BATAM

Data Center Batam Butuh Listrik 1,47 GW, Beban Puncak Bisa Tembus 2.540 MW pada 2035

Salah satu pembangkit listrik, f-ist/hmsopln

BATAM — Di balik geliat investasi pusat data yang terus tumbuh di Batam, Kepulauan Riau, terdapat satu kebutuhan mendasar yang tak bisa ditawar: energi listrik.

Batam kini menghadapi tantangan baru untuk memastikan pertumbuhan industri data center tidak berjalan lebih cepat dibandingkan kesiapan infrastruktur kelistrikan.

Berdasarkan pemetaan Badan Pengusahaan (BP) Batam, kapasitas eksisting, komitmen, dan pipeline industri data center di Batam telah mencapai 1,47 gigawatt (GW) kebutuhan listrik berbasis IT.

Angka tersebut menunjukkan besarnya energi yang akan dibutuhkan seiring berkembangnya Batam sebagai salah satu kawasan yang diproyeksikan menjadi pusat data regional.

Bagi BP Batam, pertumbuhan investasi tidak cukup hanya ditopang oleh ketersediaan lahan dan berbagai kemudahan investasi. Infrastruktur dasar, khususnya energi, harus dipastikan siap sebelum investasi berkembang lebih besar.

Deputi Bidang Investasi BP Batam, Fary Djemy Francis, menegaskan kesiapan dan keandalan energi menjadi salah satu faktor utama dalam menjaga daya tarik Batam bagi investor.

“Setiap megawatt investasi baru harus datang bersama solusinya. Jangan sampai investasi datang lebih cepat daripada kesiapan listrik. Infrastruktur harus mendahului pertumbuhan, bukan tertinggal di belakangnya,” ujar Fary dalam keterangan resmi yang diterima di Batam, Jumat.

Pernyataan itu disampaikan Fary dalam sosialisasi Kepmen ESDM Nomor 354.K/TL.04/MEM.L/2026 tentang Tarif Tenaga Listrik PT PLN Batam.

Data Center dan Tantangan Beban Puncak
Kebutuhan listrik industri data center menjadi semakin strategis karena pertumbuhannya akan memberikan pengaruh besar terhadap sistem kelistrikan Batam secara keseluruhan.

BP Batam memetakan kebutuhan listrik data center dari kapasitas eksisting, komitmen, hingga proyek yang berada dalam pipeline mencapai 1,47 GW.

Dengan kebutuhan sebesar itu, industri data center berpotensi menjadi salah satu konsumen listrik terbesar di Batam dalam beberapa tahun mendatang.

Bahkan, pada 2029, kebutuhan listrik untuk data center diproyeksikan mulai melampaui separuh beban puncak listrik Batam.
Di saat yang sama, kebutuhan listrik Batam secara keseluruhan juga diperkirakan meningkat tajam.

PLN Batam memproyeksikan beban puncak listrik meningkat hampir tiga kali lipat, dari 841 megawatt (MW) pada 2026 menjadi 2.540 MW pada 2035.

Pertumbuhan tersebut menggambarkan perubahan skala kebutuhan energi Batam. Kawasan yang selama ini dikenal sebagai basis industri dan perdagangan semakin bergerak menuju ekonomi digital yang membutuhkan pasokan listrik dalam jumlah besar dan stabil.

Data center memiliki karakteristik kebutuhan energi yang berbeda. Operasional pusat data membutuhkan listrik secara terus-menerus untuk menjaga server, sistem pendingin, keamanan data, dan berbagai infrastruktur digital tetap berjalan.
Karena itu, gangguan pasokan bukan sekadar persoalan teknis, tetapi dapat berdampak langsung terhadap operasional dan kepercayaan investor.

Daya Mampu Pasok Disiapkan 3.691 MW
Untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan tersebut, PLN Batam merencanakan peningkatan daya mampu pasok hingga 3.691 MW.

Langkah tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan permintaan listrik dan kapasitas sistem kelistrikan Batam.

BP Batam kemudian mendorong pendekatan “Utility First, Investment Follows”.
Prinsipnya sederhana: utilitas harus dipastikan terlebih dahulu, kemudian investasi mengikuti.

Pendekatan ini sekaligus menjadi perubahan cara pandang dalam mengelola pertumbuhan investasi. Batam tidak ingin sekadar mengejar masuknya modal, tetapi memastikan setiap investasi yang datang memiliki dukungan infrastruktur yang memadai.
Ada lima prioritas yang didorong BP Batam melalui pendekatan tersebut.

Pertama, memastikan tarif listrik yang kompetitif. Kedua, memberikan jaminan pasokan energi. Ketiga, mempercepat pembangunan infrastruktur.

Keempat, memastikan ketahanan air. Kelima, mengintegrasikan setiap rencana investasi dengan kesiapan utilitas.

Kelima aspek tersebut menjadi penting karena industri data center bukan hanya membutuhkan listrik dalam jumlah besar, tetapi juga membutuhkan kepastian dan keandalan utilitas dalam jangka panjang.
Energi Menjadi Kunci Masa Depan Batam
Bagi Batam, tantangan penyediaan energi tersebut datang bersamaan dengan peluang besar untuk memperkuat posisi sebagai pusat ekonomi digital regional.

Fary mengatakan kepastian tarif dan pasokan listrik merupakan bagian penting dalam menciptakan kepastian operasional bagi investor sekaligus menjaga pertumbuhan ekonomi Batam.

“Kebijakan energi harus menghasilkan tiga manfaat sekaligus, yakni listrik yang andal dan terjangkau bagi masyarakat, kepastian operasional bagi investor, serta pertumbuhan ekonomi Batam yang berkelanjutan,” katanya.

Menurutnya, persaingan menarik investasi ke Batam ke depan tidak lagi semata-mata ditentukan oleh ketersediaan lahan maupun insentif.

Investor membutuhkan kepastian bahwa ketika fasilitas dibangun dan mulai beroperasi, seluruh kebutuhan dasarnya dapat dipenuhi.
“Keunggulan baru kita adalah kepastian, kecepatan, dan kepercayaan.

Energi harus siap agar investasi tumbuh dan Batam menjadi pusat ekonomi digital regional,” ujar Fary.

Dengan kebutuhan data center yang dipetakan mencapai 1,47 GW dan beban puncak sistem kelistrikan yang diproyeksikan mencapai 2.540 MW pada 2035, persoalan energi kini menjadi bagian penting dari perjalanan Batam menuju ekonomi digital.

Bagi BP Batam, arah kebijakannya jelas: jangan menunggu investasi datang baru infrastruktur disiapkan. Infrastruktur harus lebih dahulu siap agar investasi dapat tumbuh dengan kepastian.

Di tengah persaingan kawasan regional dalam menarik industri digital, kesiapan energi akhirnya bukan sekadar persoalan pasokan listrik. Ia menjadi bagian dari fondasi daya saing Batam di masa depan.(bs)

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *