Makam Raja Naipospos Ditemukan Tahun 1993 di Dolok Imun Hutaraja

SETELAH ratusan tahun, akhirnya makam Si Raja Naipospos ditemukan keturunannya. Makam itu berada di puncak Dolok Imun, Kecamatan Sipoholon, Taput.
Berdasarkan penjelasan Pahala Simanungkalit, yang dikutip dari akun Facebook Limson Simanungkalit yang divideokan atau didokumentasikan Baringin Lumbangaol, makam itu ditemukan tahun 1993 atau 1994 lalu.
Adapun kronologi penemuan itu bermula saat Gunawan Lumbangaol datang ke Dolok Imun bersama marga Hutauruk. Keduanya datang dari Tarutung.
Sebagai warga yang lokal yang mengenal tempat itu, Pahala bersama seorang marga Situmeang dan adik kepala desa setempat memandu mereka naik ke gunung tersebut.
Ketika mendekati makam tersebut, tiba-tiba Tondi Siraja Naipospos (Sumorop) memasuki tubuh marga Hutauruk tersebut lalu berlari ke lokasi Hinambor (makam).
“Sahat ma tu inganan on, ima hinambor ni Oppung ta Si Raja Naipospos,”
“Sampailah di tempat ini, kuburan Oppung kita Si Raja Naipospos,” ucapnya.
Tondi (arwah) Si Raja Naipospos menunjukkan makam tersebut kepada keturunannya yakni marga Hutauruk.
Ada Keajaiban
Pahala Simanungkalit mengatakan, saat masih kecil, mereka sering naik ke Dolok Imun tersebut. Namun, mereka tidak pernah melihat dan tidak tahu ada makam disana.
“Ajaib do huida on,”
Memang, makam itu masih tanah dan berbentuk kuburan. Tentu saja bentuknya gundukan tanah saja. Sehingga, sulit bagi seseorang untuk memastikan apakah itu kuburan atau tidak.
Apalagi, makam tersebut dikeliling galian tanah. Meskipun seseorang pernah melihatnya, bisa jadi tidak menganggapnya sebagai kuburan. Bisa jadi dianggap bekas galian tanah.
Ketika pertama ditemukan, makam itu bersih dari rumput dan hanya ditutupi daun pinus yang berwarna kecokelatan. Tentu saja, makam itu tidak akan ditemukan jika arwah Si Raja Naipospos datang.
Dibangun dengan 3 Warna
Sejak ditemukannya makam Si Raja Naipospos tersebut, Gunawan Lumbangaol dan beberapa marga keturunan Naipospos pun bersatu untuk membangun makam tersebut.
Warna makam itu ada tiga yakni, hitam, merah dan putih. Warna ini bukan melambangkan satu bendera tertentu, melainkan itulah gambaran Tali Bolit (Sitolu Bolit) yang sering dipakai Si Raja Naipospos semasa hidupnya.
Tali Bolit merupakan ikat kepala tradisional khas suku Batak yang terbuat dari jalinan benang tiga warna yakni merah, hitam dan putih.
Saat itu disarankan juga agar dibuat tiga batu nisannya yakni untuk nama Si Raja Naipospos serta dua istrinya yang sama-sama Boru Pasaribu.
Namun, berdasarkan foto yang ada, hanya batu nisan Siraja Naipospos yang ada. Sedangkan di makam yang dua lagi tidak ada batu nisan.
Makam itu dibangun tiga gundukan. Si Raja Naipospos berada di tengah. Kemudian, gundukan makam di samping kiri kanannya.
Keramik paling bawah berwarna hitam, keramik bagian kedua warna merah. Sedangkan tiga makam tersebut berwarna putih. Itu melambangkan Tali Bolit yang sering dipakai Si Raja Naipospos semasa hidupnya.
Pemilihan tiga warna keramik itu atas diskusi sesama pomparan Si Raja Naipospos.
Putar Arah
Saat ditemukan, posisi makam itu di arah Dolok Toruan atau ke arah bawah gunung. Namun, sesuai kebiasaan Batak saat ini, makam dibangun mengarah ke Timur (arah matahari terbit). Bagian kepala akan menghadap ke timur.
Karena itu, dilakukan putar arah bentuk makam. Kemudian, tanah digali juga sebelum dibangun. Kemungkinan untuk menggeser sisa tanah arah mengarah ke timur.
Catatan :
- Tidak disebutkan apa tujuan awal Gunawan Lumbangaol dan Hutauruk datang ke Dolok Imun.
- Tidak disebutkan siapa saja yang ikut berpartisipasi membangun makam Si Raja Naipospos tersebut.
- Tidak diresmikan juga makam itu.
- Ada kemungkinan, tidak dibuat batu nisan di makam kiri kanan Si Raja Naipospos karena debu tanah dua istrinya tersebut belum dipindahkan kesana.
- Tidak dibuat bentuk Salib di makam tersebut karena saat itu belum masuk agama Kristen ke Tapanuli Utara. Ajaran Kristen masuk ke Taput tahun 1824. Sedangkan Si Raja Naipospos kemungkinan hidup tahun 1396-1496.
Penulis akan membuat tulisan lain dari penuturan Pahala Simanungkalit tersebut. Jika ada data yang lebih lengkap, maka bisa dikirim ke email martunas0905@gmail.com. Atau bisa berteman di akun Facebook Martunas Situmeang.***
Oleh : Martunas Situmeang


