Kisah Boru Sohatudosan Situmeang dengan Siahaan Hinalang

SIAHAAN Hinalang termasuk Boru-nya selalu menaruh rasa hormat setiap kali bertemu dengan marga Situmeang dan borunya.
Bahkan itu sudah mereka lakukan selama ratusan tahun dan hingga kini masih terus terjaga.
Sangat jarang atau nyaris tidak ada marga Siahaan Hinalang yang cuek atau sombong jika bertemu dengan Situmeang. Mereka pasti memanggil Tulang dan itu dilakukan dengan tulus.
Penulis sendiri merasakan itu puluhan tahun belakangan ini. Bahkan, banyak pengalaman mengesankan setiap kali bertemu dengan marga Siahaan maupun Borunya.
Sehingga, Situmeang dan Siahaan Hinalang dan borunya akan selalu merasa senang dan bahagia setiap kali bertemu. Karena ada perlakukan yang beda, kasih sayang dan kedekatan.
Sikap sopan, santun, ramah, bahagia dan senang kadang tidak tergambarkan suasananya setiap kami bertemu mereka. Ini suatu kebanggaan dan akan terus demikian.
Keturunan (Pomparan) Siahaan Hinalang maupun keturunan Situmeang mengetahui kenapa hubungan itu sangat dekat. Hal itu karena diturunkan atau diceritakan dari generasi ke generasi.
Cerita lintas generasi inilah yang membuat hubungan tersebut terjaga hingga saat ini. Sebab, jika ditelisik dari sejarah, bahwa hubungan Situmeang dengan Siahaan mulai terjadi di generasi ke-4 Situmeang dan generasi ke-3 Siahaan Somba Debata.
Kenapa Siahaan Hinalang selalu memanggil Tulang kepada marga Situmeang? Hal itu karena Siahaan Hinalang memperistri Boru Situmeang. Sehingga, Situmeang merupakan MATA NI ARI BISSAR bagi Siahaan Hinalang.
Namun, dari seluruh anak Siahaan Somba Debata (jika tidak salah anaknya ada 7 orang), hanya Siahaan Hinalang saja yang demikian. Karena anaknya yang lain juga memiliki Mata Ni Ari Bissar masing-masing.
Boru Situmeang Sotudosan
Tidak diketahui siapa nama Boru Situmeang yang menikah dengan Siahaan Hinalang. Sebab, dia merupakan generasi ke-4 Situmeang. Belum ada buku atau pena saat itu. Apalagi dalam budaya Batak, Boru tidak dituliskan dalam silsilah keturunannya.
Boru Situmeang yang menikah dengan Siahaan Hinalang merupakan cucu Situmeang Ompu Raja Lalo (Siakkangan) dari anaknya Guru Solonggahon yang tinggal di daerah Sipoholon.
Orangtua Boru Situmeang ini diceritakan sangat miskin. Akhirnya kaya raya setelah borunya menikah. (Baca cerita selanjutnya).
Dibuang Karena Lahir Kembar Cowok dan Cewek
Saat masih muda, penulis pernah mendengar cerita bahwa Boru Situmeang Sotudosan merupakan anak yang lahir kembar. Dan kembarannya adalah cowok.
Dalam Batak disebut kembar Marporhas atau biasa disebut kembar fraternal atau tidak identik (laki-laki dan perempuan).
Saat mereka mulai beranjak dewasa, si Boru Tudosan dan kembarannya semakin dekat. Sehingga, orangtuanya tidak menginginkan hubungan mereka makin dekat dan bisa membuat malu nantinya.
Karena itulah, orangtuanya memutuskan untuk memisahkan mereka berdua. Dia pun menyuruh orang-orang mengantar Boru Situmeang ke daerah Balige. Sedangkan saudaranya diantar ke daerah Sibolga.
Saat itu belum ada jalan dan pemukiman penduduk pun masih jarang. Mereka harus melewati hutan. Jadi perjalanan mereka sangat jauh dan banyak binatang buas yang harus dihindari di hutan.
