Situmeang ‘Dilarang’ Menikahi Boru Siahaan Hinalang

SITUMEANG merupakan ‘Mataniari Biccar’ (Matahari terbit) bagi keturunan Siahaan Hinalang. Karena istri Siahaan Hinalang adalah Boru Situmeang dari Pasar Sirongit, Kecamatan Sipoholon, Taput.
Hingga saat ini, marga Siahaan Hinalang maupun Boru Siahaan Hinalang selalu memanggil Tulang (Paman) apabila bertemu dengan marga Situmeang serta diperlakukan dengan hormat dan penuh kasih sayang.
Hal itu sudah dilakukan mereka mungkin 3-4 abad ini. Tahun 2026 ini, marga Siahaan Hinalang dan Boru Siahaan Hinalang masih menjaga kekerabatan itu.
Di satu sisi, marga Situmeang DISARANKAN bahkan DILARANG menikah dengan Boru Siahaan Hinalang karena dianggap Ito-nya. Beda dengan marga Siahaan Hinalang yang Marpariban dengan Boru Situmeang.
Ada yang mengatakan, jika marga Situmeang menikah dengan Boru Siahaan Hinalang maka kelak rumah tangga mereka tidak bahagia atau anaknya akan cacat atau ‘Tidak Gabe’.
Mungkin, karena larangan atau ‘Cerita Menakutkan’ itulah jarang marga Situmeang menikah dengan Boru Siahaan Hinalang.
Ada juga yang mengatakan, Situmeang dan Siahaan Hinalang sudah MARPADAN sejak dulu. Sehingga, marga Situmeang tidak boleh menikah dengan Boru Siahaan Hinalang.
Terkait informasi ini belum diketahui apa benar atau tidak. Bisa saja informasi ini muncul karena marga Situmeang disarankan/dilarang menikah dengan Boru Siahaan Hinalang, sehingga dianggap Marpadan.
Kisah Nyata
Sekitar 30 tahun lalu, penulis pernah mendengar kisah nyata di Silangkitang, Sipoholon. Dimana, seorang marga Situmeang yang merantau ke Jakarta hendak menikah dengan Boru Siahaan.
Kabar itu pun diberitahukan kepada Bapa Udanya yang kerja di Kantor Bupati Taput melalui telepon. Saat itu, ponsel belum ada dan telepon juga sangat jarang ada di rumah penduduk kecuali kantor-kantor.
Bapa Udanya pun memberitahukan kabar baik itu kepada ayah si Pangoli. Orangtuanya langsung marah karena disebut Boru Siahaan dari Balige.
“Si Loak Do i, nga nidok dang boru mangalap Boru Siahaan Hinalang,”
“Bodoh, udah dikasi tahu tak bisa menikahi Boru Siahaan Hinalang,”
Besoknya, Bapa Udanya menghubungi si Pangoli agar tidak menikahi Calon Parumaenna tersebut karena dilarang.
Ternyata, calon istri si pangoli bukan Boru Siahaan Hinalang. Sebab, Siahaan Somba Debata memiliki tujuh anak dan calon istrinya itu merupakan boru dari enam Siahaan lainnya.
Harus Dijaga
Tradisi hubungan Situmeang dan Siahaan Hinalang harus terus dijaga dan diceritakan kepada anak, cucu secara turun temurun agar tidak hilang di kemudian hari.
Sebab, hubungan ini sudah terjadi ratusan tahun. Mungkin 350-400 tahun lalu, hubungan itu terjalin hingga saat ini.
Penulis sendiri sudah mendapatkan informasi itu ketika masih duduk di bangku STM (SMK saat ini). Namun saat masih di kampung belum pernah bertemu Siahaan Hinalang.
Penulis baru bertemu marga SIahaan Hinalang sejak merantau ke Medan, Batam dan kini tinggal di Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepri.
Siahaan Hinalang dan Boru-nya sering membuat rasa haru atas perlakuan mereka. Dan ucapan ‘Tangiang Muna i Ma Tulang’ selalu terngiang. Ini menandakan betapa mereka merindukan doa dari tulangnya.
“Olo Tahe, Tung Naburju Ma Siahaan Hinalang On Na Martulang I”
Catatan :
- Informasi Situmeang marpadan dengan Siahaan Hinalang mungkin hanya pendapat pribadi seseorang saja.
- Marga Situmeang menikah dengan Boru Siahaan Hinalang memang ada, meski sangat jarang. Di Tanjungpinang sendiri kejadian itu tidak ada diantara 17 KK marga Situmeang yang ada.
- Jika ada informasi lebih lengkap tentang tulisan ini akan kami muat ulang atau edit kembali.
Oleh : Martunas Situmeang


