OLAHRAGA

MADE IN INDONESIA! BOLA RESMI PIALA DUNIA 2026 CANGGIH, AKURAT, DAN BEBAS REMOTE

BATAM – Kebanggaan besar datang dari Indonesia untuk Piala Dunia 2026. Bola resmi yang akan digunakan pada turnamen tersebut yang bernama Adidas Trionda ternyata diproduksi di Indonesia, tepatnya di Kabupaten Madiun, Jawa Timur.

Bola resmi Piala Dunia 2026 Trionda diproduksi di Kabupaten Madiun oleh PT Global Way Indonesia yang berlokasi di Desa Kedungrejo, Kecamatan Pilangkenceng. Sebagian proses pendukung juga melibatkan fasilitas di Majalengka, Jawa Barat.

Ini melanjutkan tradisi sebelumnya, di mana bola Al Rihla untuk Piala Dunia 2022 juga dipercayakan kepada manufaktur Indonesia.

Kepercayaan dari merek global seperti Adidas ini menjadi bukti bahwa kualitas pengerjaan, presisi, dan standar akurasi tenaga kerja Indonesia telah diakui di level tertinggi sepak bola dunia.

Di tengah kebanggaan tersebut, beredar isu yang membuat banyak orang salah paham, yaitu kabar bahwa bola Piala Dunia dilengkapi remote control dan bisa dikendalikan dari jarak jauh untuk mengatur hasil pertandingan.

Kabar tersebut tidak benar sama sekali. Bola sepak tidak memiliki mesin penggerak, baling-baling, atau sistem kemudi di dalamnya.

Secara fisik mustahil sebuah bola dengan berat sekitar 420 gram bisa dibelokkan secara gaib dari tribun atau ruang kontrol tanpa terlihat.

Jika memang ada motor dan baterai sebesar itu di dalam bola, keseimbangan, pantulan, dan rasa tendangannya akan langsung terasa aneh oleh pemain profesional.

Hal yang sering disalahpahami sebagai remote sebenarnya adalah teknologi bola pintar yang memang sengaja ditanam di dalam bola.

Trionda dilengkapi dengan sensor pintar berbasis AI yang terhubung langsung ke ruang VAR.

Sensor tersebut bernama Inertial Measurement Unit atau IMU. Sensor ini digantung dengan sistem suspensi khusus tepat di titik tengah bola agar tetap stabil meski bola ditendang sangat keras.

Tugasnya bukan menggerakkan bola, melainkan hanya mencatat dan mengirim data.

Sensor IMU ini bekerja dengan merekam data pergerakan bola secara real time hingga 500 kali per detik.

Menurut data FIFA, sensor ini beroperasi pada frekuensi 500Hz, yang berarti mampu menangkap dan mengirimkan data sebanyak 500 kali per detik.

Data yang dikirim berupa kapan bola disentuh, seberapa cepat bola melaju, ke arah mana bola berputar, dan kapan tepatnya terjadi benturan.

Data tersebut kemudian digabungkan dengan kamera pelacak di stadion dan kecerdasan buatan untuk membantu wasit. Karena itulah bola ini mampu memberikan data real time untuk diberikan kepada ofisial pertandingan.

Manfaat utamanya ada dua. Pertama untuk sistem offside semi otomatis, yaitu menentukan titik waktu bola ditendang dengan akurasi milidetik sehingga garis offside bisa ditarik lebih tepat.

Kedua untuk membantu keputusan gol, termasuk mendeteksi apakah bola sudah sepenuhnya melewati garis atau ada sentuhan tipis yang tidak terlihat kamera.

Contoh kasusnya seperti saat teknologi connected ball dipakai untuk memastikan tidak ada sentuhan pemain pada bola saat terjadi gol. Fungsinya murni sebagai saksi elektronik yang jujur, bukan sebagai alat yang mengendalikan jalannya bola.

Lalu mengapa bola ini harus dicas sebelum pertandingan sehingga terlihat seperti perangkat elektronik yang dikendalikan remote.

Jawabannya sederhana, karena di dalam bola memang ada komponen elektronik aktif.

Sensor IMU, chip pemancar data, dan baterai kecil di dalamnya membutuhkan daya.

Pengisian daya dilakukan sebelum laga melalui port khusus, mirip seperti mengisi daya ponsel, dan setelah penuh bola akan aktif mengirim data selama pertandingan.

Setelah daya habis, fungsinya kembali menjadi bola biasa tanpa data. Jadi dicas bukan berarti diisi perintah untuk belok kiri atau kanan, melainkan diisi tenaga agar sensornya bisa bekerja mencatat.

Isu remote control biasanya muncul dari potongan video yang memperlihatkan proses charging atau animasi cara kerja sensor yang kemudian diberi narasi yang menyesatkan.

Di era media sosial, istilah bola pintar dan bola dicharge sangat mudah dipelintir menjadi bola diremote.

Padahal sistem ini justru dibuat untuk membuat sepak bola lebih adil dan transparan, bukan untuk mengatur hasil.

Dengan memahami cara kerjanya, kita bisa lebih bangga bahwa produk buatan tangan pekerja Indonesia yang dibuat di Madiun untuk panggung dunia ini membawa teknologi canggih yang membantu wasit mengambil keputusan paling sulit dalam sepak bola modern, dan sepenuhnya tetap bergantung pada skill pemain di lapangan. (*)

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *