Amsakar Turun Langsung Cek Waduk Nongsa, Air Baku Menyusut 4,5 Meter

BATAM – Persoalan gangguan distribusi air bersih di wilayah Nongsa mendapat perhatian langsung dari Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam sekaligus Wali Kota Batam, Amsakar Achmad.
Senin (5/10/2026), Amsakar turun langsung ke lapangan untuk melihat kondisi sumber air baku sekaligus memastikan langkah penanganan terhadap gangguan distribusi air yang dirasakan masyarakat.
Bersama tim SPAM Batam dan jajaran Deputi BP Batam, Amsakar meninjau kondisi Waduk Nongsa yang selama ini menjadi salah satu sumber air baku bagi masyarakat di kawasan tersebut.
Dari hasil peninjauan, kondisi waduk mengalami penyusutan cukup signifikan akibat minimnya curah hujan. Kondisi itu kemudian berdampak terhadap ketersediaan air baku dan distribusi air kepada masyarakat.
“Kami bersama tim SPAM Batam dan Deputi BP Batam turun langsung ke lapangan untuk mengetahui persoalan air di Nongsa,” ujar Amsakar.
Ia menjelaskan, dalam kondisi normal, elevasi air Waduk Nongsa berada di kisaran 10 meter di atas permukaan laut. Namun, saat ini elevasinya telah mengalami penyusutan sekitar 4,5 meter.
“Waduk Nongsa terjadi penyusutan seperti itu, berdampak terhadap distribusi kepada warga yang beberapa sangat terganggu,” katanya.
Di tengah berkembangnya kawasan industri digital dan investasi data center di Batam, Amsakar menegaskan bahwa persoalan berkurangnya ketersediaan air baku di Nongsa bukan disebabkan oleh keberadaan data center maupun proyek artificial intelligence (AI).
Menurutnya, kondisi sumber air baku saat ini lebih berkaitan dengan faktor alam, terutama rendahnya curah hujan yang menyebabkan debit air waduk mengalami penurunan.
“Kekurangan ketersediaan air bukan disebabkan karena data center atau proyek AI yang masuk beberapa tahun terakhir berinvestasi,” tegas Amsakar.
Pernyataan tersebut sekaligus menepis anggapan bahwa pertumbuhan investasi digital di kawasan Nongsa menjadi penyebab utama terganggunya pasokan air bagi masyarakat.
Menghadapi kondisi tersebut, BP Batam bergerak menyiapkan langkah mitigasi agar pelayanan air bersih kepada masyarakat tetap berjalan.
Anggota/Deputi Bidang Pengusahaan BP Batam, Denny Tondano, mengatakan salah satu langkah yang dilakukan adalah memperkuat suplai melalui interkoneksi pipa dari Instalasi Pengolahan Air (IPA) Duriangkang.
“Memang kondisi sumber air baku Nongsa saat ini perlu kita sikapi bersama.
Kondisi cuaca dan curah hujan yang relatif rendah turut memengaruhi ketersediaan air baku,” jelas Denny.
Interkoneksi tersebut disiapkan untuk membantu memenuhi kebutuhan pelayanan masyarakat.
Pengaturan suplai juga dilakukan agar sumber air yang masih tersedia dapat dikelola secara optimal.
Pembangunan interkoneksi pipa berdiameter 250 milimeter dengan panjang sekitar 30 meter di Jalan Hang Lekiu, Sambau, Nongsa, dikebut dan dijadwalkan rampung pada Senin malam.
Setelah interkoneksi selesai, normalisasi aliran air ke rumah-rumah warga diperkirakan berlangsung secara bertahap mulai Selasa malam.
Sembari proses pengerjaan berlangsung, armada tangki air disiagakan di depan Polda Kepri melalui hidran pemadam. Pendistribusian air tangki kepada masyarakat juga dikawal Polsek Nongsa bersama Tim SPAM.
“Khusus wilayah Bakau Serip, Kelurahan Sambau, Nongsa dan sekitarnya, sedang disiapkan dukungan suplai dari IPAM Duriangkang. Langkah ini merupakan bagian dari upaya kami untuk memperkuat pelayanan kepada masyarakat di tengah kondisi sumber air baku Nongsa saat ini,” ujar Denny.
