MENYIASATI DESTINASI PARIWISATA: MERAWAT SEJARAH, MENGHIDUPKAN CERITA DARI MULUT KE MULUT

Ada dua jalan bagi sebuah negeri untuk merawat ingatan masa lalu: melalui goresan pena yang mencatat sejarah secara tertib dan dapat dipertanggungjawabkan, atau melalui cerita yang diwariskan dari mulut ke mulut, melintasi generasi tanpa selalu meninggalkan jejak aksara.
Pariwisata berbasis budaya sesungguhnya berdiri di antara kedua jalan tersebut.
Pada satu sisi, sebuah destinasi membutuhkan fondasi sejarah yang kuat, berupa manuskrip, arsip, peninggalan arkeologis, catatan sejarawan, serta kajian budayawan yang dapat diuji kebenarannya.
Pada sisi lain, ada legenda, mitos, folklor, dan tuturan para tetua yang memberikan warna, rasa, serta daya imajinasi terhadap sebuah tempat. Keduanya mempunyai ruang dan fungsi masing-masing.
Sejarah menjaga kebenaran, sementara cerita menghidupkan pengalaman. Ada dua cara pandang yang perlu dipertemukan: satu berpegang teguh pada sejarah tertulis dan autentisitas bukti, sedangkan satu lagi melihat cerita dari mulut ke mulut sebagai peluang membangun daya tarik wisata.
Yang pertama menjaga agar sejarah tidak diputarbalikkan, yang kedua membuka ruang kreativitas agar sebuah destinasi tidak hanya menjadi kumpulan bangunan tua dan benda peninggalan.
Pariwisata yang cerdas bukan mempertentangkan keduanya, melainkan merangkainya menjadi pengalaman menarik tanpa mengaburkan batas antara fakta, tradisi tutur, dan imajinasi.
Sebab, wisatawan tidak hanya ingin mengetahui apa yang pernah terjadi, tetapi juga ingin merasakan suasana dan mendengar kisah di balik sesuatu yang mereka lihat.
Getaran sejarah dan kekayaan cerita itulah yang menyatu di Pulau Penyengat, Kota Tanjungpinang, sebuah pulau kecil yang menyimpan kebesaran peradaban Melayu.
Pulau ini bukan sekadar hamparan daratan di tengah laut, melainkan ruang ingatan tentang kerajaan, perjuangan, agama, bahasa, sastra, dan kebudayaan. Masjid Sultan Riau dengan warna kuning yang khas menjadi penanda paling kuat.
Cerita tentang putih telur yang digunakan sebagai bahan perekat bangunannya telah lama menjadi bagian dari daya tarik yang dituturkan kepada pengunjung.
Di sana terdapat pula kompleks makam para tokoh besar, Balai Adat, bekas istana, benteng pertahanan, serta berbagai peninggalan yang menjadi saksi perjalanan Kesultanan Riau-Lingga.
Di antara tokoh penting yang patut lebih diperkenalkan adalah Engku Putri Raja Hamidah, yang juga dikenal sebagai Engku Putri atau Engku Hamidah, permaisuri Sultan Mahmud Riayat Syah.
Beliau bukan sekadar sosok perempuan bangsawan di lingkungan istana, melainkan figur penting dalam sejarah politik dan pemerintahan Kesultanan Riau-Lingga.
Engku Putri dikenal karena memegang Regalia Kerajaan, seperangkat benda kebesaran yang menjadi simbol kedaulatan dan legitimasi kekuasaan kerajaan.
Penguasaan atas regalia tersebut menjadikannya figur yang sangat diperhitungkan dalam urusan suksesi dan pemerintahan.
Kisah Engku Putri memperlihatkan bahwa perempuan Melayu pada masa itu bukan hanya berada di balik kehidupan istana, tetapi juga memiliki peran strategis dalam menjaga marwah, kewibawaan, dan keberlangsungan kerajaan.
Selain beliau, Pulau Penyengat juga lekat dengan nama Raja Haji Fisabilillah, panglima yang gagah mempertahankan kehormatan negeri dari kekuatan kolonial Belanda, serta Raja Ali Haji, pujangga, ulama, dan pemikir besar yang mewariskan Gurindam Dua Belas sebagai tuntunan moral, agama, dan kehidupan sosial.
Namun, apakah Pulau Penyengat hanya akan terus diperkenalkan melalui masjid dan makam, atau berani membuka lembaran cerita lain yang selama ini belum banyak disentuh?
Sesungguhnya masih banyak yang dapat diangkat, mulai dari kehidupan sosial masyarakat kerajaan, tradisi menerima tamu, peran ulama, kehidupan perempuan bangsawan, arsitektur rumah Melayu, pantun, kuliner, hingga lorong-lorong kampung yang menyimpan suasana masa silam.