Pesta 7 Hari untuk Mencari Calon Istri Siahaan Hinalang
Di Balige, Siahaan Somba Debata sudah berkali-kali meminta anaknya Siahaan Hinalang untuk menikah. Namun anaknya tersebut mengaku belum punya calon istri.
Karena alasan itu, Siahaan Somba Debata dan istrinya sepakat untuk membuat pesta 7 hari 7 malam dengan mengundang semua gadis-gadis dari berbagai kampung.
Pesta itu dikabarkan sangat meriah. Banyak gadis desa datang ke pesta tersebut dan berharap anaknya raja yakni Siahaan Hinalang jatuh cinta.
Berkali-kali Raja dan istrinya mendampingi Siahaan Hinalang untuk bertemu dengan para gadis-gadis tersebut serta menyuruh untuk memilih, namun satu pun tidak ada yang menyentuh hatinya.
Di hari terakhir pesta, Siahaan Hinalang pun meminta maaf kepada kedua orangtuanya karena belum bisa menikah. Sebab, tidak ada satu pun diantara gadis-gadis itu yang memikat hatinya.
Cinta Pada Pandangan Pertama di Hutan
Siahaan Hinalang disebut gemar berburu di hutan. Bahkan dia berkali-kali ikut menemani sang Raja berburu ke hutan.
Suatu hari, Siahaan Hinalang dan pendamping (pengawalnya) pergi berburu ke hutan. Mereka semakin dalam masuk ke tengah hutan dan tiba-tiba dia kaget hingga jantungnya berdebar kencang.
Siahaan Hinalang melihat seorang wanita berpakaian putih. Parasnya sangat cantik. Kulitnya putih. Gadis itu bagaikan bidadari.
Semakin lama dipandangi, Siahaan Hinalang merasakan sesuatu yang beda di hatinya. Tanpa disadarinya, cinta telah tumbuh.
Akhirnya Siahaan Hinalang datang mendekat lalu menyapa wanita tersebut. Setelah berbincang, Siahaan Hinalang pun membawa pulang wanita tersebut.
Tidak Diberitahu Boru Apa
Saat perkenalan di hutan itu, Boru Situmeang tersebut tidak memberitahu siapa dia sebenarnya. Sehingga, Siahaan Hinalang yakin, Boru Situmeang ini titipan Debata Mula Jadi Nabolon yang tidak memiliki marga, tidak memiliki orangtua.
Sesampainya di rumah, Siahaan Hinalang tidak langsung mengenalkannya kepada sang Raja dan keluarganya. Dia menitipkan Boru Situmeang tersebut di rumah warga lainnya.
Turun Dari Langit
Ternyata Boru Situmeang tersebut juga merasakan hal yang sama dengan Siahaan Hinalang. Dia juga jatuh hati pada pria putra raja tersebut. Kebaikan dan kegagahannya membuatnya jatuh cinta.
Karena itulah, Boru Situmeang tersebut bersedia diajak menikah. Kabar baik itu pun disampaikan Siahaan Hinalang kepada ayahnya Siahaan Somba Debata.
Dia meminta ayahnya untuk mengundang banyak tamu di hari pernikahannya nanti. Orangtuanya sempat ragu, sebab, Siahaan Hinalang sendiri belum mengenalkan calon istrinya kepada mereka.
Namun Siahaan Hinalang meyakinkan orangtuanya, bahwa calon istrinya akan turun dari langit. Merasa senang mendengarnya, pesta pun dilakukan.
Mereka semua menyambut kedatangan mempelai perempuan yang turun dari atas dengan pakaian yang indah. Semuanya merasa heran dan sangat yakin bahwa gadis itu memang diturunkan dari langit.
Parasnya sangat cantik dan menawan. Banyak yang mengatakan, Siahaan Hinalang sangat beruntung dapat istri yang turun dari langit.