Denny menjelaskan, minimnya ketersediaan air baku tidak terlepas dari kondisi cuaca yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.
Berdasarkan pemantauan BMKG hingga awal Oktober 2026, fenomena El Niño masih berada pada kategori sangat kuat.
Kondisi tersebut tercermin dari nilai Southern Oscillation Index (SOI) -20,4 dan indeks Niño 3.4 sebesar +3,44 pada Dasarian I Oktober.
Fenomena El Niño cenderung membatasi pembentukan awan hujan secara luas di wilayah Indonesia. Di Batam, Waduk Nongsa menjadi salah satu waduk yang paling terdampak akibat minimnya curah hujan selama periode musim kemarau hingga Dasarian I Oktober 2026.
“Memang kondisi sekarang ini terjadi tidak hanya di Batam, melainkan juga di sebagian besar wilayah Indonesia. Ada gejala El Niño yang sangat kuat sehingga mengakibatkan banyak kekeringan meteorologis,” kata Denny.
Selain faktor alam, aktivitas perambahan dan penambangan pasir di kawasan tangkapan air juga dinilai dapat mengurangi kemampuan lahan dalam menyerap air.
Kondisi tersebut pada akhirnya berpotensi memengaruhi jumlah air yang tersimpan dan mengalir menuju waduk.
Pengaturan Suplai Dilakukan
Untuk menjaga keberlanjutan pelayanan, PT Air Batam Hilir bersama BU SPAM BP Batam akan melakukan penyesuaian pengaturan suplai air.
Langkah tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi sumber air baku Nongsa sekaligus menjaga keseimbangan sistem secara keseluruhan.
“PT Air Batam Hilir bersama BU SPAM BP Batam akan melakukan penyesuaian pengaturan suplai air untuk menjaga pelayanan dengan mempertimbangkan kondisi sumber air baku di Nongsa,” terang Denny.
Penyesuaian suplai tersebut berpotensi memengaruhi tekanan maupun waktu aliran air di sejumlah wilayah lain, khususnya pada jam pemakaian puncak.
Sejumlah wilayah yang berpotensi terdampak antara lain Batam Center, Panorama Regency, Buana Vista, Prasetya, Renggali, Bintang Raya, Bida 3, The Hill, Paragon, Bukit Palem, Pemko Sekawan, Taman Raya, BSI dan sekitarnya.
Dampak penyesuaian juga berpotensi dirasakan di kawasan Batu Aji–Sagulung, Sei Lekop dan sekitarnya.
“Penyesuaian ini merupakan langkah mitigasi untuk menjaga keseimbangan sistem secara keseluruhan. Kami akan terus melakukan pemantauan terhadap kondisi sumber air baku maupun distribusi di lapangan sehingga penanganan dapat dilakukan sesuai kebutuhan,” ujarnya..
Di tengah kondisi sumber air baku yang sedang menghadapi tekanan akibat kemarau dan El Niño, masyarakat yang aliran airnya masih terpenuhi diimbau menggunakan air secara bijak.
Masyarakat diminta menghindari pemakaian berlebihan, mengatur penggunaan air pada jam-jam puncak serta menyiapkan cadangan air secukupnya.
“Terima kasih atas pengertian, kesabaran, dan kerja sama pelanggan. Bersama, kita gunakan air secara bijak,” kata Denny.
Masyarakat juga diimbau memperoleh informasi serta menyampaikan keluhan melalui saluran resmi layanan pelanggan Air Batam Hilir.
Langkah cepat BP Batam melalui interkoneksi dari Duriangkang diharapkan dapat menjadi solusi sementara untuk menjaga pasokan air bersih, khususnya bagi masyarakat Nongsa dan sekitarnya.
Di sisi lain, peninjauan langsung Amsakar ke Waduk Nongsa menunjukkan bahwa persoalan air tidak hanya dilihat dari sisi distribusi, tetapi juga dari kondisi sumber air baku yang menjadi fondasi utama keberlanjutan pelayanan air bersih di Batam.
Saat sumber air menyusut, langkah cepat dan pengelolaan bersama menjadi kunci agar kebutuhan dasar masyarakat tetap terjaga. (bs)


