.
Ia diukur dari atribut, retorika, atau identitas formal. Padahal, dalam pandangan Imam Al-Ghazali melalui mahakaryanya Ihya Ulumuddin, iman justru sangat sederhana sekaligus sangat berat: iman itu dua bagian, setengahnya sabar dan setengahnya syukur.
Ungkapan “al-îmân nisfân: nisfun shabr wa nisfun syukr” bukan sekadar kalimat indah untuk ceramah. Ia adalah alat ukur kejujuran spiritual seseorang.
Sebab hidup manusia, kata Al-Ghazali, tidak pernah keluar dari dua keadaan: menerima nikmat atau menghadapi ujian. Tidak ada fase ketiga.
Jika hari ini kita tidak diuji, berarti kita sedang diberi. Jika kita tidak sedang diberi, berarti kita sedang diuji.
Di situlah iman diuji.
Apakah Kita bersyukur ?
Syukur sering kali menjadi kata yang paling mudah diucapkan dan paling sulit diwujudkan. Kita mengucap “alhamdulillah” saat gaji naik, jabatan bertambah, atau proyek berhasil.
Tetapi apakah kita menggunakan kenaikan itu untuk kebaikan? Apakah kekuasaan membuat kita lebih adil atau justru lebih rakus?
Al-Ghazali menegaskan bahwa syukur bukan hanya pengakuan lisan, tetapi penggunaan nikmat sesuai kehendak Allah. Harta yang tidak menguatkan solidaritas sosial bukanlah syukur.
Ilmu yang tidak mencerdaskan publik bukanlah syukur. Jabatan yang tidak melayani rakyat bukanlah syukur.
Di era media sosial, syukur bahkan berubah menjadi pertunjukan. Orang memamerkan pencapaian dengan label “bersyukur”, padahal hakikatnya ingin dipuji. Kita hidup dalam budaya yang memuja keberhasilan, tetapi lupa menguji niat.
Padahal, nikmat adalah ujian yang lebih halus daripada musibah. Banyak orang gagal dalam kelapangan, bukan dalam kesempitan.
Kekayaan merusak lebih banyak orang daripada kemiskinan. Kekuasaan menjatuhkan lebih banyak manusia daripada penderitaan.
Di sinilah syukur menjadi setengah iman yang paling berbahaya jika diabaikan.
Ketika Ujian Datang
Sebaliknya, sabar adalah wajah iman saat badai datang. Tetapi sabar bukan berarti pasrah tanpa usaha. Dalam penjelasan Al-Ghazali, sabar adalah keteguhan untuk tetap berada di jalan Allah ketika dorongan emosi, nafsu, dan keputusasaan mencoba menggoyahkan.
Sabar dalam ketaatan, sabar menjauhi maksiat, dan sabar menghadapi takdir pahit.
Hari ini, kita hidup dalam zaman yang serba instan. Kesuksesan harus cepat. Jawaban harus segera. Hiburan harus tanpa jeda.
Dalam kultur seperti ini, sabar menjadi barang langka. Orang mudah marah di jalan, mudah tersinggung di ruang publik, mudah menghujat di dunia maya.
Padahal sabar adalah bukti kedewasaan iman. Tanpa sabar, iman runtuh oleh komentar negatif. Tanpa sabar, seseorang bisa menjual prinsip demi kenyamanan sesaat.
Lebih jauh lagi, sabar adalah bentuk kepercayaan mendalam kepada takdir Allah. Ia adalah keyakinan bahwa tidak ada peristiwa yang sia-sia. Bahwa di balik luka ada hikmah, di balik kehilangan ada pelajaran.
Dua Wajah
Yang menarik dari gagasan Al-Ghazali adalah keseimbangannya. Iman tidak hanya diuji ketika kita menangis, tetapi juga ketika kita tertawa. Tidak hanya ketika kita gagal, tetapi juga ketika kita berhasil.
Banyak orang terlihat religius saat tertimpa musibah. Ia rajin berdoa, rajin bersedekah. Tetapi ketika sukses datang, ia berubah. Kesombongan menyelinap pelan-pelan. Di sisi lain, ada orang yang tampak dermawan saat kaya, tetapi menyalahkan Tuhan ketika rugi.
Iman yang utuh adalah yang stabil dalam dua kondisi itu. Ia tidak berubah oleh cuaca kehidupan.
Sabar menjaga kita agar tidak hancur ketika diuji. Syukur menjaga kita agar tidak sombong ketika diberi. Sabar menahan kita dari putus asa. Syukur menahan kita dari lupa diri.
Tanpa sabar, iman retak oleh penderitaan. Tanpa syukur, iman busuk oleh kenikmatan.
Dalam konteks sosial dan politik, konsep ini sangat relevan. Seorang pemimpin diuji bukan hanya saat krisis, tetapi juga saat anggaran melimpah.
Seorang akademisi diuji bukan hanya saat kekurangan fasilitas, tetapi juga saat memperoleh jabatan struktural. Seorang aktivis diuji bukan hanya saat ditekan, tetapi juga saat dipuji.
Sabar dan syukur adalah kompas moral. Mereka menjaga integritas.
Barangkali, ukuran iman yang paling jujur bukanlah seberapa sering kita berbicara tentang Tuhan, tetapi bagaimana kita merespon kenyataan hidup. Apakah kita tetap adil saat berkuasa? Apakah kita tetap percaya saat gagal?
Di situlah ungkapan “iman itu dua bagian” menemukan relevansinya. Ia bukan slogan teologis, melainkan cermin evaluasi diri setiap hari.
Karena pada akhirnya, hidup ini hanya berisi dua bab: diberi atau diuji. Jika saat diberi kita bersyukur, dan saat diuji kita bersabar, maka iman kita sedang tumbuh.
Tetapi jika saat diberi kita lalai dan saat diuji kita marah, maka mungkin yang perlu diperbaiki bukan keadaan kita melainkan iman kita.
Dan mungkin, di tengah dunia yang serba gaduh ini, pesan Al-Ghazali terasa semakin tajam: iman bukan tentang apa yang kita miliki, tetapi tentang bagaimana kita menyikapinya.***


