Jejak 2010 Terungkap di Penyengat, Kapolda Suhendri Bernostalgia Bersama PWI

PENYENGAT — Pertemuan di bawah tangga Masjid Raya Sultan Riau, Pulau Penyengat, Ahad (18/10/2026), menjadi momen hangat bagi Kapolda Kepulauan Riau (Kepri) Irjen Pol Suhendri dan sejumlah pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kepri.
Di tengah agenda silaturahmi dengan masyarakat dan pembagian sembako, perjumpaan itu menghadirkan kembali kenangan lama sekaligus membuka ruang penguatan kemitraan antara kepolisian dan insan pers.
Suhendri menyalami satu per satu pengurus PWI Kepri. Percakapan berlangsung akrab, diselingi senyum dan cerita tentang masa-masa ketika jenderal polisi tersebut pernah bertugas di Kepri.
“Silaturahmi perdana kita di tempat bersejarah ini dulu ya. Besok saya tunggu kehadiran rekan-rekan di ruang kerja,” kata Suhendri, merujuk pada Senin (19/10/2026).
Pertemuan tersebut berlangsung di sela kegiatan Ekspedisi Eksplorasi Penyengat PWI Kepri 2026.
Sejak Sabtu (17/10/2026), sekitar 50 pengurus dan anggota PWI Kepri bersama Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia (IKWI) Kepri berada di pulau bersejarah itu untuk menelusuri jejak peradaban Melayu.
Namun, perjumpaan di bawah tangga masjid bersejarah itu bukan sekadar silaturahmi.
Bagi sejumlah wartawan senior, momen tersebut juga menjadi kesempatan mengenang perjalanan Suhendri saat bertugas di Kepri, termasuk ketika ia berhadapan langsung dengan massa demonstran.
Foto Arsip Membuka Kenangan
Suasana pertemuan semakin cair ketika Ketua Dewan Pakar PWI Kepri Ramon Damora memperlihatkan sebuah foto arsip kepada Suhendri.
Foto koleksi fotografer senior Kepri, Yuli Seperi, itu merekam momen pada 2010, ketika Suhendri masih berpangkat AKBP dan menjabat Dansatbrimob Polda Kepri.
Dalam foto tersebut, Suhendri terlihat bergerak seorang diri mendekati massa demonstran setelah pagar DPRD Kepri terbongkar.
Di seberang pagar yang telah terbuka, massa memenuhi ruang di belakang barikade.
Suasana dalam gambar itu menggambarkan ketegangan saat seorang perwira polisi berada di garis depan menghadapi demonstran.
“Ini jepretan Yuli Seperi, Jenderal. Fotografer senior Kepri. Terlihat di foto Jenderal maju sendiri menghadapi pendemo,” kata Ramon sambil menunjukkan foto tersebut.
Suhendri menyimak foto itu dengan saksama. Senyum kemudian mengembang, seolah potongan perjalanan masa lalu kembali hadir di hadapannya.
“Sampai sekarang saya masih siap kok maju sendiri,” jawabnya sambil tertawa.
Jawaban itu disambut suasana akrab. Percakapan yang semula menjadi ajang silaturahmi berubah menjadi ruang nostalgia, mempertemukan kembali pengalaman seorang perwira polisi dengan ingatan para wartawan yang pernah meliput dinamika di daerah ini.
Bagi insan pers yang hadir, foto tersebut bukan semata dokumentasi demonstrasi.
Di dalamnya tersimpan rekaman sebuah peristiwa yang pernah menjadi bagian dari perjalanan Kepri, sekaligus mengingatkan bahwa polisi dan wartawan kerap bertemu dalam berbagai peristiwa penting di tengah masyarakat.
Wartawan merekam kejadian melalui lensa dan catatan jurnalistik, sementara aparat kepolisian menjalankan tugas pengamanan serta penegakan hukum. Kedua profesi itu memiliki fungsi berbeda, tetapi sama-sama bersentuhan dengan dinamika kehidupan publik.
PWI Sambut Kemitraan dengan Polda Kepri
Ketua PWI Kepri Saibansah Dardani menyambut baik pertemuan tersebut. Ia berharap silaturahmi di Pulau Penyengat menjadi awal yang baik untuk memperkuat hubungan antara insan pers dan kepolisian di bawah kepemimpinan Suhendri.