Di sinilah menariknya gagasan menghidupkan cerita Perigi Putri atau sumur putri yang situs fisiknya masih dapat dijumpai.
Bagaimana jika sumur tersebut diperkenalkan melalui cerita rakyat yang dikemas secara artistik? Misalnya, berkembang penuturan bahwa perempuan yang membasuh wajah di sana akan memperoleh kesegaran dan kecantikan yang terpelihara.
Cerita semacam ini tentu bukan klaim ilmiah, bukan jaminan khasiat air, apalagi ajakan mempercayai kekuatan tertentu. Ia dapat ditempatkan sebagai folklor atau legenda lokal yang menjadi bagian dari pengalaman wisata budaya.
Wisatawan bisa mendengar kisahnya, melihat situsnya, menikmati suasananya, dan mengabadikan kunjungan sebagai kenangan.
Narasinya cukup diperkenalkan dengan kalimat menurut cerita yang berkembang di tengah masyarakat atau konon, demikianlah penuturan orang-orang dahulu.
Memang, ada kekhawatiran bahwa cerita tanpa bukti sejarah dapat menjadi pembohongan publik, bahkan jika dikaitkan dengan kepercayaan tertentu dikhawatirkan bersinggungan dengan akidah.
Kekhawatiran tersebut patut dihormati. Namun, ada perbedaan antara mempercayai mitos sebagai kekuatan gaib dan menikmati mitos sebagai bagian dari warisan budaya.
Di sejumlah destinasi Thailand, wisatawan kerap disuguhi cerita-cerita unik yang mengundang rasa penasaran, termasuk kisah ikan patin yang konon berusia seratus tahun.
Bali pun memiliki beragam legenda, mitos, dan cerita rakyat yang menjadi bagian dari pengalaman wisata. Tentu, tidak semua cerita harus ditiru, apalagi jika mengandung unsur penipuan atau eksploitasi kepercayaan.
Pelajarannya adalah kepiawaian mengemas narasi, membangun rasa ingin tahu, dan memberikan pengalaman yang membekas.
Pulau Penyengat yang memiliki karakter religius dan Islami harus tetap menjaga batas-batasnya.
Cerita mistis yang menyesatkan, klaim khasiat yang tidak terbukti, atau narasi yang merendahkan martabat situs keagamaan perlu dihindari. Kreativitas tidak berarti kehilangan adab dan kebenaran.
Justru, sejarah tertulis dan cerita tutur dapat saling memperkuat: sejarawan menjaga pagar autentisitas, sementara seniman, budayawan, dan pelaku pariwisata membuka jendela imajinasi.
Apa yang belum memiliki bukti sejarah tidak perlu dipaksakan menjadi fakta, tetapi tetap dapat diperkenalkan sebagai cerita rakyat atau interpretasi kreatif.
Perpaduan kedua pendekatan tersebut dapat melahirkan konsep storytelling yang lebih kaya dan berkarakter.
Bayangkan wisatawan diajak menyusuri Pulau Penyengat dengan pemandu yang tidak hanya menyebut nama bangunan dan tahun pendiriannya, tetapi juga mengisahkan suasana kehidupan pada masa kerajaan.
Di satu titik mereka mendengar sejarah Masjid Sultan Riau, di titik lain mengenal kisah Engku Putri dan Regalia Kerajaan, kemudian menikmati cerita rakyat tentang Perigi Putri.
Mereka diajak mengenal Gurindam Dua Belas melalui pembacaan puisi, menyaksikan fragmen kehidupan istana melalui teater atau koreografi, mendengar pantun Melayu, hingga menikmati kuliner tradisional yang disertai kisah asal-usulnya.
Perjalanan menggunakan becak motor atau menyusuri lorong-lorong kampung pun dapat dirancang sebagai wisata pengalaman.
Museum Pulau Penyengat yang kelak hadir semestinya tidak hanya menjadi tempat menyimpan benda-benda lama di balik lemari kaca, tetapi ruang yang menghidupkan perjalanan sebuah peradaban.
Sejarah, manuskrip, foto, artefak, rekaman suara, dokumentasi tokoh, peta, cerita rakyat, hingga karya seni dapat dipertemukan melalui teknologi dan penyajian interaktif.
Ada ruang untuk fakta sejarah, ada ruang untuk tradisi lisan, dan ada ruang untuk cerita fiksi kreatif dengan penjelasan yang transparan.
