Menembus Batas Suka dan Benci: Adab Jangan Tebang Pilih

Adab bukan sekadar hiasan kata, senyum yang dipoles, atau kesantunan yang muncul ketika berhadapan dengan orang yang kita sukai.
Adab adalah cermin kualitas jiwa yang seharusnya tetap jernih, bahkan ketika kita berhadapan dengan seseorang yang tidak menyukai kita.
Jika kesopanan hanya diberikan kepada mereka yang baik kepada kita, sementara keburukan dibalas dengan keburukan, maka adab telah berubah menjadi transaksi.
Adab sejati tidak bergantung pada siapa yang berdiri di hadapan kita, melainkan pada prinsip yang kita pegang dalam diri. Ia tetap hadir ketika kita dipuji maupun dicaci, dihormati maupun diremehkan, disukai maupun dibenci.
Sejak kecil, kita telah diajarkan adab melalui hal-hal sederhana. Orang tua mengenalkan kata tolong ketika meminta, terima kasih ketika menerima, permisi ketika melewati seseorang, serta sikap hormat kepada guru dan orang yang lebih tua.
Semua itu bukan sekadar tata krama, melainkan fondasi pembentukan akhlak. Namun, ketika dewasa, sebagian dari kita mulai mengukur adab berdasarkan kepentingan.
Kita santun kepada mereka yang memiliki jabatan, ramah kepada orang yang memberi keuntungan, tetapi mudah kehilangan kesopanan kepada mereka yang tidak kita sukai.
Seolah-olah adab hanya diperlukan ketika ada sesuatu yang ingin kita dapatkan.
Dalam ajaran Islam, adab mencakup hubungan manusia dengan Allah, sesama manusia, dan seluruh makhluk ciptaan-Nya.
Adab kepada Allah tercermin dalam ketaatan, rasa syukur, dan kesadaran untuk menjauhi larangan-Nya. Adab kepada orang tua dan guru tumbuh melalui penghormatan dan kerendahan hati.
Adab kepada sesama manusia diwujudkan dengan menjaga lisan, menahan prasangka, menghormati perbedaan, serta tidak merampas hak orang lain.
Semua itu mengajarkan bahwa kemuliaan tidak ditentukan oleh siapa yang kita hadapi, melainkan oleh bagaimana kita memperlakukan mereka. Adab bukan pakaian yang dipakai saat menghadiri acara tertentu, lalu dilepas ketika berhadapan dengan orang yang tidak kita senangi.
Di zaman digital, adab menghadapi ujian yang semakin terbuka. Kita bisa terlihat santun ketika bertatap muka, tetapi berubah menjadi kasar ketika bersembunyi di balik layar.
Kita berbicara lantang tentang pentingnya adab ketika membela orang yang kita sukai, tetapi mendadak lupa pada kesantunan ketika orang yang kita benci melakukan kesalahan.
Kita menuntut agar sahabat dan kelompok kita dihormati, tetapi merasa bebas menghina pihak lain. Adab tidak boleh menjadi senjata untuk membela kawan dan alasan untuk menghakimi lawan.
Jika kita hanya mengingat adab ketika orang yang kita sukai disakiti, tetapi mengabaikannya ketika orang yang kita benci dipermalukan, maka yang sedang kita bela bukan nilai, melainkan keberpihakan.
Di sinilah ungkapan al-adab fauqal ‘ilmi, adab di atas ilmu, menemukan maknanya.
Pengetahuan yang luas, gelar yang panjang, dan kemampuan berargumentasi tidak otomatis menjadikan seseorang mulia jika semua itu digunakan untuk merendahkan orang lain.
Lebih menyedihkan lagi ketika seseorang begitu fasih mengajarkan adab, tetapi perilakunya berubah sesuai dengan siapa yang sedang dihadapinya. Ia berbicara tentang kelembutan kepada kelompoknya, tetapi menghunus kata-kata tajam kepada orang yang berbeda pandangan.
Ia menuntut orang lain menjaga lisan, tetapi merasa dirinya memiliki hak istimewa untuk mencela. Padahal, adab bukan sekadar sesuatu yang kita ajarkan kepada orang lain, melainkan sesuatu yang pertama-tama harus kita tuntut dari diri sendiri.
Persoalan paling serius adalah adab tebang pilih. Kita mudah tersenyum kepada teman, tetapi memasang wajah sinis kepada lawan. Kita memuji orang yang mendukung kita, tetapi mencari-cari kesalahan orang yang berbeda pandangan. Dalam ungkapan pepatah Minang, “Tiba di mata dipicingkan, tiba di perut dikempeskan.”
Pepatah ini mengingatkan tentang sikap yang tidak adil: kesalahan orang lain terlihat jelas, sementara kekeliruan orang sendiri berusaha disamarkan.