Pesta pun dilakukan meski tanpa kehadiran orangtua si mempelai perempuan. Sebab, Siahaan Hinalang mengatakan, bahwa istrinya itu turun dari langit. Tidak memiliki orangtua.
Anak Pertama Sakit
Sekitar satu tahun kemudian, si Boru Tudosan melahirkan anak pertama mereka. Namun kondisi kesehatannya kurang baik.
Raja dan Siahaan Hinalang sudah berkali-kali memanggil orang pintar untuk mengobati anak tersebut, namun tidak satu pun yang berhasil.
Bahkan kondisi si anak makin memprihatinkan. Pihak Siahaan pun sudah galau. Utusan sudah disebar ke berbagai tempat untuk mencari orang pintar yang lebih kuat agar bisa mengobatinya.
Akhirnya mereka mendatangkan satu orang pintar. Setelah melihat penyakit dan kondisi si anak, orang pintar tersebut mengatakan, penyakit itu hanya bisa sembuh jika kepala si anak dipegang pamannya (Tulang)-nya.
Sontak saja mereka semua kaget mendengar itu. Sebab, Si Boru Tudosan tidak memiliki keluarga apalagi Ito (saudara laki-laki). Sebab, dia turun dari langit. Dan itu juga pengakuan si Boru Tudosan kepada suaminya saat pertama kali bertemu di hutan.
Si Boru Tudosan Akhirnya Mengaku
Si Boru Tudosan pun langsung menangis sejadi-jadinya setelah mendengar perkataan orang pintar tersebut. Selama ini dia telah bersalah karena berbohong kepada suaminya dan keluarga raja.
Dia tidak tahan lagi menahan penderitaannya itu apalagi melihat kondisi anaknya yang sakit dan tidak sembuh-sembuh.
Saat itulah dia mengatakan bahwa dirinya bukan turun dari langit. Dia sendiri merupakan Boru Situmeang. Dia lahir dan dibesarkan di kampungnya di Kecamatan Sipoholon, Taput.
Dia memiliki beberapa orang Ito yang masih ada di Sipoholon. Dia dibuang orangtuanya ke hutan itu karena Tubu Marporhas (lahir kembar laki-laki dan perempuan).
Dia bertahan hidup di hutan itu hingga akhirnya bertemu dengan Siahaan Hinalang yang saat itu berburu di hutan.
Melihat kesedihan Boru Situmeang tersebut, Siahaan Hinalang dan keluarga raja bukannya membencinya. Mereka malah senang mendengarnya.
Bahkan pihak keluarga Siahaan ingin segera bertemu dengan Hula-Hulanya serta akan membawa anak itu agar dipegang Tulangnya.
Bawa Kerbau ke Sipoholon
Raja Siahaan Somba Debata yang terkenal memiliki tanah yang luas dan banyak ternak itu pun langsung mempersiapkan keberangkatan mereka menuju Sipoholon.
Bahkan, saking senangnya, Raja dan Siahaan Hinalang membawa setengah dari ternak mereka untuk hadiah bagi keluarga Situmeang.
Rombongan mereka pun berangkat ke Sipoholon menyusuri hutan. Mereka menuntun banyak ternak ke Sipoholon hingga semak-belukar di sepanjang jalan yang mereka lalui rata dengan tanah.
Sungai Sigeaon Keruh
Setelah berhari-hari melalui hutan, akhirnya mereka sampai di Sipoholon. Ratusan ekor kerbau mengikut dari belakang.
Bahkan diceritakan, Aek Sigeaon (Sungai Sigeaon) sampai keruh saking banyaknya kerbau yang mandi di sungai tersebut.
“Pola do sappe litok Aek Sigeaon sun alani godang ni horbo na binoan ni Siahaan mandapothon hula-hulana Situmeang,” songoni ma cerita i.
“Air di Sungai Sigeaon sampai berkeruh saking banyaknya kerbau yang dibawa Siahaan untuk menemui Hula-Hulanya Situmeang,” demikian penggalan cerita tersebut.