Demikian pula pembangunan monumen atau tugu bahasa harus menjadi penanda intelektual tentang kedudukan bahasa Melayu sebagai bahasa pergaulan atau lingua franca yang selama berabad-abad digunakan para pedagang, pelaut, musafir, dan masyarakat lintas bangsa di kawasan Nusantara.
Bahasa Melayu kemudian menjadi salah satu akar utama lahirnya Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Warisan Raja Ali Haji, Gurindam Dua Belas, manuskrip, dan berbagai bukti kebahasaan lainnya perlu ditampilkan untuk memperkuat kesahihan narasi tersebut.
Agar seluruh kekayaan ini benar-benar menjadi daya tarik dan mempunyai daya saing sebagai destinasi wisata budaya, beberapa langkah strategis layak dipertimbangkan:
- Melakukan inventarisasi seluruh situs sejarah, bangunan lama, makam tokoh, tradisi, kuliner, dan cerita rakyat yang masih hidup di tengah masyarakat Pulau Penyengat.
- Membentuk tim kurasi yang melibatkan sejarawan, budayawan, ulama, seniman, pelaku pariwisata, dan masyarakat setempat untuk memilah serta membedakan fakta sejarah, legenda, tradisi lisan, dan interpretasi kreatif.
- Mengembangkan paket storytelling dengan pemandu wisata terlatih, narasi menarik, serta kemampuan menyampaikan sejarah dan cerita rakyat secara berimbang dan bertanggung jawab.
- Menghidupkan Perigi Putri dan situs-situs lainnya sebagai atraksi wisata budaya berbasis legenda, tanpa klaim khasiat atau keyakinan yang menyesatkan.
- Menghadirkan pertunjukan seni, pembacaan Gurindam Dua Belas, pantun, teater sejarah, musik, dan koreografi yang menggambarkan kejayaan serta kehidupan peradaban Melayu.
- Menjadikan Museum Pulau Penyengat dan monumen bahasa sebagai pusat informasi, edukasi, dokumentasi, penelitian, serta pengalaman wisata interaktif yang memadukan sejarah, tradisi tutur, dan teknologi digital.
- Mengangkat kisah tokoh-tokoh penting, khususnya Engku Putri Raja Hamidah dan Regalia Kerajaan, sebagai narasi unggulan yang memperkaya perspektif sejarah tentang peran perempuan dalam pemerintahan Melayu.
- Melibatkan masyarakat, generasi muda, UMKM, pelaku kuliner, pengrajin, dan komunitas seni agar manfaat ekonomi pariwisata dirasakan langsung oleh warga setempat.
- Membangun promosi terpadu dengan paket wisata yang menghubungkan Pulau Penyengat, Kota Tanjungpinang, dan destinasi budaya serta bahari lainnya di Kepulauan Riau, disertai peningkatan kebersihan, kenyamanan akses, kualitas pelayanan, dan pelestarian karakter religius Melayu.
Pulau Penyengat tidak boleh hanya menjadi tempat orang datang untuk melihat masjid, berziarah ke makam, mengambil foto, lalu menyeberang kembali.
Pulau ini harus menjadi tempat orang ingin tinggal lebih lama, mendengar lebih banyak cerita, menyelami sejarah, dan membawa pulang pengalaman yang tidak ditemukan di tempat lain.
Jangan sampai kekayaan yang demikian besar hanya tersimpan dalam buku, sementara lorong-lorongnya sunyi dari cerita dan atraksi.
Sejarah yang tidak diceritakan dapat perlahan dilupakan, sedangkan cerita yang tidak dijaga kebenarannya dapat berubah menjadi kabut yang menyesatkan.
Keduanya harus berjalan beriringan. Ibarat masakan Melayu, kunyit, garam, dan lada memang menjadi dasar rasa, tetapi rempah-rempah lainlah yang membuatnya semakin kaya dan menggugah selera.
Sejarah adalah bahan utamanya, cerita adalah rempahnya, seni adalah cara penyajiannya, dan masyarakat adalah jiwa yang menghidupkannya.
Sejarawan tetap teguh menjaga fakta, seniman berani mengembangkan imajinasi, budayawan merawat nilai, dan pelaku pariwisata jeli membaca peluang.
Pulau Penyengat telah mewariskan peradaban kepada kita. Tugas generasi sekarang adalah merawat, menghidupkan, dan menceritakannya dengan cara yang lebih kreatif, berkelas, serta bertanggung jawab.
Biarlah wisatawan datang karena rasa penasaran, bertahan karena pesona, dan pulang membawa kekaguman.
Sebab, Pulau Penyengat bukan sekadar destinasi yang dikunjungi, melainkan sebuah peradaban yang layak dikenal, dipahami, dan dikenang oleh dunia. (*)
Penulis: Buralimar, Warga Batam