“PWI Kepri mengucapkan ahlan wa sahlan, selamat datang kepada Irjen Pol Suhendri di Kepri. Kami berharap silaturahmi di Pulau Penyengat ini menjadi awal kemitraan yang penuh berkah antara pers Kepri dan Polda Kepri,” kata Saibansah.
Menurut Saibansah, hubungan PWI Kepri dengan para kapolda yang bertugas sebelumnya telah terjalin dengan baik. Tradisi kemitraan tersebut diharapkan terus berlanjut dengan tetap menempatkan profesionalisme dan independensi pers sebagai landasan utama.
Ia menegaskan, pers dan kepolisian mempunyai ruang kerja serta tanggung jawab yang berbeda. Kepolisian bertugas menegakkan hukum dan melindungi masyarakat, sedangkan pers menyampaikan informasi kepada publik, menjalankan fungsi kontrol sosial, serta memberikan ruang bagi suara masyarakat.
Karena itu, kemitraan kedua pihak perlu dibangun tanpa mengaburkan batas tugas masing-masing.
“Bagi kami, kemitraan bukan berarti menghilangkan jarak kritis. Pers harus tetap profesional dan independen, termasuk ketika menjalankan fungsi kontrol sosial.
Sebaliknya, komunikasi yang terbuka akan membantu membangun kepercayaan publik dan mencegah kesalahpahaman,” ucapnya.
Saibansah menilai, hubungan yang sehat antara pers dan kepolisian perlu dirawat melalui komunikasi berkelanjutan, keterbukaan informasi, serta sikap saling menghormati terhadap tugas dan fungsi masing-masing.
Ia berharap Polda Kepri terus membuka ruang dialog dengan insan pers, terutama dalam penyampaian informasi mengenai persoalan hukum dan keamanan yang menjadi perhatian masyarakat.
Melalui komunikasi yang terbuka, informasi dapat disampaikan secara akurat dan berimbang, sementara hak masyarakat untuk memperoleh informasi tetap terlindungi.
Harapan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa hubungan baik antara kepolisian dan pers tidak hanya diukur dari kedekatan personal, tetapi juga dari kemampuan kedua pihak menjaga profesionalisme dalam menjalankan tanggung jawab kepada masyarakat.
Penyengat Menjadi Titik Awal
Dalam kunjungannya ke Pulau Penyengat, Suhendri juga mengajak masyarakat berperan aktif menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).
Ia membuka ruang silaturahmi dengan berbagai elemen masyarakat sebagai bagian dari upaya membangun komunikasi dan kerja sama untuk menciptakan situasi yang aman dan kondusif.
Komitmen untuk meneruskan kemitraan strategis antara Polda Kepri dan PWI Kepri turut disampaikan dalam pertemuan tersebut. Suhendri bahkan menyediakan waktu untuk menerima pengurus PWI Kepri di ruang kerjanya pada hari berikutnya.
Bagi PWI Kepri, undangan itu menjadi kesempatan melanjutkan komunikasi secara lebih formal.
Pertemuan lanjutan diharapkan dapat memperkuat koordinasi, terutama dalam membangun keterbukaan informasi dan hubungan kerja yang saling menghormati.
Setelah berbincang dan berfoto bersama, pertemuan berakhir ketika azan Zuhur mulai bergema. Para pengurus PWI Kepri kemudian bergerak menuju Masjid Raya Sultan Riau untuk menunaikan salat berjamaah.
Gubernur Kepri Ansar Ahmad yang datang kemudian turut bergabung dalam saf salat berjamaah di masjid tersebut.
Di Pulau Penyengat, perjumpaan itu meninggalkan lebih dari sekadar foto bersama. Ada kenangan lama yang kembali terbuka, cerita tentang perjalanan tugas yang terhubung dengan sejarah daerah, serta harapan agar hubungan pers dan kepolisian terus terpelihara dalam semangat komunikasi dan saling menghormati..
Dari bawah tangga masjid bersejarah itu, silaturahmi antara Kapolda Kepri dan PWI Kepri menemukan titik awal baru.
Sebuah perjumpaan sederhana yang mengingatkan bahwa kemitraan yang sehat tumbuh bukan hanya dari kedekatan, tetapi juga dari kepercayaan, keterbukaan, dan penghormatan terhadap independensi masing-masing. (bs)