Di Sirongit Sipoholon
Adapun rumah orangtua Si Boru Tudosan Situmeang tersebut ada di Sirongit Sipoholon. Posisinya berada di samping SMPN 1 Sipoholon atau belakang Kantor Camat Sipoholon saat ini.
Jarak rumah tersebut dengan Sungai Sigeaon sekitar 300-400 meter. Jika membayangkan kondisinya ratusan tahun silam, itu artinya belum ada jalan raya saat itu dan masih hutan.
Warga yang melihat itu pun heran siapa raja yang datang ke kampung itu dan untuk apa membawa kerbau sebanyak itu.
Kabar kedatangan Siahaan Hinalang pun dengan cepat tersiar. Mereka bertanya-tanya untuk siapa kerbau sebanyak itu akan diserahkan.
Mendadak Kaya
Orangtua Boru Situmeang Sotudosan diceritakan keluarga yang sangat miskin. Rumahnya kecil hanya beberapa meter persegi terbuat dari kayu dan atap ilalang.
Jika hujan turun, rumah orang ini selalu dipenuhi air. Hanya ada satu tikar yang sudah lusuh. Bahkan pakaian mereka pun disebutkan hanya satu saja serta sarung (mandar).
Jika hendak keluar rumah, suami istri itu tidak bisa keluar bersamaan karena tidak memiliki pakaian. Pakaian itulah yang gantian mereka pakai.
Sehingga, ketika rombongan Siahaan datang ke rumah itu, mereka malu dan tidak berani keluar.
Setelah didatangi Boru Situmeang Sotudosan dan memberitahukan bahwa dia yang datang, barulah orangtuanya mengaku tak berani keluar rumah karena tak memiliki pakaian.
Mungkin saat itu pihak Siahaan juga membawa pakaian lalu diserahkan ke mereka. Setelah mengenakan pakaian lengkap, mereka pun keluar rumah.
Boru Situmeang Sotudosan pun menceritakan perjalanan hidupnya hingga menyerahkan anak bayinya kepada orangtuanya untuk digendong.
Orangtuanya pun menangis sejadi-jadinya. Rasa senang, rasa haru, rasa bersalah bercampur aduk.
Lalu dipanggil lah Situmeang yang merupakan paman dari si bayi tersebut untuk memberi ulos kepada Bere (keponakan) serta menggunting rambutnya.
Ternak yang dibawa itu pun diserahkan Siahaan Hinalang kepada orangtua si Boru Situmeang Sotudosan. Sejak saat itu mereka langsung mendadak kaya.
Pengertian Sotudosan
Sotudosan atau So Hatudosan merupakan Bahasa Batak yang memiliki arti So = Tidak, Tudosan = Tertandingi. Jadi Sotudosan atau So Hatudosan artinya, tidak tertandingi.
Yang dimaksud disini tidak tertandingi bukan karena kepintarannya atau ilmunya tinggi. Melainkan kecantikannya yang tidak tertandingi.
Begitulah istilah yang melekat kepada Boru Situmeang tersebut untuk menggambarkan bahwa dia benar-benar sangat cantik.
Tidak tertandingi, bisa jadi Siahaan Hinalang menganggap bahwa kecantikannya belum bisa ditandingi gadis lain yang pernah dilihatnya selama ini.
Padahal, cantik itu relatif tergantung seseorang yang melihatnya. Namun, ini satu gambaran betapa Siahaan Hinalang sangat menyayangi Boru Situmeang tersebut hingga disebut Si Boru Sotudosan.
Leher Merah Saat Makan Sirih
Diceritakan juga, bahwa Boru Situmeang Sotudosan ini orangnya sangat putih dan bersih kulitnya. Bahkan, jika makan daun sirip (Marnapuran), airnya yang warna merah nampak melewati lehernya saat hendak ditelan.
Sebagaimana kita ketahui, Marnapuran salah satu kebiasaan kaum perempuan Batak zaman dulu. Hampir di setiap perkampungan Batak selalu ditanam sirih.
