TANJUNGPINANG

Ketika Jenderal, Prajurit, dan Petani Berbagi Malam di Atas Bukit Argo Wisata Dompak

Ketika Jenderal, Prajurit, dan Petani Berbagi Malam di Atas Bukit Argo Wisata Dompak.f-ist

DOMPAK, katasiber – Malam itu, Dompak tidak sekadar sunyi. Di kawasan agrowisata lahan pertanian penguatan ketahanan pangan Kogabwilhan I Tanjungpinang, puluhan tenda warna-warni berdiri rapi, seperti bunga-bunga kecil yang mekar di tengah perbukitan hijau. Sabtu (17/1/2027) malam, kawasan yang dulu dikenal gersang itu berubah menjadi perkemahan penuh kehangatan dan kebersamaan.

Angin laut berembus pelan, membawa aroma tanah basah dan dedaunan. Dari atas bukit, lampu-lampu Kota Tanjungpinang berkelip seperti gugusan bintang yang jatuh ke bumi.

Di kejauhan, hamparan mangrove tampak gelap berkilau, membingkai malam dengan keindahan alami yang sulit dilukiskan kata-kata.

Di tengah suasana itu, Panglima Kogabwilhan I Letjen TNI Kunto Arif Wibowo memilih tidak bermalam di rumah dinasnya.

Ia justru mengajak para prajurit bersama keluarga, serta para petani Dompak, untuk tidur di alam terbuka.

“Tidur di alam itu mengajarkan kita untuk bersyukur. Kita diingatkan kembali betapa besar nikmat ciptaan Allah,” ujar Kunto Arif Wibowo kepada para peserta kemah.

Ajakan itu bukan sekadar simbolik. Sang jenderal benar-benar membaur. Bersama sang istri, Mia Kunto, ia ikut berkemah di dalam tenda, berdampingan dengan para perwira tinggi lainnya, mulai dari jenderal bintang tiga, bintang dua, hingga bintang satu.

Tidak ada jarak. Tidak ada sekat pangkat. Semua duduk sama rendah, berdiri sama tinggi, disatukan oleh alam.

Suasana perkemahan semakin hidup menjelang malam. Anak-anak prajurit berlarian kecil di antara tenda, sementara para petani Dompak berbincang akrab dengan para perwira.

Canda tawa pecah di beberapa sudut, menyatu dengan suara serangga malam.
Tengah malam, udara dingin mulai menusuk tulang. Embun turun perlahan, membasahi dedaunan.

Namun dingin itu justru menghangatkan kebersamaan. Sejumlah peserta yang belum terlelap tampak duduk melingkar bersama keluarga, memegang cangkir kopi panas, menghirup uapnya perlahan.

“Dingin-dingin begini, kopi jadi nikmat sekali,” ujar seorang prajurit sambil tersenyum.

Dari lokasi kemah, mata dimanjakan oleh hamparan hijau tanaman cabai, semangka, nanas, pepaya, jengkol, hingga berbagai komoditas pertanian lainnya.

Di bawah cahaya bulan, kebun itu tampak seperti permadani hijau yang terbentang luas, menandai denyut kehidupan baru di lahan yang dulu mati suri.

Tak banyak yang menyangka, kawasan ini dulunya adalah lahan eks tambang bauksit. Tanahnya tandus, keras, dan nyaris tak tersentuh kehidupan. Namun, lewat tangan dingin Letjen Kunto Arif Wibowo, kawasan itu disulap menjadi lahan pertanian produktif sekaligus destinasi agrowisata.

Transformasi ini bukan semata proyek fisik, melainkan gerakan membangun harapan. Panglima ingin membuktikan bahwa lahan kritis pun bisa bangkit, asalkan dikelola dengan kemauan, ilmu, dan kebersamaan.

Tujuan besarnya sederhana namun bermakna: membuka peluang bagi petani Dompak untuk mengelola lahan secara berkelanjutan, sekaligus menghadirkan objek agrowisata baru bagi Tanjungpinang.

Pertanian tidak lagi dipandang sebagai sektor pinggiran, melainkan sebagai ruang edukasi, rekreasi, dan ketahanan pangan masa depan.

Seorang peserta kemah tak mampu menyembunyikan kekagumannya.

“Menyatu dengan alam itu indah sekali. Dari bukit agrowisata lahan ketahanan pangan Kogabwilhan ini, kami bisa melihat keindahan Kota Tanjungpinang di malam hari. Rasanya damai,” tuturnya.

Malam terus berjalan. Lampu-lampu kota tetap berkelip. Tenda-tenda berdiri kokoh dalam senyap.

Di Dompak, alam, manusia, dan harapan sedang berpelukan dalam satu harmoni.

Dan di atas bukit itu, seorang jenderal menunjukkan bahwa kepemimpinan bukan hanya soal komando, tetapi juga tentang memberi teladan, menyentuh bumi, dan menumbuhkan kehidupan. (bas)

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *