TANJUNGPINANG

UMRAH Dampingi Masyarakat Pesisir Dompak Kelola Sampah Berbasis Ekonomi Sirkular

UMRAH Dampingi Masyarakat Pesisir Dompak Kelola Sampah Berbasis Ekonomi Sirkular.f-ist

TANJUNGPINANG — Pengabdian masyarakat dari dosen Pascasarjana Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) menunjukkan komitmennya terhadap penguatan kepedulian lingkungan di kawasan pesisir. Komitmen tersebut diwujudkan melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Pendampingan Masyarakat Pesisir Dompak dalam Pengelolaan Sampah Pesisir.”

Kegiatan tersebut mengusung pendekatan yang tidak hanya berorientasi pada kegiatan bersih-bersih pantai, tetapi juga mendorong perubahan perilaku masyarakat melalui tata kelola partisipatif, literasi pendidikan, dan ekonomi sirkular yang berkelanjutan.

Pesan utama kegiatan ini adalah membangun kesadaran bahwa persoalan sampah pesisir merupakan tanggung jawab bersama.

Masyarakat tidak ditempatkan semata-mata sebagai penerima program, tetapi sebagai bagian penting dalam merancang, menjalankan, dan menjaga keberlanjutan pengelolaan lingkungan,” ujar Dr Tety Kurmalasari kemarin di sela sela acara di Gedung Gurindam Kampus UMRAH Dompak.

Dalam materi publikasi kegiatan, PKM dosen Pascasarjana UMRAH menegaskan semangat untuk mewujudkan “Dompak yang bersih, sehat, berdaya saing, dan berkelanjutan.” Semangat tersebut diterjemahkan melalui sejumlah fokus, yakni tata kelola partisipatif, literasi pendidikan, ekonomi sirkular, Dompak bersih dan lestari, serta kolaborasi untuk menghasilkan perubahan nyata.

Dari Sampah Menjadi Potensi Ekonomi
Salah satu gagasan penting yang diangkat dalam kegiatan ini adalah pendekatan ekonomi sirkular.

Sampah yang selama ini dipandang sebagai persoalan lingkungan diarahkan untuk dilihat sebagai material yang masih memiliki nilai guna dan nilai ekonomi apabila dikelola dengan tepat.

Pendekatan tersebut dapat dilakukan melalui pemilahan sampah dari sumber, pengurangan penggunaan barang sekali pakai, penggunaan kembali material yang masih layak, hingga pengolahan sampah yang memiliki nilai ekonomi.

Bagi masyarakat pesisir, pengelolaan sampah memiliki arti strategis. “Kebersihan kawasan pantai bukan hanya berkaitan dengan kesehatan dan kenyamanan warga, tetapi juga berhubungan dengan kualitas ekosistem pesisir serta potensi pengembangan ekonomi dan pariwisata kawasan,” kata Dr Dodi Darmawan yang jadi narsum.

Membangun Kesadaran dari Masyarakat
Kegiatan pendampingan UMRAH juga memperlihatkan pentingnya literasi lingkungan.

Edukasi kepada masyarakat menjadi fondasi agar pengelolaan sampah tidak berhenti ketika sebuah kegiatan pengabdian selesai.

Perubahan yang diharapkan adalah tumbuhnya kebiasaan baru: membuang dan memilah sampah pada tempatnya, mengurangi sampah dari sumbernya, serta mengembangkan sistem pengelolaan yang dapat dilakukan secara mandiri oleh masyarakat.

Pendekatan partisipatif menjadi penting karena masyarakat lokal merupakan pihak yang berinteraksi langsung dengan lingkungan pesisir setiap hari. Dengan keterlibatan masyarakat, program kebersihan memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dalam jangka panjang.

Kampus dan Masyarakat Bersama Menjaga Pesisir
Kehadiran UMRAH di kawasan Dompak juga mempertegas peran perguruan tinggi sebagai mitra masyarakat dalam menyelesaikan persoalan lokal.

Kampus tidak hanya menjalankan fungsi pendidikan dan penelitian, tetapi juga dapat menghadirkan pengetahuan dan inovasi untuk menjawab persoalan nyata di tengah masyarakat.

Dompak memiliki posisi strategis sebagai kawasan yang berada di lingkungan pesisir Kota Tanjungpinang. Karena itu, upaya membangun kawasan yang bersih dan lestari membutuhkan kolaborasi antara perguruan tinggi, masyarakat, pemerintah, dunia usaha, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Jika dilakukan secara konsisten, pendampingan pengelolaan sampah tersebut dapat berkembang lebih jauh menjadi model pemberdayaan masyarakat pesisir yang mengintegrasikan lingkungan, pendidikan, tata kelola, dan ekonomi.

Pada akhirnya, persoalan sampah bukan sekadar persoalan bagaimana membersihkan lingkungan yang kotor.

Tantangan yang lebih besar adalah bagaimana membangun kesadaran, sistem, dan budaya baru agar sampah tidak kembali menjadi masalah.

“Melalui semangat kolaborasi, UMRAH berharap Dompak dapat tumbuh sebagai kawasan pesisir yang bersih, sehat, lestari, dan memiliki daya saing, sekaligus menjadi contoh bahwa perubahan lingkungan dapat dimulai dari masyarakat dan diperkuat oleh perguruan tinggi,” kata Tety. (*)

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *