KALAM: Kepedulian,Kebersamaan Dalam Sinergitas dan Semangat Berkolaborasi Membangun Batam Yang Maju dan Madani

Perkumpulan Kawan Lama Kota Batam, yang disingkat KALAM, lahir dari rahim sejarah panjang pembangunan Kota Batam.
KALAM bukan sekadar paguyuban untuk mengenang masa lalu, apalagi hanya tempat bernostalgia. Ia adalah rumah besar bagi mereka yang pernah datang, bekerja, berpeluh, berkarya, dan ikut meletakkan fondasi pembangunan Batam sejak periode awal 1970 hingga 1995.
Mereka menyaksikan sendiri bagaimana Batam yang dahulu masih didominasi pulau-pulau, kawasan hutan, dan permukiman sederhana, perlahan tumbuh menjadi kota industri, perdagangan, jasa, dan investasi yang memiliki posisi strategis, bukan hanya di tingkat nasional, tetapi juga dalam percaturan kawasan Asia Tenggara. Karena itu, KALAM sesungguhnya membawa sebuah modal yang tidak ternilai: pengalaman, pengetahuan, jaringan, dan ingatan sejarah tentang bagaimana sebuah kota dibangun dari keterbatasan menjadi kekuatan.
Kesadaran akan ikatan sejarah itulah yang kemudian mempertemukan para pelaku sejarah atau perintis tersebut dalam satu wadah kebersamaan.
Namun, KALAM tidak ingin berhenti pada cerita masa lalu. Sejarah justru dijadikan pijakan untuk melihat masa depan.
Semangat yang dibangun adalah sederhana tetapi kuat: apa yang dahulu telah dilakukan untuk membangun Batam, kini dilanjutkan dalam bentuk gagasan, kepedulian, pengalaman, dan pengabdian.
Untuk memastikan gerak organisasi berlangsung secara profesional, akuntabel, dan berkelanjutan, para pendiri sepakat meningkatkan status organisasi sosial Kawan Lama Batam menjadi organisasi berbadan hukum.
Komitmen tersebut dituangkan melalui Akta Pendirian Notaris Nomor 6 tanggal 18 Februari 2019 dan dikukuhkan berdasarkan Keputusan Menteri Hukum dan HAM RI Nomor AHU-0001977.AH.01.07 Tahun 2019. Sejak saat itu, organisasi ini resmi menggunakan nama Perkumpulan Kawan Lama Kota Batam.
Di balik lahirnya KALAM terdapat sembilan tokoh yang menginisiasi pembentukannya, yaitu Prof. Dr. H.M. Soerya Respationo, S.H., M.H., Hermanto M. Noor, Husbandri, H. Kasimun, Ir. H. Irsafwin Chaniago, H. Jhonni Bax, Bambang Wiyantoro, Drh. Syamsu, dan Jeffry De Jong.
Kesembilan nama tersebut bukan hanya tercatat sebagai pendiri, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan sejarah sebuah organisasi yang ingin menjadikan pengalaman masa lalu sebagai energi untuk mengajak anggota lainnya berbuat lebih banyak pada masa kini dan mendatang.
Kekuatan KALAM terletak pada keberagaman pengalaman dan kompetensi anggotanya.
Di dalamnya berhimpun tokoh dengan latar belakang yang beragam, mulai dari mantan gubernur dan wakil gubernur, mantan walikota, wakil walikota , mantan Kepala BP Batam, anggota DPD RI, anggota DPRD provinsi dan kota, pakar serta praktisi hukum, ekonom, pengusaha, mantan birokrat, hingga tokoh dan pemimpin organisasi sosial, politik, serta kemasyarakatan.
Keragaman tersebut merupakan kekuatan yang sangat berharga. Jika dipadukan dalam semangat kebersamaan, pengalaman yang panjang tidak akan menjadi sekadar catatan sejarah, tetapi dapat berubah menjadi gagasan yang bermanfaat.
Karena itu, KALAM memandang dirinya sebagai ruang berhimpun para pemikir, praktisi, dan perintis yang siap menyumbangkan waktu, tenaga, pengalaman, jejaring, dan pemikiran untuk kemaslahatan masyarakat Batam.
KALAM tidak ingin hadir sebagai kompetitor bagi siapa pun. Sebaliknya, KALAM ingin menjadi mitra, jembatan, sekaligus bagian dari ekosistem pembangunan Batam.
Sebab, pembangunan sebuah kota tidak mungkin dikerjakan oleh satu pihak saja. Pemerintah memiliki kewenangan dan kebijakan, dunia usaha memiliki kekuatan ekonomi, masyarakat memiliki energi sosial, sementara para tokoh dan perintis memiliki pengalaman serta perspektif yang dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan arah masa depan.
Atas dasar itu, gerak KALAM bertumpu pada tiga pilar utama. Pertama, sosial dan budaya, dengan fokus merawat silaturahmi, memperkuat kerukunan di tengah kemajemukan masyarakat Batam, serta ikut mengadvokasi kepentingan sosial kemasyarakatan.
Kedua, ekonomi, dengan mendorong kemandirian anggota melalui penguatan jaringan, pembentukan wadah ekonomi, serta kolaborasi usaha yang saling menguntungkan.
