Mata Air di Dolok Imun Muncrat Jika Keturunan Naipospos Bersatu

SEBELUM bercerita tentang isi tulisan ini, maka saya akan jelaskan dulu beberapa Bahasa Batak Toba Tulen yang akan muncul. Sehingga, pembaca lebih gampang memahaminya nanti.
MUAL : Pengertian Mual adalah, sumber atau mata air.
SUMOROP : Arwah (tondi) yang masuk ke tubuh seseorang sehingga bisa bicara dengan orang-orang di sekitarnya. Biasanya, jika seseorang dimasuki arwah karena ada hal penting yang ingin disampaikan.
HOMBAN : Sumber atau mata air yang menjadi tempat pemandian seseorang dahulu kala. Homban ini biasanya dianggap bukan tempat sembarangan dan tidak boleh bicara kotor termasuk tidak boleh melakukan perbuatan terlarang disana.
JULLAK : Ditusuk, ditancapkan. Pengertiannya, akan ditusuk atau akan ditancapkan sesuatu benda seperti tongkat, kayu atau besi.
Sumber informasi, video rekaman Baringin Lumbangaol yang diposting di akun Facebook Limson Simanungkalit. Narasumbernya atau pemandunya bernama Pahala Simanungkalit.
Nah, kembali ke inti tulisan. Pahala Simanungkalit merupakan warga Simarpinggan, yang berada di kaki gunung Dolok Imun, Hutaraja, Kecamatan Sipoholon, Taput.
Ketika Si Raja Naipospos Sumorop (memasuki) tubuh marga Hutauruk di Dolok Imun dan saat itulah pertama kali ditemukan Makam Si Raja Naipospos, disampaikan juga bahwa disana ada Mual.
Sekitar ratusan meter dari makam Si Raja Naipospos tumbuh bambu. Di bawah bambu itulah sumber mata air tersebut.
Namun, ketika Pahala Simanungkalit, Gunawan Lumbangaol, Hutauruk, Situmeang memeriksanya, airnya tidak ada lagi.
Memang, bentuknya seperti sawah. Ada batu bersusun disana yang sudah ditutupi semak belukar. Mereka sempat membersihkan areal itu dan mirip seperti pemandian zaman dulu.
Disitulah Si Raja Naipospos mandi dan mengambil air. Hal itu dikatakannya melalui Hutauruk.
Pahala sendiri saat itu masih muda. Dia mengatakan, tidak mungkin ada mata air di puncak gunung.
Si Raja Naipospos mengatakan, air itu akan muncrat jika keturunannya bersatu. “Marsada ma Hamu, asa hujullak dohot tukkot hon, kaluar ma aek sian i,” ucapnya.
“Bersatulah kalian. Akan kutancapkan tongkatku ini, maka air akan keluar,” kira-kira begitulah pengertiannya.
Memang, waktu itu dari 7 marga keturunan Si Raja Naipospos, hanya 4 marga yang ada yakni Lumbangaol, Situmeang, Hutauruk dan Simanungkalit.
Ucapan MARSADA MA HAMU yang disampaikan Si Raja Naipospos cukup dalam maknanya. Bisa jadi, ucapan ini untuk semua keturunannya. Karena, di beberapa kota, sulit menyatukan antara keturunan Si Raja Naipospos dari istri pertama dengan keturunan dari istri keduanya.
Kemudian, Makam Si Raja Naipospos tersebut tidak pernah diresmikan. Jika ingin meresmikannya, tentu semua marga dari 7 anak Si Raja Naipospos harus duduk bersama dulu membahasnya.
Hingga tahun 2026 ini, belum ada rencana untuk menyatukannya. Belum ada niat para tokoh-tokoh marga yang 7 ini duduk bersama membahasnya.
Jika keturunan Naipospos penasaran dan ingin bukti akan muncrat sumber mata air di puncak gunung itu, maka jalan satu-satunya adalah bersatu.
Mungkinkah ini pesan kepada pomparannya agar lokasi makam itu disterilkan atau dibangun Tugu Si Raja Naipospos?
Jika tempat itu hendak dipugar serta dibangun tugu, maka butuh biaya puluhan miliar. Jika itu dilakukan, maka insfrastruktur lain harus disediakan juga seperti jalan yang mulus.
Biaya puluhan miliar mungkin tidak sulit dikumpulkan. Karena dari 7 marga keturunan Si Raja Naipospos, jumlahnya kini bisa mencapai jutaan jiwa.
Bukan biayanya itu yang sulit dikumpulkan, namun ‘Hasadaon ni roha’ itu yang sulit disatukan.
Sekedar informasi, di kaki Dolok Imun tersebut terdapat Homban Jamita Mangaraja Situmeang yang dibuat dengan 4 pancuran sesuai jumlahnya anaknya 4 orang yakni Oppu Raja Lalo, Oppu Binanga Julu, Oppu Raja Naunang dan Oppu Juara Tua.
Semoga tulisan ini menjadi tambahan pengetahuan bagi keturunan Si Raja Naipospos yang 7 marga itu. Sehingga kelak mereka akan mencari atau ziarah ke makam lelulurnya.
Atau bisa jadi akan menginspirasi anak-anak muda ke depannya untuk membenahi makam itu serta menyatukan semuanya. Karena di gunung itulah Si Raja Naipospos dimakamkan.***
Oleh : Martunas Situmeang