Kita membela yang kita sukai meskipun keliru, tetapi menghujat yang tidak kita sukai meskipun persoalannya belum tentu benar. Inilah cermin yang perlu kita hadapi dengan jujur. Adab tidak boleh tunduk kepada selera, apalagi menjadi alat untuk melanggengkan kemunafikan.
Tidak menyukai seseorang bukan berarti kita memperoleh wild card untuk menghujat sesuka hati, menebar kebencian, apalagi memfitnah.
Tidak ada kartu bebas yang menghapus kewajiban kita untuk menjaga lisan dan menghormati kebenaran. Kita boleh tidak setuju, boleh mengkritik, boleh mengambil jarak, bahkan boleh menolak sikap seseorang dengan tegas.
Namun, jangan sampai ketidaksukaan membuat kita kehilangan akal sehat. Pepatah mengingatkan, “Semut di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak.” Kesalahan orang lain terlihat sebesar gunung, sementara kesalahan sendiri disembunyikan di balik pembelaan dan alasan.
Kritik yang lahir dari kejujuran akan mencari perbaikan, sedangkan kebencian yang tidak terkendali hanya mencari sasaran untuk dijatuhkan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Maidah ayat 8: “Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil.
Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa.” Ayat ini memberikan landasan yang tegas bahwa kebencian tidak boleh menghapus keadilan.
Bahkan terhadap orang yang kita benci, kita tetap dituntut untuk berlaku jujur, tidak memfitnah, tidak mengada-ada, dan tidak mengurangi haknya. Jangan karena kita tidak menyukai seseorang, lalu kesalahannya dibesar-besarkan, sementara kesalahan orang yang kita sukai dikecilkan atau ditutupi. Keadilan dan adab tidak boleh berubah hanya karena arah perasaan kita.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda, “Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” Hadis ini mengingatkan bahwa akhlak bukan sekadar pelengkap kehidupan beragama, melainkan bagian penting dari kualitas keimanan.
Kita tetap dapat bersikap tegas kepada seseorang yang menurut kita keliru, tetapi ketegasan tidak membutuhkan penghinaan. Kita bisa meluruskan pendapat tanpa merendahkan martabat, mengoreksi kesalahan tanpa mempermalukan, dan menyampaikan keberatan tanpa menebar fitnah.
Beradab bukan berarti membenarkan semua tindakan orang lain. Beradab berarti mampu membedakan antara mengkritik kesalahan dan membenci manusia secara membabi buta. Sebab, orang yang keliru tetap memiliki hak untuk diperlakukan secara manusiawi.
Kita perlu memahami bahwa berbicara lantang tentang adab kepada orang yang kita sukai adalah perkara mudah. Kita akan cepat marah ketika sahabat disinggung, kelompok kita dikritik, atau orang yang kita dukung diperlakukan tidak adil.
Namun, apakah kita memiliki keberanian yang sama untuk menjaga adab ketika menghadapi orang yang kita benci?
Apakah kita bersedia mengakui kebenaran dari seseorang yang tidak kita sukai? Apakah kita sanggup menahan diri untuk tidak menyebarkan tuduhan yang belum jelas hanya karena sesuai dengan kebencian kita?
Di situlah ketulusan diuji. Jangan sampai kita menjadi hakim yang membawa timbangan berbeda: satu untuk kawan, satu lagi untuk lawan. Adab yang sejati menuntut konsistensi, bahkan ketika kejujuran tidak menguntungkan pihak yang kita cintai.
Pada akhirnya, adab adalah perjalanan untuk menertibkan diri sebelum sibuk mengoreksi orang lain. Jangan sampai kita begitu fasih berbicara tentang akhlak, tetapi kasar ketika berdebat.
Jangan sampai kita menuntut keadilan bagi orang yang kita cintai, tetapi menganggap ketidakadilan terhadap orang yang kita benci sebagai sesuatu yang wajar.
Mari menjaga lisan ketika marah, memeriksa kebenaran sebelum menyebarkan tuduhan, dan berani mengakui kesalahan orang yang kita sukai maupun kebenaran dari orang yang tidak kita sukai.
Sebab, kita tidak perlu menyukai semua orang untuk tetap menghormati mereka. Kita tidak harus menyetujui semua pendapat untuk tetap menjaga adab. Jangan jadikan kebencian sebagai izin untuk menghujat, dan jangan jadikan kecintaan sebagai alasan untuk membutakan keadilan.
Sebab, kualitas adab seseorang bukan terlihat dari seberapa lantang ia menuntut adab kepada orang lain, melainkan dari seberapa konsisten ia menjaganya ketika berhadapan dengan orang yang tidak ia sukai. (*)
Penulis: Buralimar, Warga Batam