Ketiga, pengabdian daerah, yakni menghadirkan gagasan yang kritis, konstruktif, dan solutif untuk ikut mendorong percepatan pembangunan Batam.
Ke depan, KALAM menyiapkan langkah yang lebih luas dan multidimensi. Di bidang ekonomi, akan didorong pembentukan koperasi, unit usaha bersama, dan berbagai bentuk kolaborasi bisnis multipihak.
Di bidang seni, budaya, dan pariwisata, KALAM berkomitmen ikut merawat kekayaan budaya berbagai daerah yang hidup berdampingan di Batam sekaligus mendukung promosi destinasi wisata.
Di bidang olahraga, KALAM membuka ruang bagi kegiatan olahraga masyarakat yang tidak hanya bertujuan menjaga kesehatan dan membangun prestasi, tetapi juga mempererat persaudaraan.
Sementara itu, bidang hukum dan advokasi serta kajian strategis kemaritiman menjadi bagian penting lainnya, mengingat posisi Batam sebagai wilayah kepulauan sekaligus salah satu simpul perdagangan dan pelayaran internasional.
Perhatian KALAM juga diarahkan pada berbagai persoalan lintas sektor, termasuk ketenagakerjaan, properti dan perumahan, pemberdayaan perempuan, hubungan antarlembaga, kerohanian melalui Majelis Babul Khoirot, serta pemanfaatan media sosial dan ekosistem digital.
Semua itu diarahkan agar organisasi tidak hanya aktif di ruang pertemuan, tetapi juga mampu melahirkan kegiatan nyata yang manfaatnya dapat dirasakan masyarakat.
Yang paling penting, seluruh langkah tersebut dibangun dengan semangat kolaborasi. KALAM tidak datang untuk mengambil ruang siapa pun.
KALAM datang untuk mengisi ruang yang dapat diperkuat bersama. Kritik akan ditempatkan sebagai masukan, gagasan sebagai bahan dialog, dan perbedaan pandangan sebagai bagian dari proses menemukan jalan terbaik. Sebab, kepedulian terhadap Batam tidak harus selalu diwujudkan dengan cara yang sama.
KALAM siap berdiri berdampingan dengan Pemerintah Kota Batam, Badan Pengusahaan Batam, Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau, Forkopimda, dunia usaha, perguruan tinggi, organisasi kemasyarakatan, tokoh masyarakat, dan seluruh elemen pembangunan lainnya. Semuanya berada dalam satu koridor: kebersamaan, sinergi, dan kolaborasi untuk menghadirkan Batam yang semakin maju, sejahtera, berdaya saing, dan madani.
Para perintis Batam mungkin telah melewati masa paling berat dalam perjalanan pembangunan kota ini.
Namun, pengabdian tidak mengenal kata selesai. Ketika usia bertambah, tenaga mungkin tidak lagi seperti dahulu, tetapi pengalaman justru semakin matang.
Di situlah KALAM menemukan maknanya: mengubah pengalaman menjadi teladan, jejaring menjadi kekuatan, dan kepedulian menjadi pengabdian.
Dalam waktu dekat, KALAM akan memasuki babak baru melalui acara pengukuhan resmi.
Panitia telah terbentuk dan tengah mempersiapkan momentum tersebut dengan sungguh-sungguh. Pengukuhan ini dirancang bukan sekadar seremoni organisasi, melainkan sebagai momentum memperkenalkan semangat baru para perintis untuk kembali mengambil bagian dalam perjalanan Batam.
Para pemangku kepentingan daerah akan diundang, mulai dari Gubernur Kepulauan Riau, Wali Kota / Wakil Walikota Batam sekaligus Kepala / Wakil Kepala BP Batam, jajaran Forkopimda Kepri dan Kota Batam, hingga tokoh masyarakat, tokoh adat, dan pimpinan berbagai organisasi sosial kemasyarakatan.
Kehadiran mereka diharapkan menjadi simbol bahwa pembangunan Batam adalah pekerjaan bersama yang membutuhkan keterlibatan semua pihak.
Pada akhirnya, KALAM bukan tentang siapa yang paling berjasa pada masa lalu. Bukan pula tentang siapa yang paling memiliki pengalaman.
KALAM adalah tentang bagaimana seluruh pengalaman tersebut dapat dipersembahkan kembali untuk masa depan.
Batam telah tumbuh besar karena kerja keras banyak orang. Kini, tantangannya adalah bagaimana menjaga pertumbuhan itu agar semakin berkualitas, inklusif, berkelanjutan, dan memberi manfaat seluas-luasnya bagi masyarakat.
Para perintis telah menanam. Generasi berikutnya melanjutkan. Dan KALAM ingin menjadi salah satu bagian dari mata rantai itu.
Karena membangun Batam bukan pekerjaan satu generasi, melainkan amanah bersama.
Dengan pengalaman sebagai bekal, persaudaraan sebagai kekuatan, dan kolaborasi sebagai jalan, KALAM siap mengambil bagian untuk terus menjaga, mengawal, dan ikut membangun Batam yang lebih maju dan madani, untuk Kepulauan Riau dan untuk Indonesia. ***
Penulis Buralimar, Warga Batam