Selain untuk obat, Sirih juga menjadi lalapan untuk kaum perempuan Batak baik itu Namarbaju (gadis) terutama ibu-ibu dan nenek-nenek (Oppung-oppung).
Mungkin saja air Napuran yang warna merah itu tidak terlihat saat ditelan Boru Situmeang Sotudosan. Namun itu jadi perumpamaan saking putihnya kulit si Boru Situmeang Sotudosan tersebut.
Siahaan Hinalang Lambat Menikah
Jika tidak salah, Siahaan Hinalang merupakan anak kedua atau anak ketiga Siahaan Somba Debata. Usianya sudah cukup matang saat menikah.
Karena Siahaan Hinalang tidak menikah juga, desakan dari adek-adeknya pun berdatangan. Sebab, usia mereka juga sudah matang.
Namun, karena abangnya belum ada jodoh, akhirnya adik-adiknya pun harus menunggu. Karena itulah orangtuanya mendesak Siahaan Hinalang untuk segera menikah.
Bahkan raja Siahaan melakukan pesta Naposo untuk mencari jodoh buat anaknya.
Mungkin, aturan adat dulu, si adekan tak bisa menikah sebelum abangnya. Tidak bisa mendahului abangnya. Atau dalam bahasa Batak disebut, Tokka Mangalakkai Hahana.
Aturan ini sebenarnya masih berlaku sampai saat ini. Namun dulu sangat ketat apalagi Siahaan Somba Debata orang terpandang di zaman itu dan tentu saja menjaga adat istiadat tersebut.
Jadi keluarga Siahaan pastilah sangat senang ketika Siahaan Hinalang sudah menemukan jodohnya karena dengan demikian, adik-adiknya sudah dapat restu untuk menikah.
Yang jelas, kebaikan Raja Siahaan Somba Debata dan keluarga serta kebaikan Siahaan Hinalang kepada hula-hulanya memang sudah terlihat sejak awal dan itu sudah pasti ratusan tahun lalu.
Perkiraan Waktu
Disebutkan bahwa Boru Situmeang Sotudosan merupakan generasi ke-4. Jika satu generasi ke generasi lainnya beda usia 25-30 tahun, maka kejadian ini sekitar :
A. Saat ini pomparan Situmeang Jamita Mangaraja sudah No.19. Jika dari generasi ke-4 hingga saat ini (tahun 2026), maka kejadian itu sekitar 450 tahun silam jika beda usia 30 tahun
B. Jika beda usia 25 tahun, maka kejadian itu sekitar 375 tahun lalu.
Dilihat dari jumlah tahun tersebut, betapa bersyukurnya pihak Situmeang memiliki hubungan baik dengan Siaahaan Hinalang yang saat ini masih terus terjaga.
Jadi, kita marga Situmeang harus sadar juga, tidak ada marga lain yang memperlakukan kita seperti itu. Karena itu, tetaplah kita doakan mereka.
Karena dalam beberapa kali bertemu dengan Siahaan Hinalang, kita takkan dibiarkan membayar kopi sendiri. Yang mereka harapkan hanya satu, Doa dari Tulangnya.
“Pasu-pasu dohot tangiang i ma tulang,” begitulah beberapa kali mereka meminta.
Catatan :
- Cerita ini turun temurun dan cerita ini penulis dengar dari pihak Situmeang
- Mungkin, cerita ini bisa beda versi di Balige atau hampir sama
- Ratusan tahun lalu belum ada buku untuk menuliskan nama-nama dan tahun kejadian, sehingga hanya kisah (cerita) saja yang diturunkan dari generasi ke generasi
- Cerita ini bukan untuk diperdebatkan, namun lebih memaknai kisahnya saja bagaimana Siahaan Hinalang sangat menyayangi dan menghormati seluruh Situmeang di seluruh dunia hingga saat ini.
Oleh : Martunas Situmeang


